• Sun, 21 April 2019
05 Apr
CADANGAN BERAS PEMERINTAH : Bulog Pacu Serapan Panen Raya
Yustinus Andri DP Kamis, 04/04/2019 02:00 WIB



Bisnis, JAKARTA — Perum Bulog (Persero) menargetkan penyerapan setara beras secara optimal pada masa panen raya dan menjaga neraca cadangan beras pemerintah (CBP) di kisaran 2 juta ton hingga Mei 2019.

Kepala Bagian Humas dan Kelembagaan Bulog Teguh Firmansyah mengatakan, saat ini serapan setara beras Bulog telah mencapai 8.000 ton per hari. Dia menyatakan, Bulog optimistis serapan akan meningkat menjadi 20.000 ton per hari pada April hingga Mei 2019.

“Serapan kami mulai naik karena sudah saat panen raya.

“Dengan fleksibilitas 10% dari harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp3.700 kami yakin bisa menyerap dengan maksimal pada panen raya ini. Kalaupun harga bergerak di atas HPP, kami bisa melakukan penyerapan dengan skema komersial,” katanya, Rabu (3/4).

Dia menambahkan, saat ini stok CBP Bulog berada pada kisaran 1,8 juta ton. Menurutnya, Bulog akan tetap melakukan penyerapan secara maksimal dan sesuai target kendati stok CBP berada pada kisaran yang tinggi.

Menurutnya, sepanjang Januari hingga kemarin (Rabu 4/3), penyerapan setara beras Bulog telah mencapai 86.000 ton. Dia meyakini, hingga akhir April, serapan dapat melonjak dan mencapai target yang ditetapkan yakni 1,6 juta ton.

Lemahnya serapan Bulog sepanjang Januari—Maret 2019, menurutnya, terjadi karena harga beras atau gabah di tingkat petani masih tinggi lantaran belum memasuki masa panen. Sementara itu, di sejumlah sentra produksi, ketika telah memasuki masa panen, kualitas produksi beras yang dihasilkan petani tidak terlalu bagus karena dilanda banjir.

“Selain itu, masa panen raya tahun ini juga mundur, sehingga penyerapan dari Januari—Maret 2019 tidak sekencang periode yang sama tahun lalu. Namun, kami optimistis serapan akan tetap dapat maksimal tahun ini,” tegasnya.

Selain itu, sambungnya, Bulog masih akan mengandalkan penyaluran dari operasi pasar (OP) dan bantuan kemanusiaan pada tahun ini, lantaran saluran untuk bantuan social beras sejahtera (bansos rastra) resmi ditutup dan digantikan dengan bantuan pangan nontunai (BPNT) secara penuh mulai April 2019.

Bulog, lanjutnya, meyakini dapat melakukan penyaluran secara optimal lantaran ditugaskan melakukan operasi pasar dengan target 15.000 ton per hari. Dengan demikian, stok di Bulog dapat terjaga pada level yang wajar.

Dalam melakukan penyaluran pada tahun ini, Teguh mengatakan, Bulog akan mengutamakan beras yang diserap dari petani. Sementara itu, beras eks impor tahun lalu akan ditahan lantaran daya tahannya yang mampu mencapai 2 tahun.

BERJALAN LANCAR

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdalifah Mahmud menyatakan, proses penyerapan pada tahun ini akan berjalan lancar. Pemerintah telah menugaskan Bulog untuk menyerap beras di sentra-sentra produksi yang mulai mengalami panen raya.

“Untuk kualitas beras dan harga pembelian di tingkat petani, kami percaya dapat terakomodasi dengan baik oleh Bulog.

“Pemerintah sudah memberikan bantuan pengering di sejumlah sentra produksi yang diperkirakan dilanda hujan dengan intensitas tinggi. Di sisi lain, kami juga sudah memberikan kelonggaran melalui skema pembelian beras secara komersial kepada Bulog,” jelasnya.

Dia melanjutkan, untuk sementara Bulog masih akan mengandalkan penyaluran berasnya melalui skema OP. Terkait dengan skema penyaluran dalam bentuk lain, menurutnya, masih dalam pembahasan di tingkat pemerintah.

Secara terpisah, pengamat pangan dari Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia Husein Sawit meragukan optimisme Bulog dalam melakukan penyerapan dan penyaluran sesuai target pada panen raya kali ini. Dia meyakini, Bulog tidak akan dapat menyerap lebih dari 1 juta ton pada panen raya kali ini.

“Kalau nanti panen raya sudah mulai terjadi secara masif, penggilingan besar akan masuk ke petani dan melakukan pemyerapan. Hasilnya, harga gabah di tingkat petani akan naik dan saya yakin akan bergerak di atas HPP beserta fleksibilitasnya 10% yang diberikan pemerintah. Jadi, akan sulit bagi Bulog untuk leluasa menyerap,” jelasnya.

Apabila penyerapan oleh Bulog dapat dilakukan sesuai target atau mencapai 1,6 juta ton hingga bulan ini, dia justru melihat akan menjadi bencana bagi Bulog. Pasalnya, perusahaan pelat merah tersebut tidak lagi memiliki jalur penyaluran beras setara bansos rastra yang mencapai 1,2 juta ton pada tahun lalu.

Terlebih, tahun ini jatah penyaluran melalui bansos rastra hanya mencapai 210.000 ton. Alhasil, ancaman pembusukan beras di gudang Bulog akibat kelebihan stok bisa terjadi kembali pada tahun ini. Dia pun tak yakin beras impor akan memiliki daya tahan lebih dari 1 tahun.

Di sisi lain, menurutnya, satu-satunya jalan memaksimalkan penyaluran beras Bulog adalah dengan dengan melakukan OP sepanjang tahun, seperti tahun lalu.

Ketua Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia Dwi Andreas mengatakan, dengan masuknya Bulog di pasar melalui OP sepanjang tahun, akan membuat penggilingan kecil tertekan. Pasalnya, pelaku sektor itu tidak akan lagi mendapatkan margin usaha yang signfikan, karena terus diiintervensi oleh beras Bulog.

“Mereka para pengusaha penggilingan kecil akhirnya akan beralir ke beras segmen premium setelah beras medium terus ditekan melalui operasi pasar. Akibatnya, stok beras premium di pasar berkurang dan harga beras secara keseluruhan akan tertarik ke atas,” jelasnya.

Untuk itu, dia meminta agar Bulog dan pemerintah memperbaiki sistem perberasan nasional, salh satunya dengan menyediakan saluran baru penyaluran beras CBP dan merevisi HPP komoditas pangan tersebut. Tanpa ada perbaikan di bidang tersebut, masalah perberasan nasional akan terus memburuk.

Editor : Wike Dita Herlinda

(Sumber : Bisnis.com)