02 Dec
PG Rajawali Produksi Gula Belum Optimal

Jumat, 29 November 2019




MAJALENGKA – Kabag Quality Control PT PG Rajawali II unit Jatitujuh, Iip Saepudin mengatakan, produksi gula di pabrik belum sesuai kapasitas yang ada. Penyebabnya adalah luas areal lahan yang seluruhnya belum bisa tergarap.


Menurut dia, musim produksi pabrik seharusnya 150 hari per tahun. Namun saat ini yang terpenuhi hanya 120 hari. Tentu saja karena bahan baku yang kurang dan tidak sebanding dengan kapasitas pabrik.


Dia menyebutkan, kapasitas produksi pabrik adalah 4 ribu ton per hari. Untuk memenuhi 120 hari produksi, butuh 480 ribu ton tebu dalam setahun. Sementara di lapangan, yang terealisasi hanya 183 ribu ton.

Kualitas tebu sendiri tergantung dari rendemen atau kandungan gula yang ada dalam tebu. Untuk musim sekarang ini rendemen 7,41 persen. Sementara luas areal kurang lebih 11.921,56 hektare. “Yang dipakai hanya sekitar 7.250 hektare,” sebutnya.


Sementara, Pengurus Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) Kabupaten Majalengka Enjo berharap, harga lelang tebu tahun ini minimal bisa mencapai Rp10.500. Ia berharap kejadian tahun lalu tidak terulang lagi dan membuat gula mengendap karena tak bisa dijual.

Kalau harga lelang di bawah itu, keuntungan yang diperoleh petani cukup tipis. Karena untuk saat ini sewa lahan perkebunan tebu terus naik. Harga sewa di lahan sawah telah mencapai Rp7 juta per hektare. Itu pun sulit diperoleh karena petani lebih memilih menanam padi. Sedangkan lahan tegalan telah mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta per hektar tergantung kondisi lahan dan jarak.


Adapun kualitas rendemen untuk tahun ini cukup bagus minimal 7 hingga di angka 8, karena panen bertepatan dengan musim kemarau. Sehingga kadar air tidak terlalu tinggi.


“Tahun depan lahan perkebunan milik APRTI ditargetkan bisa mencapai 500 hektaran. Saat ini baru memperoleh sekitar 150 hektaran saja. Kondisi ini akibat banyaknya alih fungsi lahan terutama di wilayah Kertajati, Ligung dan Sumberjaya,” imbuhnya.


Menurutnya, lahan untuk tebu semakin sulit. Sementara swasembada gula terus dituntut. Diharapkan dengan harga lelang gula yang tinggi akan semakin banyak petani yang tertarik untuk menanam tebu.


Di samping itu juga, petani tebu meminta pemerintah pusat membatasi impor gula rafinasi. Hal ini agar tata niaga gula diperbaiki karena serbuan gula impor makin tidak terbendung. Kondisi ini membuat harga gula lokal milik petani jatuh di pasaran.


“Ada banyak problem terkait kondisi sulit para petani tebu ini. Selain serbuan gula rafinasi, mayoritas kondisi pabrik gula sendiri kurang bagus karena usianya di atas 100 tahun. Sehingga produksi gula juga tidak bagus,” imbuhnya. (ono)

(Sumber : radarcirebon.com)