09 Jan
Perajin Sabit dan Cangkul Berharap Tutup Keran Impor

Radar Jogja 08 Jan 2020

BERKUALITAS: Jiman (bajubatik) menunjukkan produk alat pertanian dalam pameran UMKM di Kecamatan Bruno, Purworejo, (7/1). ( BUDI AGUNG/RADAR JOGJA )


RADAR JOGJA – Kedatangan Deputi Produksi dan Pemasaran Kemenetrian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit dimanfaatkan perajin alat pertanian sabit dan cangkul di Purworejo. Mereka berharap pemerintah bisa membantu mengangkat kerajinan alat pertanian tersebut. Sebab, belakangan ini usaha alat pertanian lesu seiring banyaknya barang impor.


Perajin sabit dan cangkul di Desa Suren, Kecamatan Kutoarjo, Jiman, mengungkapkan, pemerintah perlu turun tangan dan menutup keran impor bagi alat sejenis dari luar negeri. Peralatan pertanian impor itu dinilai telah meruntuhkan penjualan produk lokal yang sejenis.


“Dulu (sebelum ada impor), banyak permintaan baik cangkul atau sabit. Tapi, sekarang ini sangat sulit menjualnya,” kata Jiman.


Diungkapkan, permintaan alat pertanian masih ada. Namun, pemesanan sabit dan cangkul hanya berasal dari Indonesia. Sebagian besar pemesan berasal dari luar Jawa. “Jika dibandingkan, sebenarnya, produk kami lebih kuat dan tajam. Tapi, memang untuk harganya memang lebih tinggi,” tambahnya.


Tingginya harga itu karena mutu lebih baik. Selain lebih awet dan tajam, barang yang ada sebenarnya telah teruji karena berasal dari baja khusus.


Hal senada disampaikan Kepala Desa Kalisemo di Kecamatan Loano Sarimo. Dia meminta pemerintah memberikan pendampingan sehingga mutu produk yang dihasilkan perajin alat pertanian bisa lebih baik. “Jumlah produksi di desa kami lumayan besar dan mampu memenuhi pesanan yang ada,” kata Sarimo.


Menanggapi hal tersebut, Victoria mengungkapkan, pihaknya masih disibukkan dengan ekspor cangkul dari Tiongkok. Pihakya berharap produk lokal bisa berjaya dan diterima konsumen.


“Permasalahan yang ada, produk itu harus memenuhi standar nasional atau SNI. Apakah produk lokal ini sudah memenuhinya?” tutur Victoria.


Dia berjanji akan menurunkan tim untuk mengkaji produk alat pertanian sabit dan cangkul di Purworejo. Tim bakal melihat dan meneliti kandungan baja alat pertanian yang dibuat perajin.


“Dari kajian itu akan terlihat sebenarnya kandungannya sudah sesuai atau belum. Kalau kurang, kurangnya di mana,” katanya.


Dia juga meminta harga produk lokal bisa kompetitif dibanding produk impor. Harga yang masih lebih tinggi membuat produk lokal jelas akan kalah dengan produk asing. (udi/amd)

(Sumber : jawapos.com)