29 Mar
KINERJA EKSPOR : Industri Mamin Berpeluang Bangkit

Annisa S. Rini Kamis, 28/03/2019 02:00 WIB


Bisnis, JAKARTA - Ekspor industri makanan dan minuman pada tahun ini diyakini membaik. Di tengah ancaman sejumlah sentimen negatif di pasar global, Indonesia memiliki sejumlah faktor pendongkrak kenaikan kinerja pengapalan produknya.


Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman memproyeksikan kinerja ekspor produk makanan dan minuman olahan sepanjang tahun ini akan lebih baik dibandingkan dengan capaian pada tahun lalu.


Pada 2018, nilai ekspor sektor mamin dengan memasukkan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) sekitar US$29 miliar atau turun dibandingkan 2017 yang senilai US$31 miliar. Namun, untuk ekspor mamin olahan saja tanpa memasukkan CPO, masih terjadi peningkatan 5% secara tahunan.


“Tahun ini saya yakin masih ada peningkatan untuk mamin olahan selain sawit. Harapannya bisa naik 10% tahun ini, walaupun tidak mudah,” ujarnya seusai acara Kongkow Bisnis Pas FM di Jakarta, Rabu (27/3).


Dia merinci nilai ekspor mamin olahan tanpa minyak sawit diproyeksikan ke arah US$7,5 miliar, sedangkan apabila memasukkan CPO bisa mencapai US$32 miliar. Adhi menyebutkan nilai ekspor mamin olahan pada 2018 belum mencapai US$7 miliar.


Menurutnya, beberapa faktor yang mendongkak kenaikan ekspor mamin pada tahun ini antara lain penambahan perjanjian bilateral dengan beberapa negara, seperti IA-CEPA dengan Australia yang ditandatangani pada awal bulan ini.


Selain itu, pemerintah dan pelaku usaha juga telah bergerilya ke negara-negara Afrika, seperti Djibouti dan Kamerun, walaupun saat ini belum resmi ditandatangani perjanjian dagang antarnegara. "Kami akhirnya business to business, partner bisnis kami di sana minta persetujuan pemerintah sana untuk perlakuan khusus."


Di sisi lain, industri mamin juga mewaspadai sentimen negatif, seperti larangan-larangan dari Uni Eropa terhadap produk CPO Indonesia, kondisi perang dagang yang belum pasti, serta situasi politik dunia yang tidak menentu.


Adhi juga mengusulkan agar ekspor produk olahan dalam negeri lebih efektif, seperti pusat promosi perdagangan atau Indonesia trade promotion center (ITPC) perlu direvitalisasi. Pasalnya, ITPC berperan sebagai ujung tombak pemasaran produk Indonesia.


Menurutnya, hal yang bisa diubah antara lain pegawai ITPC bisa mendapatkan fee apabila berhasil membuka jalan bagi produk nasional. "Sekarang ini, karena ITPC merupakan orang pemerintahan, tidak boleh dapat fee. Ini harus dirombak sehingga kami bisa kontribusi dan mereka dapat biaya operasional."


Selain itu, pemerintah juga dinilai perlu menginisasi kembali semangat Asean karena salah satu anggota, yaitu Filipina, tiba-tiba mengenakan special safeguard sekitar 15% terhadap produk kopi dan olahan kopi dari Indonesia. Nilai ekspor produk tersebut mencapai US$600 juta per tahun.


Pengenaan special safeguard tersebut dinilai mencederai semangat pasar bebas Asean. "Saat ini sedang dilakukan perundingan dengan Pemerintah Filipina terkait safeguard, kalau perundingan ini gagal, bisa pengaruh ke ekspor mamin olahan," ujar Adhi.


Kementerian Perindustrian mencatat industri mamin sepanjang 2018 bertumbuh sebesar 7,91% atau di atas pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5,17%. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menuturkan produk makanan dan minuman Indonesia telah dikenal memiliki daya saing di kancah global melalui keragaman jenisnya.


“Industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap nilai ekspor nasional,” ujarnya.


Pada 2017, tercatat ekspor produk manufaktur nasional di angka US$125,1 miliar, melonjak hingga US$130 miliar pada 2018 atau naik sebesar 3,98%. Sektor manufaktur juga mencatatkan kontribusi paling tinggi, sebesar 72,25% terhadap total ekspor nasional.


Airlangga optimistis industri mamin nasional mampu melakukan terobosan inovasi produk dalam memenuhi selera konsumen dalam dan luar negeri. Terlebih lagi adanya implementasi industri 4.0, dengan pemanfaatan teknologi terkini dinilai dapat menghasilkan produk yang berkualitas dan kompetitif.


Editor : Fatkhul Maskur

(Sumber : Bisnis.com)