17 Nov
Asaki: Utilisasi pabrikan keramik nasional bisa naik sampai 70% di akhir tahun

Kamis, 12 November 2020 / 06:23 WIB

Reporter: Muhammad Julian | Editor: Wahyu T.Rahmawati


ILUSTRASI. Utilisasi pabrikan keramik nasional telah kembali ke angka normal di posisi 65% per akhir Oktober 2020.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) optimistis prospek industri keramik masih cerah. Tidak tanggung-tanggung, Asaki bahkan memproyeksikan utilisasi pabrikan keramik nasional bisa naik hingga 70% pada akhir tahun ini, lebih tinggi dari angka pencapaian industri keramik selama 5 tahun terakhir.

Optimisme ini bukannya tanpa dasar. Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto mengatakan, utilisasi pabrikan keramik nasional telah kembali ke angka normal di posisi 65% per akhir Oktober 2020, sama seperti posisi utilisasi di awal tahun sebelum pandemi corona (covid-19).

Menurut Edy, capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan pemerintah terhadap industri keramik nasional melalui stimulus-stimulus seperti penurunan harga gas ke angka US$ 6 per mmbtu. Penopang lainnya adalah pemberlakuan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) atau safeguard terhadap keramik impor dari China, India, dan Vietnam.

Selain itu, pemulihan industri keramik juga didukung oleh kinerja ekspor keramik yang membaik. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Edy menyebutkan bahwa ekspor keramik pada Januari-September 2020 mencapai 12,8 juta meter persegi, naik 29% dibandingkan ekspor keramik periode sama tahun lalu.

Edy menambahkan bahwa kinerja ekspor sembilan bulan di tahun ini merupakan kinerja tertinggi sejak tahun 2016. Tahun-tahun sebelumnya, ekspor justru cenderung turun. "Peningkatan angka ekspor tentunya karena membaik dan meningkatnya daya saing industri keramik dengan harga gas baru dari mulai dibukanya lockdown di negara-negara tujuan ekspor,” kata Edy kepada Kontan.co.id, Rabu (11/11).

Dengan adanya capaian utilisasi pabrikan nasional yang telah kembali ke posisi normal di angka 65%, peningkatan utilisasi ke angka 70% dilihat sebagai hal yang mungkin. Apalagi, upaya pemerintah meningkatkan daya beli masyarakat melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan percepatan penyerapan APBN dan APBD juga bisa menjadi katalis positif bagi industri keramik.

Meski begitu, Asaki juga mencermati perkembangan impor keramik yang belakangan dinilai cukup mengkhawatirkan. Asaki mencatat, impor keramik di kuartal III 2020 kembali meningkat sehingga impor keramik secara kumulatif selama Januari-September 2020 naik 1,5% di angka 52 juta meter persegi. Sebelumnya, angka volume impor di sepanjang semester I 2020 masih terkontraksi 2%.

Angka impor mulai kembali meningkat pada bulan Juli dan memuncak pada bulan September dengan angka impor 8,9 juta meter persegi. Angka tersebut merupakan level tertinggi semenjak penerapan safeguard bulan Oktober 2018. Proyeksi Asaki, impor keramik berpotensi semakin meningkat, sebab besaran safeguard impor keramik akan kembali turun dari semula 21% menjadi 19% mulai bulan Oktober 2020.

Seperti diketahui, Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119 Tahun 2018 tentang Pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan terhadap Impor Ubin Keramik memang menyebutkan bahwa besaran tarif safeguard keramik terhadap target keramik impor ditetapkan sebesar 23% pada tahun pertama, 21% pada tahun kedua, dan 19% pada tahun ketiga. Beleid tersebut mulai berlaku pada Oktober 2018.

Oleh karenanya, Asaki berharap pemerintah bisa memperpanjang pengenaan safeguard. Asaki telah mengajukan perpanjangan safeguard untuk periode pengenaan yang kedua.

“Seperti kita ketahui, safeguard untuk keramik impor China, India, dan Vietnam di tahun ini merupakan tahun ketiga dan tahun terakhir, sehingga saat ini Asaki telah mengajukan kembali perpanjangan safeguard untuk term yang kedua,” kata Edy.

Besaran tarif safeguard yang diajukan kali ini lebih besar, yakni 40%-50% atau safeguard dengan ditambah penetapan minimum import price. Asaki beralasan, besaran tarif safeguard yang sebelumnya diterapkan belum terlalu optimal dalam menahan laju impor keramik.

Asaki mencatat, angka impor keramik pada tahun 2018 tetap tumbuh 19%. Angka impor keramik  pada tahun 2019 memang sempat turun 9%, tapu impor keramik pada Januari-September 2020 kembali naik 1,5%. Selain itu, Asaki juga mengusulkan penetapan pelabuhan impor tertentu untuk keramik dan pengetatan persyaratan SNI impor.

(Sumber : Kontan.co.id)