• Fri, 22 March 2019
15 Feb
PRODUK BAJA : Kebutuhan Tinggi, Pintu Investasi Terbuka Lebar

Annisa Sulistyo Rini Kamis, 14/02/2019 02:00 WIB

JAKARTA — Kebutuhan baja dalam negeri yang diproyeksikan tumbuh hingga 7% per tahun membuka peluang investasi baru di sektor ini.

Koesnohadi, Head of Raw Material & Steel Process Technology The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), mengatakan berdasarkan data IISIA, konsumsi baja pada 2017 mencapai 13,6 juta ton dengan kapasitas produksi dalam negeri 7,87 juta ton.

Menurutnya, pada 2025 kebutuhan baja domestik diperkirakan mencapai 23 juta ton. Guna mengimbangi pertumbuhan tersebut, katanya, produksi harus bertambah 2 juta ton setiap tahun.

“Dari sisi perspektif bisnis, ini merupakan sebuah peluang bahwa kebutuhan baja nasional masih terus tumbuh. Kapasitas produksi nasional untuk bisa seimbang antara supply dan demand butuh waktu, investasi yang ada saat ini masih kurang,” ujarnya di Jakarta, Rabu (13/2).

Dia menyatakan investasi yang perlu ditambah terutama di sektor hulu atau iron making, pengolah biji besi menjadi iron. Menurutnya, kapasitas yang ada sekarang masih rendah jika dibandingkan dengan kebutuhan industri baja antara hulu dan hilir. Hal itu membuat industri baja dalam negeri kurang sehat karena bahan baku kebanyakan berasal dari luar negeri.

Koesnohadi mengatakan, karena investasi di sektor iron making membutuhkan dana yang tinggi dan margin yang dihasilkan tidak terlalu besar, maka infrastruktur pendukung di sekitar pabrik harus dibangun dengan baik. Menurutnya, pabrik baja harus dibangun di daerah yang dekat dengan pelabuhan yang bisa disandari kapal dengan kapasitas besar, seperti kapal Panamax, untuk menekan biaya logistik.

“Kalau industri baja didirikan di daerah yang tidak punya dukungan pelabuhan, tidak kompetitif. Industri baja tidak bisa berdiri sendiri, dukungan industri harus lebih kuat.”

Dia optimistis, dengan penambahan investasi, multiplier effect dari industri baja tidak hanya dari sisi penyerapan tenaga kerja, melainkan juga dari sisi penerimaan pajak negara. Apabila tidak ada investasi baru di sektor ini, katanya, Indonesia diperkirakan menghabiskan US$4 miliar per tahun untuk mengimpor baja guna memenuhi kebutuhan baja dalam negeri beberapa tahun ke depan.

Sektor konstruksi menjadi penyerap utama baja dengan persentase konsumsi 78%. Adapun sektor transportasi menyerap 8%, disusul sektor migas dan permesinan masing-masing 7% dan 4%.

Menurut Koesnohadi, untuk menarik investor di industri baja, diperlukan dukungan dari pemerintah, seperti adanya regulasi kemudahan berinvestasi, kepastian dalam supply chain, kualitas infrastruktur, serta model investasi.

Tak hanya peluang, industri baja juga diprediksi bakal menghadapi tantangan multidimensi selain persaingan antar pelaku, baik di pasar domestik maupun global. Koesnohadi mengatakan tantangan multidimensi ini berupa disrupsi yang bisa mengurangi penggunaan produk baja di masa mendatang, seperti produk pengganti, digitalisasi teknologi dan perubahan gaya hidup.

Beberapa produk baja yang saat ini mulai beralih ke produk lain misalnya pipa baja yang diganti dengan pipa polivinil klorida (PVC) dan baja untuk komponen otomotif beralih ke aluminium. Selain itu, perubahan gaya hidup masyarakat juga bisa memengaruhi permintaan industri pengguna baja.

KLASTER BAJA

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian bakal memacu percepatan pembangunan klaster industri baja nasional. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pihaknya menargetkan sejumlah kawasan menjadi pusat industri baja terpadu pada 2025.

Kawasan yang didorong menjadi sentra antara lain, di Cilegon, yang dikembangkan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., kawasan Batu Licin di Kalimantan, dan Morowali di Sulawesi Selatan. "Krakatau Steel akan tumbuh produksinya menjadi 10 juta ton. Kalau di Morowowali target kapasitasnya sebesar lima juta ton," kata Airlangga.

Pemerintah, katanya, juga akan mengoptimalkan penggunaan baja produksi dalam negeri. Pusat produksi baja terpadu itu diarahkan pada pengembangan produk khusus bernilai tambah tinggi yang saat ini masih diimpor oleh industri di Tanah Air.

Airlangga menyatakan Indonesia siap berkolaborasi dengan para investor untuk mengembangkan pusat pengolahan baja terpadu. Apalagi, Indonesia memiliki bahan baku baja mulai dari bahan tambang pasir besi maupun campuran seperti nikel hingga brom untuk diolah menjadi produk baja hilir bernilai tinggi.

Editor : Galih Kurniawan

(Sumber : Bisnis.com)