01 Apr
TARGET LIMA BESAR PRODUSEN DUNIA : Investasi Besar Masuki Sektor TPT

Annisa S. Rini Jum'at, 29/03/2019 02:00 WIB


Bisnis, JAKARTA - Investasi raksasa dipastikan mulai mengalir ke sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), sekaligus memperkuat optimisme Indonesia masuk lima produsen terbesar dunia pada 2030. Sembari mendorong kesiapan memasuki era industri 4.0, pemerintah berpeluang menggandakan ekspor ke Eropa.


Kepastian mulai masuknya investasi ke sektor TPT itu sampaikan Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat di sela-sela pameran Indo Intertex, Inatex, Indo Dyechem, dan Indo Texprint 2019 di Jakarta, Kamis (28/3).


“Investornya dari China, nilainya Rp6 triliun. Mereka akan bangun pabrik yang diperkirakan mulai beroperasi pada 2020,” ujar Ade. Pabrik ini akan memproduksi benang, kain, terutama bahan kemeja, hingga proses akhir.


Saat ini, investor asal China tersebut sedang dalam proses pembebasan lahan. Lokasi pabrik ini berada di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah.


Ade menjelaskan, kehadiran investor dari China tersebut salah satunya didorong oleh pihak pembelinya di Amerika Serikat dan Eropa. Mereka menyarankan agar produsen melakukan relokasi pabrik ke Indonesia sehingga bisa langsung link and match dengan industri pakaian jadi nasional.


“Nanti bisa mengurangi impor sekitar US$1 miliar. Dengan pindah ke sini buyer juga diuntungkan karena pengiriman lebih pendek dan cepat," ujarnya. Selama ini, industri garmen di Indonesia butuh 10 hari untuk mengimpor kain. Selain waktu, biaya juga akan dihemat, termasuk bunga kredit bank. Lead time sangat penting bagi buyer.


Selain itu, pabrik baru ini diproyeksikan turut mendongkrak ekspor TPT mulai 2021. Pada tahun ini, ekspor TPT Indonesia diperkirakan mencapai US$15 miliar, naik 15% dari tahun lalu yang sekitar US$13,8 miliar.


Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, investasi senilai Rp6 triliun di sektor TPT merupakan jumlah besar. Dia berpendapat, industri TPT khususnya di sektor antara, memang harus segera dikembangkan untuk mempertahankan permintaan global akan produk hilir.


Menurutnya, industri tekstil antara dalam negeri sudah lama tidak ada pemain baru maupun ekspansi dari perusahaan yang ada. Alasannya, investasi kurang menarik lantaran pasar dalam negeri dibanjiri produk impor.


Namun, lanjutnya, industri antara dalam negeri harus segera dikembangkan karena pembeli di luar negeri akan mencari pabrikan dengan sumber pasok lokal untuk mempercepat pengiriman. Selain itu, ekspor pakaian jadi dari Indonesia bisa menurun apabila terus mengandalkan impor karena membutuhkan waktu pengiriman lebih lama.


“Kalau enggak bangun midstream, ekspor garmen dalam 2—3 tahun ke depan bisa anjlok. Buyer tidak hanya melihat masalah kualitas dan harga, tetapi juga masalah waktu pengiriman,” ujarnya.


Untuk bisa membangun industri tekstil antara yang kuat, menurutnya, pemerintah harus memberikan kepastian pasar dalam negeri ataupun memberikan insentif bagi pelaku industri agar mampu bersaing.


Dia mencontohkan utilitas industri tekstil antara di Turki pada 5 tahun lalu hanya 30%, tetapi begitu diterapkan safeguard pada impor kain, kapasitas terpasang pabrik naik menjadi 80% dan investasi bertumbuh karena ada kepastian serapan pasar.


“Kalaupun pemerintah tidak bisa memberikan insentif pajak, ya local market kasih ke produsen nasional. Saat ini kondisinya insentif tidak ada, pasar banyak diambil oleh impor,” katanya.


Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, perang dagang antara Amerika Serikat dan China menciptakan peluang baru bagi Indonesia, yang mana beberapa manufaktur yang ingin memindahkan basis produksinya ke Indonesia demi menghindari tarif tinggi AS.


Pada tahun ini, terdapat investor China yang bakal menanamkan modalnya senilai Rp10 triliun di sektor industri tekstil. Investasi ini mengarah kepada pengembangan sektor menengah atau midstream, seperti bidang pemintalan, penenunan, pencelupan, dan pencetakan.


“Kami terus mendorong peningkatan investasi, terutama di sektor yang menjadi prioritas penerapan industri 4.0,” katanya. Sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0, Indonesia ditargetkan masuk lima besar produsen TPT di dunia pada 2030.


Muhdori, Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian, mengatakan bahwa salah satu cara untuk mencapai target tersebut adalah transformasi industri dengan mengoptimalkan teknologi digital.


Transformasi ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta daya saing industri. “Teknologi digital yang bisa dimanfaatkan antara lain 3D printing, automation, dan internet of things,” ujarnya.


Sebagai bagian dari upaya mendorong perkembangan industri, digelar empat pameran internasional sekaligus bertema Investasi Menyambut Making Indonesia 4.0 di Jakarta International Expo Kemayoran pada 28–30 Maret 2019, yakni Indo Intertex, Inatex, Indo Dyechem, Indo Texprint.


Indo Intertex menampilkan produk permesinan dan peralatan industri tekstil dan garmen, Inatex menampilkan bahan baku serat, benang, kain, aksesoris, produk fesyen, serta produk industri nonwoven. Indo Dyechem menampilkan kimia tekstil, peralatan pewarnaan dan finishing, dan Indo Texprint menampilkan mesin-mesin cetak tekstil digital.


Pameran ini diikuti 500 perusahaan dari 20 negara, seperti China, Jepang, Korea, Taiwan, India, Singapura, Vietnam, Hong Kong, Jerman, Italia, Turki, dan Indonesia. Pameran ini menargetkan transaksi US$150 juta dengan pengunjung 15.000 orang.


EKSPOR KE UNI EROPA

Ade Sudrajat, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), mengatakan ekspor TPT ke Uni Eropa bisa digandakan apabila pemerintah berhasil menggolkan perjanjian dagang. Saat ini TPT Indonesia yang diekspor ke Uni Eropa dikenai bea masuk 11%--25%, sehingga pengapalan belum optimal. Padahal UE merupakan pasar terbesar di dunia.


"Kalau ada perdagangan bebas dengan UE dan produk Indonesia diperlakukan sama dengan produk Bangladesh dan Vietnam, kami bisa bersaing secara fair. Kalau sekarang, tidak bisa karena kami bayar bea masuk lebih tinggi, sedangkan mereka 0%," katanya.


Saat ini, kontribusi ekspor ke Uni Eropa terhadap total ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia cukup besar walaupun Amerika Serikat masih menjadi pasar terbesar. Dari total ekspor TPT senilai US$13,8 miliar pada tahun lalu, AS berkontribusi sekitar 36%.


Ade melanjutkan, tidak hanya berdampak pada ekspor ke UE apabila perjanjian dagang bisa dirampungkan, tetapi industri juga bisa tumbuh hingga double digit. "Saat ini sekitar 6%--7%, dengan perjanjian dengan UE bisa tumbuh hingga dua digit karena buyer bergairah ekspor TPT ke wilayah tersebut melalui Indonesia," ujar Ade.


Lebih jauh, dia menuturkan, Indonesia tertinggal dibandingkan negara lain, seperti Bangladesh dan Vietnam dalam perjanjian dagang dengan UE, baru sekarang ini pemerintah mengupayakan perundingan. Pelaku usaha pun berharap perjanjian dagang dengan UE bisa dirampungkan pada tahun ini.


Tidak hanya industri TPT, industri alas kaki pun juga menunggu perjanjian dagang dengan UE.


Budiarto Tjandra, Ketua Pengembangan Sport Shoes & Hubungan Luar Negeri Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), menyebutkan hingga kini, Amerika Serikat dan kawasan Uni Eropa masih menjadi pasar terbesar untuk produk kaki dalam negeri dengan kontribusi masing-masing sebesar 30%.


Oleh karena itu, apabila Indonesia bisa menyelesaikan perjanjian dagang dengan Uni Eropa, nilai ekspor alas kaki keseluruhan bisa naik 10% -- 20%. Sepanjang tahun lalu, ekspor alas kaki tercatat sekitar US$5,11 miliar, naik 4,15% dari tahun sebelumnya yang senilai US$4,91 miliar. Dari sisi pertumbuhan, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 9,42% pada 2018, naik cukup tinggi dari tahun sebelumnya 2,22%.

Editor : Fatkhul Maskur

 

(Sumber : Bisnis.com)