• Fri, 22 March 2019
15 Feb
STOK PANGAN : Bulog Mulai Sortir Beras Tak Layak

Pandu Gumilar/k57 Kamis, 14/02/2019 02:00 WIB

JAKARTA— BUMN pangan Perum Bulog segera menyortir beras turun mutu sebanyak 6.800 ton yang ada di gudang divisi regional Sumatra Selatan dan Bangka Belitung.

Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Arjun Ansol mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan mekanisme internal dengan dilakukan proses sortasi dan pemisahan di unit gudang yang berbeda untuk menghindari terkontaminasinya beras baik.

"Beras tersebut merupakan hasil pengadaan Dalam Negeri yang berusia lebih dari satu tahun. Proses sortasi dilakukan untuk memisahkan beras yang masih aman konsumsi dengan beras yang tidak aman konsumsi dengan terlebih dahulu dilakukan pengecekan di laboratorium bersertifikat," katanya dalam siaran resmi, Rabu (13/1).

Menurut Arjun hasil laboratorium akan menjadi acuan perseroan dalam menentukan langkah selanjutnya.

Apabila memang beras berada dibawah ambang batas keamanan pangan akan dijual sebagai bahan pakan ternak. Adapun, beras yang tidak bisa untuk bahan pakan ternak akan dimusnahkan.

Dia menambahkan, menurunnya mutu beras ditemgarai akibat pengadaan yang cukup besar dan tidak diimbangi dengan penyaluran. Alhasil terjadi penumpukan stok beras di gudang Bulog.

Selain itu, Arjun menilai kebijakan pemerintah yang terus mengurangi pagu Bansos Rastra setiap tahun secara bertahap ke Bantuan Pangan Non Tunai yang tidak mewajibkan komoditasnya beras berasal dari perusahaan, ikut mempengaruhi perputaran barang Bulog.

“Pagu Rastra di provinsi Sumatra Selatan pada 2017 sebanyak 68.000 ton, mengalami penurunan di tahun 2018 menjadi sebanyak 44.000 ton, dan pada 2019 pagu Bansos Rastra untuk bulan Januari dan Februari menjadi sebanyak 5.400 ton. Hal ini tentu mempengaruhi manajemen stok di Bulog.”

Arjun mengingatkan kalau beras merupakan komoditas yang mudah rusak, karena dalam setiap butiran terdapat unsur-unsur kimia yang dapat mengalami perubahan fisiologis. “Kami tetap pastikan, beras yang kami distribusikan kepada masyarakat merupakan beras yang layak dikonsumsi,” tutup Arjun.

Di tempat terpisah, Direktur Utama Bulog Budi Waseso mengungkapkan pihaknya berencana memperluas jaringan hingga tingkat rukun tetangga guna memperkuat distribusi dan stabilisasi harga pangan.

Dia menambahkan, secara struktur pihaknya tidak memiliki jejaring hingga ke tingkat desa. Sebagai jalan keluarnya pihaknya akan membangun sinergitas jaringan dengan berbagai elemen pimpinan daerah.

“Termasuk dengan gubernur Jabar. Jadi nanti melalui RT/RW kepala desa, kecamatan, hingga provinsi kita punya jejaring untuk pendistribusian bahan pangan. Itu kan untuk kestabilan harga dan ketersediaan pangan,” katanya di Gedung Sate, Bandung, Rabu (13/2).

Dengan langkah ini pihaknya menyakini distribusi pangan tidak lagi dikuasai oleh 'kartel' yang mampu mengendalikan harga pangan. “Tidak, pangan harus dikendalikan oleh negara. Sehingga kestabilan itu yang menentukan ketersediaan pangan,” ujarnya.

Kerjasama hingga ke level bawah ini juga direncanakan lewat sejumlah program bagaimana Bulog bisa menyerap seluruh hasil panen di daerah, termasuk Jabar.

Bulog sendiri menargetkan pada panen raya Maret-April mendatang bisa menyerap produksi beras hingga 1,8 juta ton. Angka ini diperkirakan sudah cukup untuk stok Bulog. “Pada panen raya yang akan datang, khususnya Maret-April kita akan serap sebanyak mungkin ya. Kita punya target 1,8 juta yang kita ambil,” tuturnya. (Pandu Gumilar/K57)

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

 

(Sumber : Bisnis.com)