26 Aug
Ekspor Meroket dan Impor Turun
ilustrasi. (jawapos.com)

Kondisi perekonomian global yang belum pulih akibat pandemi Covid-19 tak membuat kinerja ekspor Indonesia meredup. Hal ini terlihat dari neraca perdagangan Indonesia yang surplus Juli lalu. Angkanya meningkat 14,3 persen dibanding bulan sebelumnya menjadi 13,7 miliar dolar AS. Sementara, impor justru turun 2,7 persen dibanding Juni 2020.

Menteri Perdagangan (Mendag), Agus Suparmanto mengatakan, kenaikan ekspor dan penurunan impor ini karena pelaku ekonomi lebih mengoptimalkan ketersediaan produk dalam negeri. Karena itu Mendag yakin, ekonomi RI sudah berada di jalan yang benar untuk mulai recovery.

“Kami mulai melihat penguatan rantai nilai domestik, di mana para pelaku ekonomi lebih mengoptimalkan ketersediaan produk-produk di dalam negeri. Momentum penguatan rantai nilai domestik ini harus dipertahankan sebagai motor pendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya dalam keterangan resminya di Jakarta, kemarin.

Menurut Agus, adanya peningkatan neraca perdagangan ini didorong oleh perbaikan neraca perdagangan nonmigas dengan mitra dagang utama. Seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Singapura. “Bahkan neraca nonmigas Indonesia dengan Singapura pada Juli 2020 kembali surplus, setelah pada bulan sebelumnya mengalami defisit,” ujarnya.

Politisi PKB ini menilai, perbaikan neraca perdagangan disebabkan penurunan impor lebih tajam daripada penurunan ekspor. Produk ekspor non migas yang tumbuh signifikan adalah logam mulia dan perhiasan atau permata serta kendaraan dan bagiannya.

“Peningkatan nilai ekspor logam mulia disebabkan adanya kenaikan harga emas dunia pada Juli 2020 sebesar 6,6 persen (mom). Sedangkan peningkatan ekspor kendaraan dan bagiannya menunjukkan produk otomotif asal Indonesia semakin kompetitif dan digemari di pasar Asia,” tuturnya.

Adapun, ekspor logam mulai dan perhiasan atau permata paling banyak ditujukan ke Swiss, Hongkong dan Singapura. Sementara kendaraan dan bagiannya diekspor ke Filpina, Vietnam dan Jepang. Agus melihat kondisi perekonomian global yang belum pulih akibat pandemi Covid-19 tak membuat kinerja ekspor Indonesia meredup. Bahkan, di kuartal II ini beberapa negara tujuan ekspor Indonesia telah memasuki masa resesi ekonomi, seperti Jepang, Singapura, Filipina, Hong Kong, Jerman, Italia, Spanyol, Arab Saudi, Inggris, Belgia dan Prancis.

Namun, kata Agus, ekspor nonmigas Indonesia pada semester I tahun ini masih meningkat ke beberapa pasar utama. Yakni Tiongkok, Australia, Pakistan dan Amerika Serikat.
Sementara untuk kinerja impor di Juli yang menurun disebabkan turunnya impor barang konsumsi dan impor bahan baku atau penolong. Barang impor yang mengalami penurunan terbesar adalah kendaraan dan bagiannya, gula dan kembang gula serta sayuran.
Agus menuturkan, penurunan impor gula dikarenakan sudah masuknya musim panen tebu. Jadi, produksi gula dalam negeri mulai meningkat.

Impor sayuran juga menurun karena aturan impor hortikultura untuk bawang putih dan bawang bombai yang sudah kembali normal mengingat sebelumnya diterapkan kebijakan relaksasi impor.

Sementara Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkit mengatakan, perlu mendorong komoditas ekspor berdasarkan sektor dan negara tujuannya. “Ekspor nonmigas tinggi karena daya saingnya dan secara global demand meningkat dengan dibukanya ekonomi di hampir seluruh belahan ekonomi dunia,” katanya. (kpj/jpg)

(Sumber : jawapos.com)