20 Mar
Stok Gula di Pasar Induk Cipinang Tinggal 20 Ton

Rabu, 18 Maret 2020




Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi saat meninjau pendistribusian Bawang Putih pada operasi pasar di Toko Tani Indonesia Center kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, Ahad 6 Februari 2020. TEMPO/EKO WAHYUDI


TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Arief Prasetyo mengatakan jumlah pasokan gula kristal atau gula pasir di gudang Pasar Induk Beras Cipinang saat ini hanya 20 ton.


"Untuk gula, kita harus fokus untuk cepat-cepat datangkan stok. Seharusnya secepatnya masuk karena hanya tinggal 20 ton," ujar Arief saat ditemui di Gudang PT Tjipinang Food Station, Rabu, 18 Maret 2020.

Arief enggan menyebut pasokan itu akan memenuhi kebutuhan hingga berapa lama. Ia hanya menyatakan cadangan gula yang ada saat ini diperkirakan masih cukup untuk memenuhi konsumsi masyarakat sampai impor gula terealisasi.


Adapun untuk mengantisipasi kelangkaan gula di pasaran, Arief meminta pemerintah segera menerbitkan Surat Persetujuan Impor atau SPI untuk gula kristal putih (GKP). GKP nantinya akan langsung disalurkan ke masyarakat.

Harga gula di pasaran belakangan melambung tinggi. Di Jakarta, harga gula di sejumlah pasar tembus Rp 20 ribu per kilogram. Padahal, berdasarkan Harga Eceran Tertinggi atau HET, harga gula pasir yang dipatok pemerintah hanya Rp 12.500 per kilogram. Diperkirakan harga gula melonjak lantaran kelangkaan stok.


Ke depan, Arief menyarankan pemerintah membuat neraca pangan untuk mengantisipasi kelangkaan seperti saat ini kembali terjadi. "Kita seharusnya punya satu neraca pangan, berapa stok level yang dimiliki dan BUMN atau BUMD seharusnya punya stok yang selalu ready untuk intervensi saat harga tinggi," tuturnya.

ADVERTISEMENT


Menteri Perdagangan Agus Suparmanto sebelumnya menyatakan salah satu faktor yang membuat gula langka di pasar adalah lantaran adanya penimbunan stok oleh pedagang. Ia lalu meminta sejumlah pedagang segera mengeluarkan stok untuk menjaga stabilitas harga.


"Kemarin kami cek stoknya masih 160 ribu ton. Kami minta yang di pedagang itu dipercepat pengeluarannya. Tidak ada alasan untuk ditahan," ujar Agus, 11 Maret lalu. 


(Sumber: Bisnis)