• Sun, 21 April 2019
11 Apr
KOMODITAS BAWANG PUTIH : Impor Batal, Harga Diklaim Aman

Yustinus Andri DP Rabu, 10/04/2019 02:00 WIB


Bisnis, JAKARTA — Pemerintah mengklaim harga dan pasokan bawang putih untuk periode Ramadan dan Lebaran tahun masih aman, kendati rencana impor 100.000 ton dibatalkan.


Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahya Widayanti mengatakan, saat ini stok bawang putih yang ada di dalam negeri mencapai 115.776 ton. Jumlah itu didapatkan dari sisa realisasi impor tahun lalu yang mencapai 571.576 ton.


“Stoknya masih aman dengan asumsi kebutuhan per bulan 30.000 ton dan pada saat bulan puasa dan Lebaran kebutuhannya naik 30%. Kondisi ini aman setidaknya untuk tiga bulan ke depan,” jelasnya saat dihubungi pada Selasa (9/4).


Dia mengaku telah menghitung peningkatan konsumsi bawang putih pada saat momentum Ramadan dan Idulfitri.


Menurutnya, pada kedua momentum tersebut, kenaikan permintaan bawang putih bisa mencapai 49.000 ton dalam sebulan.


Sementara itu, lanjutnya, permintaan kembali normal ketika bulan-bulan biasa. Akibatnya, kendati Perum Badan Urusan Logistik (Persero) batal mengimpor 100.000 ton bawang putih, stok dan pasokan ke pasar terhadap komoditas itu masih akan aman.


Lebih lanjut, dia mengungkapkan, untuk mengamankan pasokan dan harga bawang putih di pasar, pemerintah akan meminta para importir mengeluarkan stoknya untuk digelontorkan di pasar.


Sementara itu untuk membantu menetralkan harga komoditas itu, pemerintah akan membuka operasi pasar di sejumlah titik penjualan utama bawang putih.


Secara terpisah, ketika dimintai keterangan terkait dengan batalnya impor bawang putih oleh Bulog sebanyak 100.000 ton, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan enggan berkomentar banyak.

Dia hanya mengatakan bahwa Kemendag belum menerbitkan surat persetujuan impor (SPI) untuk bawang putih hingga saat ini.

Oke pun tidak menjelaskan alasan dibalik belum terbitnya SPI bawang putih, kendati Bulog telah mengajukan permohonan impor melalui rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH).

“Belum ada SPI yang dikeluarkan sampai saat ini,” tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku belum akan membuka keran impor bawang putih dalam waktu dekat.

Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh masih adanya stok komoditas bumbu masakan tersebut di gudang para importir. Dia pun menegaskan bahwa stok yang ada saat ini berada pada level yang aman.

Sementara itu, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan, saat ini kondisi pasokan bawang putih berada pada posisi yang genting.

Akibatnya harga komoditas itu masih berada di level Rp40.000/kilogram, kendati pemerintah telah melakukan sejumlah program operasi pasar. Adapun, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga bawang puting pada Selasa (9/4) mencapai Rp37.950/kg.

”Kondisi itu diperparah oleh pemerintah yang tidak memiliki instrumen yang tepat untuk intervensi tata niaga bawang putih. Tata niaga bawang putih sepenuhnya dikuasai oleh importir. Sebab 90% bawang putih yang ada di dalam negeri itu impor. Sekarang korbannya adalah pedagang, mereka dituding menjadi pemain harga bawang putih,” jelasnya.

Dia pun meragukan upaya pemerintah melakukan stabilisasi harga bawang putih melalui operasi pasar tidak akan efektif. Pasalnya, operasi pasar tidak memberikan jaminan kepada para pedagang pasokan dan harga komoditas itu akan terkendali pascaoperasi pasar. Alhasil, fluktuasi harga yang tajam akan terus terjadi.

Dengan demikian, dia pesimistis, tanpa ada intervensi yang lebih besar dari pemerintah untuk menstabilkan pasokan, harga bawang putih tidak akan mampu menyentuh harga wajar yang berkisar Rp25.000/kg—Rp30.000/kg.

Ketua Asosiasi Hortikultura Nasional Anton Muslim menambahkan, pemerintah perlu benar-benar memastikan stok yang ada di tingkat produsen dan importir, dengan dibatalkannya rencana impor komoditas itu. Dia khawatir apabila stok yang ada di produsen tidak sebesar yang diperkirakan maka akan membuat harga komoditas itu melonjak tajam saat momentum Lebaran dan bulan puasa. (Yustinus Andri)

Editor : Wike Dita Herlinda

(Sumber : Bisnis.com)