• Fri, 22 March 2019
28 Feb
PRODUKSI BAJA NIRKARAT : Indonesia Targetkan 6 Juta Ton Pada 2021

Annisa Sulistyo Rini Selasa, 26/02/2019 02:00 WIB


JAKARTA — Indonesia bakal memiliki kapasitas produksi baja nirkarat atau stainless steel lebih dari 6 juta ton, atau menjadi produsen keempat terbesar di dunia, setelah beroperasinya pabrik di Konawe, Sulawesi Tenggara yang ditargetkan mulai 2021.


Ignatius Warsito, Direktur Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian, mengatakan saat ini pabrik stainless steel di Konawe masih dalam tahap konstruksi. Nantinya pabrik ini akan menghasilkan baja nirkarat sebesar 3 juta ton per tahun.


Adapun, di Kawasan Industri Morowali telah beroperasi pabrik stainless steel terintegrasi yang mampu memproduksi 3,5 juta ton per tahun. “Saat ini pabrik stainless steel-nya masih tahap konstruksi, diharapkan beroperasi 2 tahun ke depan,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (25/2).


Warsito menyatakan pabrik baja nirkarat di Konawe tersebut akan menjadi pabrik terintegrasi, seperti yang ada di Morowali. Pasalnya, di kawasan tersebut juga terdapat pabrik smelter nikel milik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dengan total kapasitas produksi nickel pig iron (NPI) dengan kadar nikel 10%--12% sebesar 800.000 ton per tahun.


Pabrik baja nirkarat tersebut dibangun perusahaan afiliasi VDNI beserta dengan pabrik smelter nikel dengan kapasitas produksi NPI sebanyak 1,2 juta ton per tahun. Total nilai investasi ini diperkirakan mencapai US$2 miliar.


Pada saat meresmikan smelter milik VDNI di Konawe, Senin (25/2), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan optimistis Sulawesi akan menjadi pusat industri berbasis stainless steel berkelas dunia dengan pabrik yang ada di Konawe dan Morowali.


“Apabila Indonesia mampu menembus kapasitas 6 juta ton stainless steel per tahun saja, itu dinilai menjadi produsen baja nirkarat keempat terbesar di dunia,” katanya.


Menurutnya, saat ini China dan negara di Eropa merupakan produsen baja nirkarat terbesar di dunia. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, produksi stainless steel China mencapai 21 juta ton per tahun.


Lebih jauh, Airlangga mengatakan industri pengolahan dan pemurnian atau smelter berbasis nikel semakin menggeliat seiring dengan peningkatan investasi yang masuk ke Indonesia. Terlebih lagi, industri smelter dinilai berperan penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional lantaran sejalan terhadap program peningkatan nilai tambah sumber daya alam.


“Pemerintah berkomitmen melaksanakan kebijakan hilirisasi industri, karena mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal dan penerimaan devisa dari ekspor,” katanya.


Dia menuturkan pemerintah berupaya untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif agar dunia industri tetap bergairah berinvestasi di Indonesia. Guna mendorong penumbuhan investasi baru di sektor manufaktur, termasuk industri logam, pemerintah telah memberikan berbagai fasilitas di antaranya tax holiday, tax allowance, serta pembebasan bea masuk barang modal untuk investasi serta tata niaga.


Selanjutnya, dalam rangka menciptakan tenaga kerja yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan dunia industri saat ini, Kemenperin meluncurkan program pendidikan vokasi yang menghubungkan antara sekolah menengah kejuruan dan industri. Pemerintah akan menyiapkan insentif kepada industri dalam negeri yang mengembangkan SDM melalui pemberian super deductible tax sebesar 200%.


Editor : Galih Kurniawan

 

Sumber : Bisnis