27 Mar
Impor Tekstil Diproyeksi Naik Signifikan 15%

Impor tekstil sepanjang tahun ini diperkirakan naik hingga 15% dengan adanya dua momentum yang mendorong kenaikan kebutuhan dalam negeri. Industri pun meminta Presiden Joko Widodo turun tangan langsung untuk melindungi industri dari serangan impor.

Annisa Sulistyo Rini | 25 Maret 2019 18:15 WIB

Calon pembeli memilih bahan kain di Pusat Grosir Tanah Abang, Jakarta, Jumat (14/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja


Bisnis.com, JAKARTA — Impor tekstil sepanjang tahun ini diperkirakan naik hingga 15% dengan adanya dua momentum yang mendorong kenaikan kebutuhan dalam negeri. Industri pun meminta Presiden Joko Widodo turun tangan langsung untuk melindungi industri dari serangan impor.


Redma Gita Wirawasta, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), mengatakan dengan kondisi saat ini, di mana impor belum dikendalikan dengan optimal, kenaikan sepanjang 2019 diperkirakan naik double digit dibandingkan realisasi impor tahun lalu.


“Tahun ini kan kebutuhan buat baju-baju kampanye dan juga ada momen Lebaran. Dengan kondisi sekarang, saya perkirakan impor bakal naik sampai 15%,” ujarnya saat dihubungi, Senin (25/3/2019).


Redma menyebutkan kenaikan kebutuhan tekstil menjelang hari raya terlihat dari permintaan per kuartal di mana Lebaran jatuh. Misalnya, tahun lalu Idul Fitri jatuh pada Juni, maka kebutuhan pada kuartal II tahun lalu naik dua kali lipat dibandingkan kuartal I.


Sementara itu, dia menuturkan permintaan tekstil untuk kebutuhan kampanye tahun ini mendorong permintaan, tetapi tidak signifikan. Menjelang Lebaran tahun ini, impor diperkirakan akan naik pada akhir April dan Mei.


“Biasanya yang naik impornya produk kain dan pakaian jadi. Impor kain banyak dari China, Korea Selatan, dan Taiwan. Kalau garmen banyak dari negara Asean, seperti Thailand dan Vietnam,” katanya.


Dengan impor tekstil yang berada dalam tren kenaikan setiap tahun, pertumbuhan industri pun cenderung stagnan. Salah satu yang disoroti oleh para pelaku industri tekstil adalah aturan yang memperbolehkan seluruh impor masuk melalui pusat logistik berikat (PLB).


Menurut Redma, kebijakan tersebut menunjukkan ketidaksinkronan antar Kementerian. “Kemenkeu melarang impor borongan, tetapi Kemendag ada aturan impor lewat PLB,” jelas Redma.


Oleh karena itu, pihaknya pun meminta Presiden Joko Widodo turun langsung mengatasi masalah gempuran impor di sektor tekstil. Asosiasi, lanjutnya, akan mengirim surat langsung kepada Presiden, apalagi masalah impor menjadi biang kerok defisit neraca perdagangan dalam 2 tahun terakhir.


“Presiden kan selalu mengeluh defisit neraca perdagangan, kami mohon Presiden yang langsung turun tangan karena sebenarnya sudah tahu betul permasalahannya ada di mana," ujar Redma.


Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, , impor produk tekstil pada 2018 tercatat senilai US$7,81 miliar atau tumbuh 12,17% y-o-y, sedangkan ekspor industri tekstil senilai US$4,651 miliar atau turun 0,1% dibandingkan 2017 yang senilai US$4,655 miliar.


Pada periode yang sama ekspor pakaian jadi, yang merupakan produk hilir industri tekstil, tercatat senilai US$8,62miliar atau tumbuh 8,9% secara tahunan.


Sumber: Bisnis