29 Mar
BI pantau penurunan harga komoditas dan impor untuk proyek infrastruktur

Rabu, 27 Maret 2019 / 18:43 WIB

ILUSTRASI. Pembangunan Jalan Tol Dalam Kota Jakarta, ruas Kelapa Gading - Pulogebang

 

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) tengah fokus menekan defisit transaksi berjalan atawa current account deficit (CAD). Tujuannya adalah untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih stabil dan tinggi. Karena itu, bank sentral memberi perhatian utama pada ekspor komoditas dan impor bahan baku infrastruktur.


Deputi Senior Gubernur BI Mirza Adityaswara mengatakan, BI tengah memerhatikan dua hal yang menjadi penyebab defisit terus melebar yaitu harga komoditas yang turun. Ini berdampak pada penurunan nilai ekspor komoditas. Kemudian proyek pembangunan infrastruktur juga membutuhkan banyak bahan baku yang sebagian dipenuhi dari impor.


"Memang ada dampak impor capital goods (barang modal), impor terkait infrastruktur 2018 sekitar US$ 6 miliar," jelas Mirza, Rabu (27/3).


Mirza mengandaikan, apabila tidak ada impor terkait infrastruktur maka CAD bisa dikisaran 2,5% dari PDB atau setara US$ 25,1 miliar. Kendati demikian, dia menegaskan impor ini memiliki dampak yang baik bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri karena dapat menunjang kemudahan berusaha dan perbaikan iklim investasi.


Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang 2018, impor bahan baku tumbuh 20,06% dari US$ 117,85 miliar menjadi US$ 141,49 miliar, sedangkan barang modal tumbuh 19,54% dari US$ 25,06 miliar menjadi US$ 29,96 miliar.


Bahan baku memang menjadi pendorong utama peningkatan impor dengan peran 75,01%.


Berdasarkan golongan barang utama, kenaikan terjadi antara lain pada benda-benda dari besi dan baja tumbuh 47,95% year on year (yoy), mesin-mesin/pesawat mekanik tumbuh 24,94%, serta besi dan baja tumbuh 28,31%.


Sedangkan tahun lalu, bahan baku/penolong tumbuh hanya 16,56%, dan barang modal tumbuh hanya 12,14%. Tahun 2017, impor mesin dan pesawat mekanik tumbuh 3,57%. Sisanya, dengan pertumbuhan tinggi adalah buah-buahan (40%), serta perhiasan dan permata (27,36%).

 

Reporter: Benedicta Prima
Editor: Noverius Laoli

Sumber: Kontan