• Sun, 21 April 2019
05 Apr
INDUSTRI BAN : Strategi Menuju Peringkat 5 Pengekspor Dunia

Annisa S. Rini Kamis, 04/04/2019 02:00 WIB


Bisnis, JAKARTA—Indonesia mengincar peringkat lima negara pengekspor produk ban dalam 10 tahun mendatang. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Indonesia yang saat ini berada di posisi 14 tersebut perlu melakukan penetrasi pasar dan menyelesaikan sejumlah pekerjaan rumah industri.

Taufiek Bawazier, Direktur Kimia Hilir dan Farmasi Kementerian Perindustrian, mengatakan bahwa Industri ban nasional ditargetkan masuk peringkat lima eksportir terbesar dunia dalam 10 tahun mendatang dengan nilai pengapalan US$4 miliar.

Saat ini Indonesia berada di peringkat 14 eksportir ban dunia dengan kontribusi 2,28% terhadap pasar global. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor ban luar dan ban dalam Indonesia pada 2018 senilai US$1,62 miliar.

Padahal, Indonesia merupakan produsen karet alam kedua terbesar dunia setelah Thailand. Produksi karet alam Indonesia sebesar 3,63 juta ton, adapun Thailand memiliki kapasitas produksi 4,88 juta ton. Sementara itu, ekspor ban Negara Gajah Putih mencapai US$4,4 miliar dengan pangsa pasar dunia 5,9%.

"Dengan potensi sumber daya serta kondisi industri ban yang ada, Indonesia sewajarnya disejajarkan dengan Thailand yang saat ini menduduki peringkat kelima dunia," ujarnya, Selasa (2/4).

Untuk mencapai target itu, Taufiek mengatakan, dalam jangka pendek perlu dilakukan penetrasi pasar di negara tujuan ekspor utama, seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, Afrika, Commonwealth of Independent States (CIS) atau negara-negara pecahan Uni Sovyet, negara Asia Tenggara, dan Australia. "Tahun ini, target peningkatan ekspor ban sebesar 10%," ujarnya.

Selain itu, sejumlah masalah akses ekspor juga harus segera diatasi, seperti pemberlakuan antidumping di Turki, penerapan nontariff preference di Mesir karena absennya kerja sama perdagangan Indonesia dengan negara tersebut untuk produk ban.

Turki memberlakukan tarif bea masuk antidumping (BMAD) sebesar 25% untuk ban impor dari Indonesia. Adapun ekspor ke Mesir dan negara-negara CIS, produk ban Indonesia dikenai bea masuk 10%--25%, jauh lebih tinggi dari produk Uni Eropa atau Vietnam yang beban tarifnya bisa mencapai 0%.

Di sisi produksi, Taufiek mengatakan, pemerintah berkomitmen untuk menjaga ketersediaan bahan baku dan energi. Menurutnya, sebagian bahan baku ban masih diimpor, seperti karet sintetik, rubber processing oil (RPO), dan rubber chemicals.

"Kualitas pasokan listrik dan gas alam saat ini masih jauh di bawah negara-negara pesaing, seperti China dan Thailand," katanya.

Pemerintah juga mendukung industri dari sisi produktivitas SDM, kualitas dan kuantitas sarana pengangkutan ekspor atau pelayaran, dan perlindungan pasar dalam negeri untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif.

TARIK INVESTASI

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane mengatakan bahwa pemerintah harus konsisten menerapkan aturan untuk melindungi industri ban dalam negeri, untuk menarik investasi di sektor industri ini.

Menurutnya, dua investor mengurungkan niatnya masuk Indonesia dan memilih negara lain. Hal ini lantaran para konsultannya menyatakan bahwa kondisi industri ban Indonesia kurang stabil. Salah satu penyebab kekurang-stabilan itu adalah aturan tata niaga ban.

Aziz menuturkan pada 2016, diterbitkan Permendag Nomor 77/2016 tentang Ketentuan Impor Ban. Dengan aturan ini, impor ban berkurang sekitar 56%. Namun, beleid ini diubah menjadi Permendag Nomor 6/2018 yang dinilai memudahkan impor ban. Terbukti, setelah itu impor ban disebutkan 127%.

Berdasarkan aturan baru, pengecekan proses impor ban tidak lagi harus melalui Dirjen Industri, Kimia, Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian, tetapi hanya melalui Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan.

Akibat impor ban melonjak, akhirnya beleid tersebut kembali direvisi melalui Permendag Nomor 5/2019 yang berlaku mulai 1 Februari 2019. “Pemerintah semestinya konsisten dalam melindungi industri dalam negeri dan harus diperkuat supaya industri juga bisa berkembang,” ujarnya, Selasa (2/4).

Dia menuturkan, perlindungan dari gempuran impor perlu diperkuat karena produk dari India dan China telah dicabut dari daftar penerima generalized system of preference (GSP) oleh Pemerintah Amerika Serikat. Padahal, Negeri Paman Sam menjadi pasar ban besar di dunia.

Selain itu, ketika keran impor dibuka, tidak hanya menganggu industri ban, tetapi juga mematikan industri ban vulkanisir dalam negeri. “Setelah Permendag Nomor 5/2019 berlaku, industri ban vulkanisir mulai tumbuh lagi,” jelasnya.

Kendati menghadapi tantangan produk impor, Aziz menilai, pasar ban dalam negeri masih prospektif, apalagi pemerintah gencar membangun infrastruktur jalan. Bahan baku industri ban juga tersedia di Indonesia, ditambah ketersediaan karet alam berkualitas tinggi.

Saat ini Indonesia menjadi produsen karet alam kedua terbesar di dunia setelah Thailand. “Dari Belarusia juga sudah mau masuk ke Indonesia, ini tergantung pemerintah bagaimana membuat pasar menjadi menarik,” kata Aziz.

Selain itu, satu investor asal Jepang berminat untuk memproduksi carbon black, yang merupakan bahan kimia yang berfungsi sebagai penambah kekuatan dan kelenturan ban, serta untuk pigmen warna ban.

Taufiek Bawazier mengatakan penguasaan teknologi produksi ban dalam negeri bisa berkembang dengan investasi yang masuk dan mendorong pengembangan industri ban nasional.

Dia mencontohkan akuisisi 80% saham Multistrada Arah Sarana oleh Michelin Group pada awal Maret lalu membawa teknologi baru yang selama ini belum diterapkan di industri dalam negeri.

"Khususnya terkait penguasaan teknologi Michelin untuk jenis-jenis ban yang belum bisa diproduksi dalam negeri, seperti ban truk dan bus radial, ban kendaraan pertambangan, ban performa tinggi, run flat tires, dan ban pesawat terbang," ujarnya Selasa (2/4/2019).

Baru-baru ini, pabrikan ban asal Prancis Michelin mengakusisi 80% saham PT Multistrada Arah Sarana Tbk. Aziz mengatakan perusahaan tersebut berani mengambil keputusan karena telah memiliki 10% saham produsen ban nasional lain dan sudah mempelajari pasar Indonesia cukup lama. ()

Editor : Fatkhul Maskur

 

(Sumber : Bisnis.com)