13 Feb
Petani tebu khawatir produksi gula tahun 2020 di bawah 2 juta ton

Minggu, 09 Februari 2020 / 18:24 WIB

 

ILUSTRASI. Petani memanen tebu untuk kemudian disetor ke pabrik gula di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (7/9).

Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Noverius Laoli


KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mengkhawatirkan produksi gula tahun ini berada di bawah 2 juta ton. Hal itu disebabkan sejumlah faktor, salah satunya musim hujan yang mundur.


Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Soemitro Samadikoen mengatakan, selain faktor hujan yang mundur, adanya serangan hama tikus, hingga pengurangan pupuk subsidi juga turut menekan produksi gula nasional di 2020.


Soemitro menerangkan, mundurnya musim hujan akan menyebabkan masa pertumbuhan tebu berkurang. Dia menjelaskan, biasanya musim hujan dimulai pada Oktober, namun kali ini, musim hujan dimulai pada akhir Desember.


"Pertumbuhan tebu ini mundur, dulu kan pertumbuhannya di bulan Oktober, lalu panen di Mei dan Juni. Nah dengan kemunduran ini, dipanen di Mei dan Juni, saya tidak yakin akan menghasilkan tebu dengan kualitas bagus," ujar Soemitro kepada Kontan, Minggu (9/2).


Dia juga mengkhawatirkan, akan banyak pabrik tebu yang berlomba-lomba untuk melakukan penggilingan pada masa tersebut, sehingga banyak tebu yang akan ditebang dalam kondisi masih muda. Soemitro mengatakan, tebu yang masih muda memiliki rendeman yang masih kecil.


Meski begitu, Soemitro pun mengatakan, masih ada berbagai upaya yang bisa dilakukan supaya produksi gula tahun ini lebih baik.


Pertama, Soemitro meminta agar pemerintah memberikan kepastian harga di tingkat petani. Dia berharap ketika panen tiba, harga lelang gula di tingkat petani bisa mencapai Rp 12.500 hingga Rp 13.000 per kg.


"Kami ingin petani merasakan harga yang bagus. Harapannya harga di tingkat petani bisa Rp 12.500 sampai Rp 13.000 per kg. Bila ada kepastian harga dari pemerintah, maka petani tidak berebut untuk menebang tebunya," kata Soemitro.


Menurut Soemitro, hal tersebut pun bisa dicapai dengan menghapus Harga Eceran Tertinggi (HET) gula yang sebesar Rp 12.500 per kg. Lebih lanjut Soemitro mengatakan, harga eceran gula saat ini sudah mencapai Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per kg, namun harga tersebut tak menibulkan gejolak di masyarakat.


"Harapan kami agar harga tersebut dipertahankan sampai nanti panen. Ini akan  menumbuhkan semangat petani untuk menanam tebunya." kata Soemitro.


Tak hanya soal harga, Soemitro juga berharap pemerintah juga mengambil bagian dalam menetapkan masa kapan harus menggiling tebu, sehingga petani akan menebang tabunya paling cepat pada Juni.


Dia juga berharap pemerintah memberi perhatian pada hama tikus yang saat ini berkembang biak lebih banyak karena musim hujan yang mundur.


Di 2019, Kementerian Pertanian mencatat realisasi produksi gula kristal putih sebesar 2,22 juta ton dengan luas areal lahan sebesar411.435 hektare dengan rendeman rata-rata 8,03%.


Sementara, Soemitro mengatakan, produksi gula tahun lalu hanya sekitar 2,1 juta ton. Dia mengatakan, rendeman gula tahun lalu memang meningkat lantaran adanya musim kemarau yang panjang, tetapi dia juga mengatakan saat ini sudah terjadi pengurangan lahan tebu serta banyak pabrik gula yang produktivitasnya rendah.


(Sumber : kontan.co.id)