• Sun, 21 April 2019
10 Apr
KINERJA SEKTOR TEKSTIL 2018 : Pacu Ekspor, Laba Emiten Menebal

Azizah Nur Alfi Selasa, 09/04/2019 02:00 WIB


Bisnis, JAKARTA - Sejumlah emiten tekstil dan garmen telah menyiapkan strategi guna melanjutkan kinerja positif pada tahun ini. Salah satunya dengan memperbesar penjualan ekspor.n


Berdasarkan laporan keuangan 2018, mayoritas perusahaan berhasil membukukan kinerja positif. Dari 16 perusahaan yang telah menyampaikan laporan keuangan, 14 di antaranya berhasil mencetak laba bersih sepanjang tahun lalu.


Pertumbuhan laba bersih tertinggi diraih oleh PT Indo-Rama Synthetics Tbk. (INDR), diikuti PT Trisula International Tbk. (TRIS), dan PT Pan Brothers Tbk. (PBRX).


Adapun, sejumlah emiten seperti PT Century Textile Industry Tbk. (CNTX), PT Eratex Djaja Tbk. (ERTX), PT Ever Shine Tex Tbk. (ESTI), PT Asia Pacific Fibers Tbk. (POLY), dan PT Sunson Textile Manufacturer Tbk. (SSTM), berhasil membukukan laba pada 2018, setelah mencatat rugi pada 2017.


Sekretaris Perusahaan Pan Brothers Iswar Deni mengatakan, peningatakan laba bersih perseroan sejalan dengan kenaikan penjualan 11,29% year-on-year menjadi US$611,37 juta.


“Peningkatan profit dari penurunan biaya operasional US$4 juta dibanding tahun sebelumnya dan unrealized laba selisih kurs dibanding tahun lalu sebesar US$2,7 juta. Tentu juga karena kenaikan penjualan,” katanya pada Senin (8/4).


Penjualan bersih PBRX banyak dikontribusikan dari penjualan Asia sebesar 56,67%, diikuti Amerika Serikat 25,46%, Eropa 15,24%, serta penjualan lainnya 2,63%.


PBRX mengincar pertumbuhan penjualan 10%—15% pada 2019. Jika mengacu pada realisasi tahun lalu, perseroan menargetkan penjualan US$672,51 juta­—US$703,08 juta pada 2019.


Guna merealisasikan target tersebut, Iswar mengatakan PBRX akan meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk. “Kualitas, on time delivery, dan harga yang wajar. Growth akan sangat besar kalau FTA Indonesia dengan negara lain makin banyak.”


Sementara itu, Assistant President Director Corporate Communication Asia Pacific Fibers Prama Yudha Amdan mengatakan, pertumbuhan penjualan sebesar 19,82% sepanjang tahun lalu melampaui target pertumbuhan yang dipasang perseroan sebesar 10%.


Tahun lalu, POLY juga mampu mencatatkan laba bersih US$12,83 juta, setelah merugi US$4,41 juta pada 2017.


Lebih lanjut, POLY optismistis dapat melanjutkan kinerja positif pada tahun ini. Perseroan mengincar penjualan sebesar US$506 juta, naik 6,48% dibandingkan dengan realisasi penjualan 2018.


Prama mengatakan, perseroan bakal memacu penjualan ekspor pada tahun ini sehingga kontribusi ekspor dapat meningkat 30%—35% pada 2019.


“Kami fokus ke Amerika karena peluangnya sama, sebelumnya Vietnam dapat kemudahan TPP . Eropa karena merupakan pasar tradisional kami untuk benang otomotif,” katanya.


Direktur keuangan Sri Rejeki Isman Allan Moran Severino, sebelumnya, mengatakan perseroan berkomitmen untuk terus memperbesar volume ekspor. SRIL menargetkan penjualan ekspor dapat berkontribusi di kisaran 58%—60% dari total penjualan 2019.


Dalam catatan Bisnis, SRIL memasang target pertumbuhan penjualan sebesar 10%—12% pada 2019. Jika mengacu angka tersebut, maka penjualan yang dibidik tahun ini US$1,14 miliar—US$1,16 miliar.


“Perusahaan yakin tingkat daya saing perusahaan tekstil di Indonesia tidak kalah dibandingkan negara-negara lain seperti Vietnam dan Bangladesh. Indonesia saat ini baru mengisi 2%—3% dari kebutuhan tekstil global, di mana nilai ekspor nasional 2018 tercatat sebesar US$13,8 miliar,” katanya dalam keterangan resmi.


Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, permintaan garmen yang meningkat menjadi katalis positif bagi emiten tekstil. Lebih lanjut, pertumbuhan emiten tekstil ditopang oleh penjualan ekspor. Namun, jika terjadi pembatasan ekspor, maka dapat menjadi sentimen negatif.


KATALIS POSITIF

William memberikan rekomendasi beli terhadap saham SRIL dan PBRX dengan target harga jangka pendek masing-masing sebesar Rp350 dan Rp600. “Yang lainnya wait and see, karena terlihat minat pasar belum ada, masih jarang ditransaksikan,” katanya, Senin (8/4).


Lebih lanjut, analis Bina Artha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, perolehan laba bersih mayoritas emiten tekstil menunjukkan konsistensi perusahaan dalam meningkatkan penjualan.


Dia mengatakan, depresiasi rupiah pada tahun lalu menguntungkan emiten yang memiliki orientasi terhadap ekspor. Apalagi, Indonesia merupakan produsen tekstil terbesar di Asia Tenggara dengan tujuan utama pasar ekspor. “Emiten tekstil juga diuntungkan dengan pangsa pasar yang spesifik dan memiliki harga yang kompetitif,” imbuhnya.


Nafan menempatkan SRIL sebagai saham pilihan emiten tekstil dan garmen dengan target harga jangka menengah dan panjang Rp442 dan target harga jangka pendek Rp346.


SRIL menjadi pilihan karena masuk dalam indeks LQ45. Di samping itu, SRIL melakukan ekspansi dengan mendirikan pabrik untuk berbagai jenis tekstil dan menguasai pangsa pasar Asia dan Eropa.


“Secara valuasi, SRIL masih konsisten, valuasi masih menarik. Sejak 2014 hingga sekarang PER masih di bawah 10 kali. Otomatis ini menarik dan layak untuk dicermati,” katanya.


Editor : Ana Noviani

(Sumber : Bisnis.com)