14 Jan
Pedagang Sarankan Pemerintah Aceh Usul Impor Gula ke Pusat

Senin, 13 Januari 2020 10:47

 

PETUGAS menggunakan alat untuk menurunkan barang yang diimpor dari Port Klang Malaysia ke dalam truck di Pelabuhan Internasional Samudera Pase Krueng Gekueh Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Selasa (23/6).SERAMBI/JAFARUDDIN 


BANDA ACEH - Harga gula pasir pada tingkat pedagang grosir di Banda Aceh dan Aceh Besar, dalam pekan ini terus naik. Dampaknya, harga gula di pedagang eceran naik. Untuk mengatasi lonjakan harga tersebut, pengusaha menyarankan Pemerintah Aceh untuk mengajukan kuota impor gula kepada Pemerintah Pusat.


Pedagang grosir gula pasir di Pasar Peunayong, H Ramli, Minggu (12/1/2020), menyebutkan, pada hari Rabu (8/1/2020), harga gula naik dari Rp 610.000- Rp 615.000/sak menjadi Rp 635.000- Rp 640.000/sak (50 kilogram/Kg). Dua hari kemudian atau Jumat (10/1/2020), menurutnya, harga gula naik lagi menjadi Rp 670.000-Rp 675.000/sak.


Kenaikan itu, sebut Ramli, terjadi karena harga tebus gula pada tingkat pedagang grosir di Medan, mencapai Rp 13.000/Kg atau Rp 650.000/sak, ditambah ongkos angkut Rp 300/Kg. Sehingga, harga beli pada saat tiba di Banda Aceh menjadi Rp 665.000/sak, dan dijual kepada pengecer Rp 670.000- Rp 675.000/sak. Karena harga di tingkat grosir Rp 675.000/sak atau Rp 13.500/Kg, maka pedagang pegecer menjualnya Rp 14.000-Rp 15.000/kg.


Ia menyebutkan, kebutuhan gula pasir di Aceh sebanyak 10.000 -12.000 ton per tahun. Jumlah itu sudah termasuk untuk kebutuhan bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Dua tahun lalu, kata Ramli, saat PT Kande Agung/PT Mastura masih memasukkan gula dari Medan dan Lampung, harga di tingkat pedagang grosir dan eceran relatif stabil yaitu Rp 12.000- Rp 12.500/Kg. ” Tapi, mengapa sejak tahun 2017 lalu, perusahaan itu tidak lagi memasok gula pasir dari Lampung dan Pulau Jawa, kami tidak tahu persoalannya,” ujar Ramli.


Untuk mengatasi masalah itu, ia menyarankan Pemerintah Aceh untuk mengajukan kuota impor gula kepada Pemerintah Pusat. Sebab, Aceh mempunyai Pelabuhan Bebas Sabang dan gula pasir impor bebas masuk ke sana. Tapi, untuk keperluan tersebut terlebih dulu harus ada kuota izin impor dari Kementerian Perdagangan.


Asisten II Setda Aceh, H T Ahmad Dadek, yang dimintai tanggapannya soal itu mengatakan, untuk mengatasi lonjakan harga gula, Pemerintah Aceh akan berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Bulog, PT PPI, dan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS). Menurutnya, kawasan pelabuhan dan perdagangan bebas, sepertinya perlu perlu difungsikan sebagai tempat persinggahan gula yang mau diimpor ke daerah pabean di Indonesia, khususnya Pulau Sumatera. “ Kalau itu kita lakukan, rasanya tidak salah,” ujarnya.


Pemerintah, sambung Dadek, perlu segera mengatasi lonjakan harga gula, meski belum memasuki bulan puasa dan Lebaran. Harga gula pasir perlu ditekan juga untuk menekan laju inflasi harga kebutuhan pokok. “Kalau tidak dikendalikan, gula akan memberi andil yang besar terhadap kenaikan inflasi kelompok makanan pada bulan ini,” timpalnya.


Akibat kenaikan harga gula pasir, tambah Dadek, perajin kue basah dan kue tradisional di Aceh menjadi tertekan dan mengeluh. Biaya produksi kue menjadi mahal dan mereka tidak bisa bersaing dengan produk makanan impor dari negara lain. (her) 


Editor: hasyim

(Sumber : tribunnews.com)