20 Mar
Stok Bahan Baku Mulai Masuk

Senin, 16/03/2020




JAKARTA—Setelah Pemerintah meluncurkan berbagai stimulus dan pabrikan di China mulai pulih, pelaku industri manufaktur sudah bergerak mengamankan stok bahan baku yang pasokannya sempat terhambat


Sebagaimana diketahui, pemerintah resmi merilis sejumlah stimulus dalam rangka menekan dampak negatif COVID-19 di sisi industri. Salah satunya relaksasi impor bahan baku untuk 19 sektor manufaktur serta pelonggaran pajak.


PT Indofarma Tbk. memastikan pasokan alat kesehatan guna menanggulangi penyakit COVID-19 dan di tengah kondisi lalu lintas impor yang sulit saat ini masih akan mencukupi.


Direktur Utama PT Indofarma Tbk. Arief Pramuhanto mengatakan secara industri impor alat kesehatan (alkes) memang masih 93%, tetapi perseroan memastikan pasokan ke pasar dalam negeri masih aman. "Secara total saja saya bisa proyeksi tahun ini peningkatan produksi untuk memenuhi permintaan alkes di RS naik 10%-15%. Kami pun menjamin berapapun alkes yang diminta RS dapat kami penuhi dengan baik," katanya kepada Bisnis, Minggu (15/3).


Arief merinci salah satu produk yang juga telah dikembangkan yakni kontainer isolasi medis udara pasien COVID-19 untuk TNI dalam mengevakuasi pasien menuju RS rujukan. SeIain itu, ada pula tandu bertekanan negatif, tenda darurat, ambulans bertekanan negatif, alat deteksi COVID-19, dan kelengkapan ruang isolasi.

"Itu semua sudah kami kembangkan dengan bahan baku lokal sehingga tidak ada masalah jika nanti permintaan masih akan bertambah," ujarnya.


Dia menambahkan untuk alat diagnostik saat ini masih 40% yang lokal dan diharapkan dalam dua tahun ke depan sudah meningkat menjadi 60% local content. Adapun, yang masih cukup tinggi impornya yakni alat elektromedis hingga 90%.


PT Kalbe Farma Tbk. memastikan bahwa stok produk perseroan aman untuk 10—11 bulan ke depan. Stok yang dimaksud tersebut dihitung dari bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi di keseluruhan outlet.


Direktur Utama PT Kalbe Farma Tbk. Vidjongtius mengatakan biasanya keseluruhan pasokan tersedia untuk enam hingga tujuh bulan. Namun, dalam kondisi terkini perseroan telah mengantisipasi dengan ekstra pasokan.


Menurut Vidjongtius dengan ekstra pasokan tersebut, kenaikan produksi pabrikan diproyeksi meningkat sekitar 10%—20%. "Awalnya memang kami agak khawatir tetapi setelah melihat progres terakhir dalam dua minggu terakhir pabrik di China sudah beroperasi dan pesanan sudah diterima juga sekarang sudah agak lega meski tetap waspada."


Industri yang juga mengeluhkan seretnya bahan baku adalah elektronika. Namun, hingga berita ini diturunkan, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) Daniel Suhardiman belum merespons permintaan wawancara.


MASIH SERET


Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Wirawasta mengatakan saat ini industri hulu tekstil dan produk tekstil atau TPT hanya memiliki stok bahan baku produksi kira-kira untuk tiga minggu ke depan baik untuk serat, benang, maupun kain.

Padahal, sebelum merebak penyakit COVID-19 ini stok kain cenderung lebih membaik atau bisa bertahan sekitar 1,5 bulan dan benang bisa sampai lima minggu. Saat ini persoalan pun bertambah dengan kembali melemahnya permintaan.


"Dari sisi permintaan kami belum mengerti mungkin karena banyak PHK atau garmen banyak impor yang barang jadi," katanya kepada Bisnis, Minggu (15/3).


Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) Firman Bakrie mengatakan arus barang dari China ke Indonesia dan sebaliknya mulai terhambat selama dua minggu pada 3 Februari—17 Februari 2020. Firman menyatakan bahan baku yang dipesan dari Negeri Panda baru saja dikirimkan dari pelabuhan di sana pada awal bulan ini.


Menurutnya, wabah corona membuat industriawan meminta agar pabrikan bahan baku di China bekerja lebih cepat. Alhasil, lanjutnya, sebagian industri alas kaki nasional harus membayarkan harga bahan baku 10% lebih tinggi.


Firman menjelaskan permintaan tersebut dilakukan karena dua hal, yakni mengejar tenggat waktu buyer di pasar global dan mengejar tenggat waktu persiapan bulan Ramadhan. Firman menyatakan saat ini ketersediaan bahan baku untuk pasar domestik masih belum normal hingga awal kuartal II/2020.


Firman menyampaikan pabrikan alas kaki saat ini harus membayar bea masuk sekitar 5%—15% dari nilai bahan baku tersebut. Dengan kejadian tersebut, Firman berujar kenaikan harga alas kaki pada bulan Ramadhan merupakan hal yang harus diantisipasi.

(Sumber: Bisnis)