28 Mar
PROYEKSI 2019 : Mamin Tumpuan Industri Plastik

Andi M. Arief Rabu, 27/03/2019 02:00 WIB


Bisnis, JAKARTA – Industri plastik diproyeksi tumbuh sekitar 6% per tahun hingga 2030 lantaran ditopang pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) serta sektor konstruksi.


Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) menyatakan produksi plastik dalam negeri akan tumbuh mencapai 5,2% pada tahun ini. Asosiasi menilai salah satu pendorong pertumbuhan produksi industri plastik tahun ini adalah tumbuhnya industri makanan dan minuman sebesar 8,9%.


Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiyono mengatakan sektor konstruksi juga akan menjadi pendorong pertumbuhan volume produksi pada tahun ini. “ kami di makanan dan minuman sama infrastruktur. Kan bahan bangunan dan pipa bangunan pakai plastik. Jalan tol masih dibangun lagi. MRT dibangun lagi,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (25/3).


Adapun Inaplas akan membuat peta jalan perbaikan industri daur ulang plastik. Asosiasi menyatakan akan mengubah proses daur ulang plastik menjadi pilah-angkut-proses dari kumpul-angkut-buang.


Fajar mengatakan hal itu dilakukan agar industri plastik tidak lagi menjadi kambing hitam isu pencemaran lingkungan. Menurutnya, utilisasi pabrik industri daur ulang plastik dapat mencapai 100% jika peta jalan tersebut telah rampung dan diterapkan.


“Sebenarnya utilisasinya baru sekitar 80%, jadi masih ada idle 2015 karena kurangnya pasokan dari material yang bisa didaur ulang. Padahal, di satu sisi dampaknya banyak,” ujarnya.


Asosiasi mencatat industri plastik daur ulang menopang 29,37% dari kebutuhan plastik nasional yakni sebesar 1,6 juta ton pada akhir tahun lalu. Adapun, produksi dalam negeri dan impor masing-masing menopang 43,05% dan 29,63%. Jika utilisasi pabrik industri daur ulang mencapai 100%, kontribusi plastik daur ulang ke kebutuhan plastik nasional dapat menjadi 36,71% atau sebesar 2 juta ton plastik daur ulang.


INVESTASI

Sementara itu, Fajar menuturkan akan ada sejumlah investasi asing yang masuk dalam pengembangan industri plastik hulu dan hilir pada tahun ini. Pada sektor hulu, lanjutnya, akan masuk investasi senilai US$250 juta dengan tambahan kapasitas produksi sekitar 100.000 ton per tahun.


Masuknya investasi pada sektor hilir masih menunggu pasca pemilihan presiden rampung. Menurut Fajar, akan ada beberapa investor pada beberapa sektor seperti usaha pengemasan khusus, peralatan rumah tangga, pengemasan kosmetik, dan pengemasan produk perawatan.


Dia mengatakan pemanfaatan investasi pada industri plastik hilir dapat lebih cepat mengingat pembuatan mesin industri plastik hilir memakan waktu sekitar 8 bulan—10 bulan. Selain itu, investasi pada industri plastik hilir pada tahun ini berada di rentang Rp10 miliar—Rp30 miliar.


Berdasarkan data Inaplas, kebutuhan plastik nasional akan mencapai 5.290 metrik ton pada 2020. Adapun, angka tersebut akan meningkat 30,92% pada 2025 menjadi 6.986 metrik ton.


Fajar menyampaikan pada 2021—2022 akan masuk investasi baru hampir US$9 miliar. Investasi tersebut yakni pendirian pabrik baru oleh PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. dan PT Lotte Chemical Titan Nusantara.


Dihubungi terpisah, Corporate Secretary PT Panca Budi Idaman Lukman Hakim menuturkan kapasitas produksi perseroan akan tumbuh 32,96% menjadi 121.000 ton per tahun pada akhir tahun ini dari realisasi akhir tahun lalu sejumlah 91.000 ton per tahun.


“Karena kami ada peningkatan pabrik di Pemalang 27.000 ton per tahun, kemudian pabrik yang di Johor 4.000 ton per tahun,” ujarnya kepada Bisnis.


Lukman menuturkan dengan adanya pabrik baru tersebut, perseroan dapat memenuhi permintaan kepada perseroan 100% tanpa menyewa tenaga luar. Pada akhir taun lalu perseroan hanya mampu menyerap 780% dari total permintaan yang diterima, sedangkan sisanya dilimpahkan kepada tenaga outsourcing.


Menurutnya, nilai investasi pendirian pabrik di Pemalang berkisar Rp195 miliar—Rp200 miliar. Seperti diketahui, Panca Budi merupakan pabrik pengemasan produk makanan dan minuman.


Editor : Galih Kurniawan

 

(Sumber : Bisnis.com)