• Sun, 21 April 2019
15 Apr
ASPAL ALTERNATIF : Antara Limbah baja, karet, dan skrap plastik
Annisa S. Rini Jumat, 12/04/2019 02:00 WIB



Bisnis, JAKARTA – Limbah baja, karet, dan skrap plastik sebagai bahan tambahan pembuatan aspal telah diwacanakan. Dua tujuan ingin dicapai, meningkatkan kualitas aspal dan harga komoditas tersebut. Namun, pengsgunaan bahan alternatif tersebut belum kunjung direalisasikan secara massal.

Iron and Steel Industri Association (IISIA) menyatakan penggunaan limbah baja atau slag dalam pembuatan jalan akan membuat kualitas jalan lebih kuat dan tahan lama. Namun, slag baja termasuk dalam limbah berbahaya dan limbah beracun berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) no. 101/2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beraacun.

Dalam P tersebut, dalam pasal 31 ayat 3 poin a dijelaskan bahwa limbah B3 merupakan segregasi oli bekas dengan minyak kotor (slope oil) dan segregasi antara slag baja dengan slag tembaga. Ketua Umum IISIA Silmy Karim mengatakan industri dalam negeri tertinggal dengan industri dengan negeri jiran dalam pemanfaatan slag baja.

“Itu juga saya sedang perjuangkan bahwa slag baja itu jangan digolongkanke limbah B3. Itu ada peraturannya. harus berubah,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (10/4).

Silmy menambahkan penambahan slag dalam pembuatan aspal cocok untuk jalan tol, mengingat sarana jalan ini kerap dilalui kendaraan niaga yang membuat kondisi jalan tol sering melengkung. Dengan menambahkan slag baja, hal tersebut tidak akan terjadi karena kualitas jalan semakin kuat daripada penggunaan aspal konvensional.

Silmy menuturkan, penggunaan slag untuk jalan telah diimplementasikan di Malaysia dan Singapura.

Marga Nanang Handono, Kasubdit Standar & Pedoman Direktorat Preservasi Jalan Ditjen Bina Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), mengutarakan instansinya sudah melakukan pembelian karet ke petani untuk bahan pencampuran aspal.

Kementerian PUPR sudah menerbitkan regulasi mengenai norma, standar, prosedur, dan manual penggunaan karet. “Sekarang penggunaan karet sudah semakin serius dan nuansanya nuansa kerakyatan karena pengadaannya langsung ke petani.”

Panjang jalan nasional yang berpotensi dirawat dengan aspal karet adalah 25.549 km atau lebih dari separuh panjang jalan nasional. Kemudian, jalan provinsi yang juga berpotensi dilapisi aspal karet 29.719 km, sedangkan 296.485 km jalan kabupaten berpotensi menggunakan aspal karet.

Sementara itu Kementerian Perindustrian sedang menyiapkan alat-alat pengolahan untuk memanfaatkan karet sebagai bahan baku aspal. Kemenperin mencatat tiga alternatif yang bisa digunakan sebagai bahan baku aspal, yakni latex, master-batch dan skat.

Pada tahap pertama, produksi karet aspal akan dikonsentrasikan di daerah-daerah sentra perkebunan seperti Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Kemeneperin menghitung penggunaan karet bisa menyubstitusi 7%-8% dalam penggunaan aspal. Dia berharap dengan penggunaan karet sebagai aspal tentu saja meningkatkan harga karet di pasaran.

Asisten Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Uhendi Haris menyarankan agar pembuatan aspal menggunakan karet memakai bahan baku karet padat berkualitas Standard Indonesian Rubber (SIR) 20. Pasalnya, produksi karet latex masih masih kecil.

“Memang teknologi yang tersedia dengan latex, tapi di Indonesia ini sangat sedikit juga . Kalau unutk keperluan pabrik sarung tangan saja harus impor, jadi gunakanlah SIR 20,” paparnya kepada Bisnis.

Produksi karet pada tahun lalu mencapai 3,6 juta ton, yang mana karet SIR 20 mendominasi 96,7%.

Menurut Uhendi, penggunaan karet dalam pembuatan aspal akan menambah biaya produksi, namun juga akan menghasilkan kualitas lebih tinggi. Beberapa simulasi menunjukkan bahwa penggunaan karet dalam aspal akan menambah biaya 20% dan meningkatkan kualitas jalan hingga 50%.

Dari sisi ketersediaan, industri karet akan menyimpan sekitar 98.160 ton karet SIR 20 selama April—Juli tahun ini. Dengan kata lain, asosiasi siap memenuhi permintaan karet untuk aspal.

Selain baja dan karet, pemerintah juga melihat potensi skrap plastik untuk aspal. Seperti diketahui, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemkot Cilegon dalam pembangunan jalan raya menggunakan aspal plastik sejauh 10 Km.

Perseroan menyatakan akan terus mengajak sektor swasta maupun pemerintah daerah untuk menggunakan aspal plastik dalam pembangunan jalan.

Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Taufiek Bawazier mengatakan bahwa penggunaan skrap plastik sebagai aspal plastik tidak bisa mengurangi jumlah sampah plastik. Namun, kementerian mengapresiasi insiasi tersebut.

"Akan tetapi, penggunaan aspal skrap bahan baku plastik secara massal harus melalui uji keselamatan terlebih dulu," ujarnya kepada Bisnis. Taufiek mendorong penggunaan aspal skrap bahan baku plastik untuk jalan di perumahan dan jalur pedestrian.

Berbeda dengan Taufiek, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan pemakaian aspal plastik seharunya lebih bagus di jalan biasa mengingat karakteristik plastik yang bisa membuat aspal lebih keras.

Asosiasi mendorong penggunaan aspal plastik di daerah-daerah panas yang dapat membuat aspal menjadi lunak seperti di pesisir pantai.

Fajar menambahkan dalam pembuatan aspal plastik, plastik tidak dicampurkan ke dalam aspal melainkan melapisi luas agregat. Alhasil, aspal yang dihasilkan akan lebih tahan dari tetesan air sehingga umurnya pasti akan lebih lama.

“Yang mengaplikasikan ini India. India pun sudah ribuan kilometer, mungkin pada 2010 awal sudah dilakukan di India,” katanya kepada Bisnis.

Selama ini pasokan plastik daur ulang sekitar 1,7 juta ton per tahun tidak digunakan secara utuh karena sebuk hasil penggilingan plastik daur ulang sulit untuk diproduksi kembali. Di sisi lain, skrap plastik yang digunakan dalam pembuatan aspal plastik adalah sebuk tersebut.

Selain itu, menurutnya pabrik industri daur ulang plastik masih idle sekitar 20% dari total kapasitas terpasang. Maka dari itu, menurutnya, penggunaan aspal plastik akan membuat industri daur ulang plastik dan utilisasi pabrik daur ulang plastik optimum.

Di samping itu, Fajar berujar penggunaan aspal plastik akan meningkatkan yield industri daur ullang plastik. Hal tersebut mengingat serbuk hasil penggilingan yang selama ini sulit diproduksi akan membuat nilai serbuk skrap plastik terebut naik lebih dari Rp3.000—Rp5.000 per kilogram.

Editor : Fatkhul Maskur

Sumber: Bisnis