08 Oct
Impor Turun, Saatnya Pacu Ekspor Elektronika

Penurunan impor produk elektronik pada tahun ini dinilai menjadi momentum untuk memperbaiki kinerja neraca perdagangan di sektor tersebut.

 

01 Oktober 2019

Bisnis.com, JAKARTA – Penurunan impor produk elektronik pada tahun ini dinilai menjadi momentum untuk memperbaiki kinerja neraca perdagangan di sektor tersebut.


Direktur Industri Elektronik dan Telematika Kementerian Perindustrian R. Janu Suryanto mengatakan pada Januari - Agustus 2019 realisasi impor mesin/peralatan listrik turun sekitar 10%. Menurutnya, pencapaian itu bisa lebih positif bila kinerja ekspor juga meningkat.


"Kalau impornya turun banyak, kami senang sekali. Kalau ekspornya naik, baru luar biasa," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (1/10/2019).


Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa pada Januari - Agustus 2019 nilai ekspor mesin/peralatan listrik mencapai US$5,55 miliar. Realisasi itu menurun sekitar 4,62% sebab pada periode yang sama tahun lalu nilai ekspornya mencapai US$5,82 miliar.


Pada periode yang sama, nilai impor mesin/peralatan listrik mencapai US$12,60 miliar atau menurun sekitar 10,97% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.


Pada triwulan terakhir 2019, Janu mengatakan pihaknya masih optimistis mengejar peningkatan ekspor itu. Pasalnya, sejumlah perusahaan industri elektronika di Batam, seperti PT Satnusa Persada dan PT Pegatron Technology Indonesia, baru-baru ini mendapatkan kontrak baru untuk memasok produknya ke Amerika Serikat.


Dia mengatakan peluang ini terbuka lantaran berkurangnya pasokan produk elektronika dari China ke Negeri Paman Sam. Selain itu, jelasnya, PT Panasonic Manufactoring Indonesia baru-baru ini memperluas basis ekspornya ke Taiwan.


LG Electronics Indonesia, kata Janu, juga berencana menugaskan produsen asal Semarang untuk memasok AC portable ke Amerika Serikat dalam jumlah yang besar.


"Ini kan informasi bahwa industri elektronika tetap tumbuh," jelasnya.


(Sumber: Bisnis)