29 Mar
BAHAN BAKU MAHAL : Produksi Baja Mentah Dunia Menyusut

Finna U. Ulfah Kamis, 28/03/2019 02:00 WIB


Bisnis, JAKARTA — Harga baja menguat seiring dengan bahan baku yang semakin mahal dan kemudian memicu terjadinya tekanan pasokan di seluruh dunia.


Berdasarkan laporan World Steel Association, produksi baja mentah yang berasal dari 64 negara di seluruh dunia berjumlah 137,3 juta ton pada Februari 2019 menurun dari produksi Januari sebesar 150,3 juta ton.


Walaupun demikian, produksi baja mentah di seluruh dunia pada Februari 2019 justru meningkat 4,1% secara tahunan atau year on year.


Sementara itu, produksi baja mentah China, sebagai produsen terbesar di dunia, terkontraksi menjadi sebesar 71 juta ton dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang berhasil memproduksi baja mentah sebesar 78,6 juta ton. Produksi tersebut menjadi yang terendah dalam kurun waktu 1 tahun terakhir.


Selain itu, pada Februari 2019, India telah memproduksi baja mentah sebesar 8,7 juta ton, yang kemudian mengukuhkan negara itu sebagai produsen terbesar kedua di dunia, disusul oleh Jepang yang menghasilkan 7,7 juta ton baja mentah.


Adapun, Amerika Serikat memproduksi 6,9 juta ton baja mentah pada Februari 2019 dan naik 4,6% secara year on year.


Di Uni Eropa, Italia memimpin negara produsen baja mentah untuk Februari 2019 dengan memproduksi 2 juta ton, diikuti oleh Perancis yang memproduksi 1,2 juta ton baja mentah dan Spanyol yangh memproduksi 1,1 juta ton baja mentah.


Penurunan produksi baja mentah China seiring dengan upaya pemerintah lokal yang memerintahkan industri berat, termasuk pabrik baja, untuk memotong produksinya pada November 2018 hingga Maret 2019 untuk meningkatkan kualitas udara saat musim dingin.


Akibatnya, harga baja dan bahan bakunya di pasar berjangka bergerak naik. Hingga saat ini pun, harga masih bergerak naik karena investor masih memandang perkiraan pembatasan produksi tersebut masih akan dilakukan hingga April.


Pemerintah China juga belum memberikan kepastian terkait dengan pembatasan produksi akan sepenuhnya dihapus hingga April.


“Meskipun permintaan telah meningkat di sektor hilir, pasar tetap khawatir tentang peningkatan pasokan yang akan terjadi setelah Maret, karena pada umumnya investor berharap pembatasan produksi masih tetap terkontraksi pada April," tulis Orient Futures dalam riset hariannya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (27/3/2019).


Namun, berdasarkan laporan konsultan Mysteel, beberapa pabrik baja di China telah memulai kembali aktivitas produksinya dengan tingkat utilisasi yang naik menjadi 63,4% pada 22 Maret, dari 62,3% pada pekan sebelumnya.


Berdasarkan data Bloomberg, harga bijih besi pada perdagangan Rabu (27/3) pukul 14.00 WIB di bursa Dalian bergerak cukup stabil di level 613,50 yuan per ton dan telah bergerak cukup signifikan sepanjang tahun berjalan, naik 13,51%.


Sementara itu, harga hot-rolled coil, produk baja kelas manufaktur, di bursa Shanghai naik 0,25% atau 9 poin menjadi 3.667 yuan per ton. Harga baja rebar juga naik 0,24% menjadi 3.709 yuan per ton.


Namun, harga baja spot telah jatuh selama tiga hari berturut-turut, menurut data Mysteel, mencerminkan sentimen yang rapuh di antara para pedagang dan di tengah kekhawatiran pasar terkait dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat sehingga dapat menekan permintaan.


"Sektor hilir tampak enggan membeli produk baja di tengah turunnya margin keuntungan, mereka cenderung beroperasi dengan inventaris harga yang lebih rendah untuk mengurangi risiko penurunan harga baja," tulis Orient Futures


Di sisi lain, penurunan produksi China menyusul rilis data sektor Industri China terburuk sejak 2011. Biro Statistik Nasional (NBS) China mengumumkan keuntungan yang diperoleh sektor industri pada Januari—Februari turun 14% secara tahunan menjadi 708,01 miliar yuan atau sekitar US$105,50 miliar.


DEFISIT BIJIH BESI

Sementara itu, pasar bijih besi global diprediksi mengalami defisit menyusul kecelakaan bendungan dan pembatasan produksi dari pemasok utama, Vale SA.


Pendiri Fortescue Metals Group Andrew Forrest mengatakan bahwa pasar harus menghadapi kenyataan potensi defisit pada pasar bijih besi dan memperingatkan produsen lain menghadapi kendala dalam meningkatkan output.


"Sementara penambang Australia terlihat sangat keras untuk membantu pelanggan agar harga menjadi lebih terjangkau, tetapi hal tersebut tidak dapat menjamin akan membantu mengisi defisit," ujar Forrest seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (27/3).


Harga bijih besi tengah menuju penguatan kuartalan terbesar sejak akhir 2017, karena investor berusaha untuk mengukur konsekuensi dari gangguan pasokan akibat kecelakaan mematikan di tambang milik Vale di Brazil.


Analis Citigroup pun telah memperingatkan pasar bahwa dampak penuh dari bencana tersebut dapat memacu reli penguatan bijih besi mencapai US$100 per ton.


Perusahaan tambang besar lainnya, Rio Tinto Group dan BHP Group, belum lama ini mengatakan tidak dalam posisi untuk menambah produksi dengan cepat.


Namun, Kepala Operasional Fortescue Greg Lilleyman mengisyaratkan pada pekan lalu bahwa perusahaan dapat meningkatkan pasokan dari tambang yang sedang dikembangkan di Australia jika dampak dari bencana Brasil tetap ada.


Di sisi lain, harga bijih patokan berada di level US$85,10 per ton pada perdagangan Selasa (26/3), naik 17% sejak awal 2019. Dalam perdagangan sesaat kecelakaan Vale, harga bijih besi naik ke level US$91,50 pada awal Februari, level tertinggi sejak Maret 2017.


Namun, pada perdagangan Rabu (27/3/2019), bijih besi jatuh untuk 3 hari berturut-turut di bursa Singapura di level US$81,80 per ton.


Perusahaan keuangan termasuk Credit Suisse Group AG dan Morgan Stanley telah menandai defisit, dan top eksportir Australia pun telah menaikkan perkiraan harga bijih besi.


Selain itu, Vale SA memilih untuk tidak memberikan pedoman harga dan produksi bijih besi 2019, juga telah menutup aktivitas pertambangan di tambang yang menghasilkan hampir 93 juta ton bijih besi per tahun.


Editor : Gajah Kusumo

 

(Sumber : Bisnis.com)