• Sun, 21 April 2019
10 Apr
SAMBUT RAMADHAN : Pabrik Mamin Genjot Produksi

Andi M. Arief Selasa, 09/04/2019 02:00 WIB

Managing Director MGFI Richard Cahadi


Bisnis, JAKARTA – Pengusaha industri makanan mulai menggenjot produksi untuk menghadapi bulan Ramadan. Selain itu, asosiasi juga sedang melihat potensi pasar ekspor baru di Benua Afrika.


Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adhi Lukman mengatakan bahwa peningkatan produksi itu untuk memenuhi permintaan pengusaha ritel.


Adhi berujar, lonjakan permintaan tersebut muncul pada pertengahan Maret lalu dan akan terus berlangsung hingga mendekati Idulfitri.


“Biasanya produk-produk untuk buka puasa seperti sirup, nata de coco, kemudian kudapan yang manis-manis. Perkiraan saya rata-rata setiap bulan bisa naik 30% ,” katanya kepada Bisnis, Senin (8/4).


Maka dari itu, lanjutnya, banyak pabrik makanan dan minuman yang beroperasi maksimum saat ini. Di sisi lain, Adhi mengklaim pertumbuhan produksi industri makanan dan minuman pada kuartal I/2019 lebih baik dari periode yang sama tahun lalu.


Pada kuartal I/2018, berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, industri mamin tumbuh sebesar 12,70%. “Dari beberapa kali pertemuan dengan anggota mereka bilang tahun ini lebih baik,” ucapnya.


Sebelumnya, Federasi Pengemasan Indonesia menilai pemilu tahun ini tidak menjadi momentum peningkatan konsumsi makanan dan minuman dalam kemasan pada masyarakat. Senada, Adhi mengemukakan pesta demokrasi tahun ini tidak memberikan pengaruh yang signifikan kepada pertumbuhan produksi.


Belum lama, Direktur Eksekutif Federasi Pengemasan Indonesia Henky Wibawa memaparkan perubahan gaya hidup masyarakat dari mengonsumsi mamin dalam kemasan menjadi mengonsumsi mamin siap saji membuat pertumbuhan industri kemasan stagnan. Namun, Adhi berpendapat hal itu tidak terjadi pada industri makanan dan minuman.


Menurutnya, mamin siap saji dan mamin dalam kemasan memiliki pasar yang berbeda tapi tetap tumbuh secara paralel. Mamin siap saji, imbuhnya, membutuhkan kemasan yang dapat menjaga produk tetap segar, sedangkan mamin dalam kemasan disiapkan untuk distribusi ke lokasi yang jauh dengan waktu simpan yang lebih lama.


Adhi menargetkan industri makanan dan minuman atau produk olahan pangan di luar sawit dapat tumbuh 10% pada akhir tahun ini menjadi Rp7,7 miliar dari realisasi tahun lalu senilai Rp7 miliar. Adhi menyampaikan asosiasi tengah mencari pasar ekspor baru di benua Afrika seperti Rwanda dan Mozambik.


Kementerian Perindustrian memproyeksikan pertumbuhan industri mamin bisa tumbuh sebesar 9,86% sepanjang tahun ini. Faktor pesta demokrasi lima tahunan pada April mendatang disebut menjadi booster tambahan selain puasa, Lebaran, Natal, dan Tahun Baru. Sementara, pada 2018 sektor ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,25% secara tahunan. (Andi M. Arief)


Editor : Fatkhul Maskur

(Sumber : Bisnis.com)