15 Jul
Aktivitas Industri Kembali Berdenyut, Impor Diprediksi Bakal Membaik

Maria Elena - Bisnis.com14 Juli 2020  |  14:25 WIB

Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom memprediksi impor pada Juni 2020 mulai terjadi peningkatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya sejalan dengan industri pengolahan yang mulai beroperasi kembali.

Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan peningkatan impor pada Juni 2020 dapat terlihat dari kenaikan PMI Manufaktur Indonesia yang meningkat dari 28,6 persen menjadi 39,1 persen pada Juni 2020.

Meski secara tahunan, Josua meperkirakan impor masih akan mengalami pertumbuhan negatif, yaitu sebesar -18,47 persen year-on-year (yoy).

"Kenaikan impor bulanan ini juga diperkirakan akan didorong oleh kenaikan harga minyak dunia sebesar 10,65 persen," katanya kepada Bisnis, Selasa (14/7/2020).

Sementara, dari sisi ekspor diperkirakan masih akan mengalami peningkatan meskipun tidak sebesar kenaikan impor.

"Secara tahunan, kami perkirakan pertumbuhan ekspor sebesar -18,02 persen yoy," katanya.

Josua menjelaskan, kenaikan eskpor pada Juni 2020 akan didorong oleh semakin meningkatnya aktivitas manufaktur di negara partner dagang Indonesia, seperti Tiongkok, India, dan Jepang.

PMI manufaktur Jepang dan India tercatat mengalami peningkatan paling signifikan dibandingkan dengan kenaikan di negara lainnya, yaitu masing-masingnya meningkat menjadi 40,8 dan 47,2.

Sementara itu, PMI manufaktur Tiongkok naik tipis menjadi 51,2 dan menjadi negara partner utama Indonesia yang aktivitas manufakturnya berada di level ekspansi (PMI manufaktur >50).

Josua menambahkan, kenaikan ekspor bulanan ini juga ditopang oleh kenaikan harga komoditas ekspor utama Indonesia, di mana sebagian besar komoditas mengalami kenaikan harga, seperti CPO yang harganya naik sebesar 6,65 persen secara bulanan month-to-month (mtm) dan batu bara yang harganya bertumbuh 0,29 persen (mtm).

Oleh karena impor yang meningkat lebih tinggi dibandingkan ekspor, Josua memproyeksi neraca perdagangan pada Juni 2020 akan surplus US$1,42 miliar, lebih rendah dari surplus Mei 2020 yang sebesar US$2,09 miliar.

(Sumber : bisnis.com)