• Sun, 21 April 2019
12 Apr
Mentan Klaim Produksi Bawang Putih Meningkat

Kamis 11 Apr 2019 14:18 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nidia Zuraya

Bawang putih

Foto: Budi Afandi/Antara

Pemerintah berencana mengimpor bawang putih sebanyak 100 ribu ton melalui Bulog


REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, pengembangan varietas penanaman bawang putih sedang dikembangkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Berdasarkan catatan Kementan, Amran mengklaim produksi bawang putih hingga akhir tahun lalu mencapai 11 ribu ton atau naik dibanding periode tahun sebelumnya yang mencapai 10 ribu ton.


 “Rencananya kami bisa tambah lagi produksi hingga 20 ribu ton,” kata Amran kepada Republika saat ditemui di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (11/4).


Melonjaknya harga bawang di pasaran dalam beberapa waktu terakhir membuat pemerintah menggulirkan rencana importasi sebesar 100 ribu ton kepada Badan Usaha Logistik (Bulog) selaku pelaksana. Lebih dari dua pekan terakhir jika mengacu pada data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga bawang putih  berada pada rata-rata kisaran Rp 46.250-Rp 52.300 per kilogram (kg).


Selama ini diketahui, kebutuhan bawang putih Indonesia sebanyak 90 persennya masih dipenuhi impor. Menanggapi hal tersebut, Amran mengaku secara bertahap Indonesia akan memproduksi bawang putih mandiri meski belum dapat secara menyeluruh menutup kebutuhan konsumsi dalam waktu dekat.


Kendati demikian dia memastikan, jelang Ramadhan kebutuhan bawang putih dan bahan pangan lainnya dari produksi pertanian terjamin aman pasokannya. Menurutnya, pemerintah secara kolaboratif terus berupaya memastikan kebutuhan pokok masyarakat baik itu jelang Ramadhan dan momen-momen lainnya terpenuhi secara baik.


“Kalau Ramadhan itu kan bola-bola pendek, aman itu (pasokan) semua,” katanya.


Sementara itu Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menilai, Indonesia masih sangat mungkin untuk dapat memenuhi kebutuhan bawang putih dari produksi di dalam negeri. Meski secara geografis mayoritas lahan tanam yang ada beriklim tropis, Kementan perlu mengembangkan inovasi-inovasi baru guna mendukung produktivitas bawang putih.


“Di era teknologi seperti sekarang saya kira tidak menutup kemungkinan ada varian baru dari bawang putih yang cocok ditanam di sini kan,” kata Nailul.


Bawang putih memang merupakan jenis tanaman hortikultura yang umumnya tumbuh di dataran tinggi atau wilayah dengan iklim subtropis. Untuk itu Nailul menjelaskan, jika Kementan dapat membuat kemungkinan adanya varian baru yang cocok ditanam dengan keterbatasan iklim dan lahan yang ada, Indonesia bisa saja swasembada bawang putih.


Kendati begitu secara realistis, swasembada bawang putih tidak bisa diwujudkan Indonesia dalam jangka waktu cepat. Menurutnya, jika pengembangan produksi melalui penerapan teknologi dan inovasi terus dilakukan oleh Kementan, dalam kurun lima tahun ke depan Indonesia kemungkinan baru bisa menikmati swasembada bawang putih.


“Dalam jangka waktu itu pun, kira-kira baru 50 persennya saja yang bisa swasembada bawang putih,” kata Nailul.


Dia menjelaskan, saat ini pemerintah baik itu Kementan maupun Kementerian Perdagangan (Kemendag) harus saling berkolaborasi dalam memastikan jumlah stok bawang putih yang ada. Karena mayoritas bawang putih secara nasional merupakan hasil importasi, Kemendag perlu melakukan pengawasan serta penelusuran terkait ketersedian dan stok yang dipegang oleh importir.


Sementara itu, kata dia, Kementan harusnya berada di sisi petani untuk memberikan bantuan dan pendampingan guna meningkatkan produktivitas. Sehingga ketika pemerintah tengah membahas importasi, tidak terjadi kesalahan data yang digunakan. Menurutnya, menjadi penting harmonisasi data antara Kementan dengan sejumlah kementerian terkait.


(Sumber : Republika.co.id)