• Sun, 21 April 2019
11 Feb
PENDIRIAN PABRIK BARU : Manufaktur Alas Kaki Kian Menggeliat

Annisa Sulistyo Rini Kamis, 07/02/2019 02:00 WIB


JAKARTA — Kinerja industri alas kaki diyakini makin moncer dalam beberapa tahun ke depan yang didukung oleh pendirian beberapa pabrik baru di Jawa Tengah dan Jawa Barat.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 9,42% sepanjang 2018, melejit dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 2,22%.


Adapun, pada kuartal IV/2018 sektor ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 12,10% atau lebih baik dibandingkan koreksi kinerja sebesar 2,75% pada periode yang sama tahun sebelumnya.


Budiarto Tjandra, Ketua Pengembangan Sport Shoes & Hubungan Luar Negeri Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), mengatakan bahwa secara siklus, kuartal IV menjadi peak season bagi permintaan sepatu olahraga.


Menurutnya, hal ini adalah pola belanja yang terjadi secara tahunan. “Biasanya, permintaan pada kuartal IV memang lebih banyak dibandingkan dengan kuartal-kuartal lainnya,” kata Tjandra, Rabu (6/2).


Dia menjelaslkan bahwa pasar ekspor alas kaki nasional utamanya ditujukan ke Amerika Serikat, negara kawasan Eropa, dan juga beberapa negara di Asia, seperti China.


Adapun, ekspor alas kaki sepanjang 2018 tercatat senilai US$5,11 miliar, naik 4,15% dibandingkan dengan tahun sebelumnya senilai US$4,91 miliar.


Pada tahun ini, lanjutnya, ekspor alas kaki bakal meningkat. Hal ini sejalan dengan upaya pabrikan alas kaki untuk melakukan ekspansi untuk memenuhi permintaan global yang terus tumbuh.


“Ada pembukaan beberapa pabrik baru dengan kapasitas besar di Jateng dan Jabar. Hingga 2 tahun ke depan pertumbuhan ekspor alas kaki cukup besar dengan pabrik baru ini,” ujarnya.


Salah satu perusahaan alas kaki yang melakukan ekspansi adalah Shoetown Group. Perusahaan dengan investor asal China ini menambah pabrik di bawah bendera PT Shoetown Ligung Indonesia yang direncanakan mampu menyerap tenaga kerja hingga 20.000 orang. Pada tahap awal, jumlah tenaga kerja yang diserap sebanyak 1.500 orang.


Lokasi pabrik yang diresmikan awal Oktober 2018 ini dekat dengan Bendara Kertajati, Jawa Barat. Investasi yang ditanamkan untuk membangun pabrik tersebut pada tahap awal disebutkan sekitar US$42 juta, sedangkan untuk keseluruhan hingga mampu menyerap 20.000 tenaga kerja, diperkirakan dana yang disediakan senilai US$200 juta.


//NEGARA TUJUAN//

Tjandra menjelaskan, Indonesia saat ini menjadi salah satu negara tujuan utama prinsipal produk alas kaki dunia untuk memproduksi sepatu.


Pesanan ke negara China, yang menjadi eksportir terbesar dunia, mulai dikurangi karena pabrikan di negara tersebut mengutamakan pasar domestik. Perang dagang antara China dan Amerika Serikat juga menjadi salah satu mempengaruhi pesanan ke negara tersebut.


Saat ini, Vietnam menjadi negara nomor satu sebagai lokasi pabrik investor asal China. Namun, para pabrikan mencoba meningkatkan pesanan ke Indonesia untuk mengelola risiko mereka.


“Kalau order terlalu banyak di satu negara kan, misal ada apa-apa, akan menyulitkan. Principal tidak mau mengambil risiko terlalu besar sehingga mencoba menyeimbangkan ke Indonesia,” jelasnya.


Adapun, untuk mendorong pertumbuhan industri padat karya, termasuk sektor alas kaki, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pihaknya sedang menggodok insentif mini tax holiday untuk mendorong sektor industri padat karya, termasuk alas kaki.


Rencana ini juga bertujuan untuk menarik lebih banyak investasi, apalagi saat ini Indonesia menjadi salah satu negara yang dilirik bagi beberapa investor asing.


Hal ini disebabkan kondisi perang dagang Amerika Serikat dan China sehingga beberapa investor mengalihkan fasilitas produksinya ke negara lain untuk mendapatkan bea masuk yang lebih rendah ke Negeri Paman Sam.


“Nanti, kami akan dorong mini tax holiday ke industri labor intensive supaya bisa lebih berkembang. Salah satu kriterianya tentu serapan tenaga kerja,” jelas Airlangga.


Editor : Maftuh Ihsan

(Sumber : Bisnis.com)