• Wed, 24 October 2018
20 Sep
Apakah Indonesia Masih Perlu Impor Baja? Ini Jawabannya

September 18 / 2018 20:33 WIB Oleh : Anggara Pernando

Bisnis.com, JAKARTA -- Indonesia diperkirakan masih membutuhkan impor baja khusus meski produsen meningkatkan produksi produk hulu.

Sindu Prawira, Wakil Ketua Gabungan Industri Produk Kawat Baja Indonesia (Gibkabi) menuturkan kebutuhan impor terutama untuk baja yang memiliki standar kualitas dan spesifikasi khusus.

"Baja untuk kawat, sekrup, jembatan, alat berat, otomotif, konstruksi tahan gempa, baut khusus. Ini jenis baja yang belum sanggup diproduksi sepenuhnya di dalam negeri," kata Sindu, Selasa (18/9/2018).

Menurut dia, saat ini dari kebutuhan baja wire rod berkisar 2,5 juta ton per tahun. Dari jumlah ini sebanyak 500.000-800.000 per tahun didatangkan melalui impor. Sindu menuturkan setiap tahun jenis baja ini tumbuh 5%.

Sementara itu, target pemerintah yang menaikan target produksi menjadi 17 juta ton, Sindu menilai akan sangat tergantung dari penyerapan pasar dan keberlanjutan proyek infrastruktur yang digulirkan. Dia mengatakan, jika pemerintah tetap memacu proyek infrastruktur pada 2019 maka permintaan baja akan tumbuh.

"Sekarang proyek listrik 35.000 megawatt sekarang kan sebagian minta dihentikan," katanya.

Sindu juga menyebutkan investasi pabrik baru di sektor baja juga sangat bergantung kepada ketegasan kebijakan pemerintah. Saat ini investor enggan membangun pabrik baru karena utilitas pabrik yang ada relatif rendah.

Saat yang sama banyak produk baja khusus yang dapat diperoleh dari impor, sedangkan investasi pabrik baru relatif mahal.

"Akhirnya ini seperti ayam dan telur. Sulit bertemu. Butuh perusahaan besar untuk mereka investasi tanpa mendesak mendapat perlindungan [pasar dari] pemerintah. Apalagi dengan pelemhan Rupiah maka daya saing [produk Nasional] jadi meningkat," katanya.

 

Sindu juga menyoroti belum sesuainya harga gas bagi industri strategis yang membuat iklim bisnis sektor baja semakin rumit. Menurut dia, saat ini harga gas bagi industri baja masih US$9 per MMBTU, padahal pabrik baja di berbagai negara telah menggunakan gas dengan harga rata-rata US$6.

Sumber: Bisnis