• Fri, 22 March 2019
15 Feb
PASAR ELEKTRONIK : Pemilu, Bisnis Sulit Diprediksi

Annisa Sulistyo Rini Kamis, 14/02/2019 02:00 WIB

JAKARTA — Pelaku industri elektronik menilai bisnis pada tahun ini sulit diprediksi karena penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu). Jika pemilu berlangsung aman, mereka optimistis kinerja sektor elektronik mampu tumbuh baik.

Presiden Direktur PT Star Cosmos (Cosmos) Dharma Surjaputra mengatakan sepanjang tahun lalu, kondisi bisnis elektronik cukup baik, terutama didorong oleh permintaan menjelang Hari Raya Lebaran. Namun, kondisi pada tahun ini, yang merupakan tahun politik karena diselenggarakan pemilihan anggota legislatif dan Presiden beserta Wakil Presiden, sulit diprediksi.

“Kami berharap suhu politik tidak memanas, sehingga bisnis tetap berkembang dengan baik,” ujarnya, Rabu (13/2).

Menurutnya, permintaan produk elektronik dari rumah tangga masih berpeluang tumbuh dengan jumlah rerata pernikahan sebanyak 2 juta per tahun dan adanya program pembangunan sejuta rumah oleh pemerintah.

Pertumbuhan itu juga menarik produk asing untuk masuk ke pasar Indonesia. Produk elektronik impor saat ini dinilai mengancam bisnis produsen dalam negeri karena harga yang dipasarkan lebih murah. Namun, harga yang murah itu didapat dengan mengorbankan kualitas produk.

Guna menangkal produk impor, Dharma berharap pemerintah konsisten dalam menerapkan kebijakan pengetatan bea cukai serta meningkatkan pengawasan terkait dengan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI). Adapun, bagi para produsen sendiri, katanya, ada beberapa upaya yang harus dilakukan supaya dapat bersaing dengan produk impor.

"Industri dalam negeri harus meningkatkan teknologi, kualitas sumber daya manusia, dan melakukan inovasi," katanya.

Pada tahun lalu, pemilihan kepala daerah yang dilakukan di beberapa wilayah menjadi salah satu pendorong permintaan produk elektronik karena memengaruhi uang yang beredar dan daya beli masyarakat. Produk elektronik yang tercatat tumbuh baik pada 2018 adalah televisi.

Selain pilkada, pergelaran olahraga akbar, yaitu Piala Dunia dan Asian Games juga memengaruhi permintaan televisi dalam negeri. Kendati demikian, pada tahun ini pasar televisi domestik dinilai penuh tantangan.

Andry Adi Utomo, National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, mengatakan proyeksi pertumbuhan pasar televisi tahun ini berat, salah satunya karena persaingan dengan produk impor, terutama asal China.

"Kue pasar yang ada mulai dinikmati oleh produk China dengan harga yang murah sekali. Mereka tidak perlu investasi di Indonesia dan mudah berjualan di sini," ujarnya.

Menurutnya, produsen televisi dalam negeri yang telah menanamkan modal di Indonesia dan membangun merek sejak lama tidak mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Selain itu, pabrikan elektronik nasional juga menghadapi permasalahan seperti nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang fluktuatif. Dia menyatakan pelaku industri elektronik telah meminta perlindungan kepada pemerintah dari gempuran produk impor.

Editor: Galih Kurniawan

Sumber: Bisnis