• Fri, 22 February 2019
07 Feb
TARGET PEMERINTAH : Ekspor Manufaktur Diproyeksi Naik 7,5%

Annisa S. Rini & Wibi P. Pratama Senin, 04/02/2019 02:00 WIB


JAKARTA — Pemerintah menargetkan ekspor industri pengolahan nonmigas tumbuh 7,5% pada 2019. Peningkatan kinerja manufaktur, penguatan pasar ekspor utama, dan penetrasi ke pasar nontradisional menjadi fokus pemerintah untuk mengerek ekspor.


Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Minggu (3/2). Target tersebut dipatok setelah mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,7% dan adanya 12 perjanjian dagang yang akan dirampungkan pada tahun ini.


Dia menjelaskan, industri manufaktur yang berkontribusi hingga 74% terhadap nilai ekspor harus digenjot untuk memperkuat ekspor nonmigas. Oleh karena itu, industri yang berorientasi ekspor perlu didorong untuk memperbaiki struktur perekonomian.


“Jadi, pada 2019, kami akan lebih genjot lagi sektor industri untuk meningkatkan ekspor, terutama yang punya kapasitas lebih. Diharapkan ada perbaikan ekonomi global sehingga bisa mendorong ekspor nonmigas lebih tinggi lagi pada 2019,” ujar Airlangga.


Dia menjelaskan, pemerintah akan mendongkrak kinerja lima sektor unggulan dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.


Menurutnya, kelima sektor tersebut adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik, serta kimia.


Kelima sektor tersebut tercatat memberikan kontribusi 65% terhadap total nilai ekspor nasional, berkontribusi 60% terhadap produk domestik bruto (PDB), dan menyerap 60% dari seluruh tenaga kerja industri.


Selain itu, sektor lain yang berpotensi besar untuk dikembangkan adalah industri perhiasan, permesinan, furnitur, pengolahan ikan, dan hortikultura. Sektor-sektor tersebut mencatatkan kinerja ekspor yang dinilai mampu menopang perekonomian nasional.


Airlangga menyampaikan, berdasarkan arahan presiden, kualitas produk ekspor akan terus didongkrak dan produk bernilai tambah tinggi harus digenjot kinerjanya. Pemerintah akan berupaya menarik investasi serta menjalankan hilirisasi untuk substitusi produk impor.


“Kebijakan lainnya dalam rangka meningkatkan daya saing ekspor dalam kurun 1 tahun-3 tahun ke depan, antara lain perbaikan iklim usaha melalui sistem online single submission (OSS), fasilitas insentif perpajakan, program vokasi, penyederhanaan prosedur untuk mengurangi biaya ekspor, dan pemilihan komoditas unggulan,” paparnya.


Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, ekspor industri pengolahan nonmigas tercatat meningkat dalam 4 tahun terakhir. Pada 2015, nilai ekspor produk manufaktur mencapai US$108,6 miliar dan naik menjadi US$110,5 miliar pada 2016.


Lalu, pada 2017, nilai ekspor manufaktur meningkat menjadi US$125,1 miliar dan terus meningkat menjadi US$129,9 miliar pada tahun lalu.


//KONTRAKSI KINERJA//

Dalam perkembangan lain, indeks manufaktur Indonesia terkontraksi pada Januari 2019.


Berdasarkan Nikkei Indonesia Manufacturing PMI yang dirilis pada Jumat (1/2), pada bulan pertama 2019, indeks manufaktur nasional berada di angka 49,9 atau turun dari 51,2 pada bulan sebelumnya.


Adapun, angka indeks di atas 50 menunjukkan peningkatan di semua variabel survei, sedangkan di bawah 50 mengindikasikan penurunan.


Kondisi ini berbeda dibandingkan dengan 3 tahun terakhir ketika PMI pada Januari mengalami kenaikan dibandingkan dengan posisi pada Desember tahun sebelumnya.


Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, pada Januari 2016 indeks manufaktur berada di angka 48,9, naik dibandingkan dengan Desember 2015 sebesar 47,8.


Begitu pula dengan Januari 2017 yang tercatat sebesar 50,4 atau lebih tinggi dibandingkan dengan Desember 2016 sebesar 49.


Kenaikan ini juga terjadi pada Januari 2018 yang mencatatkan indeks manufaktur sebesar 49,9 atau naik tipis dibandingkan dengan akhir 2017 sebesar 49,3.


Bernard Aw, Principal Economist HIS Markit, menilai kondisi manufaktur Indonesia kurang menggembirakan karena ekspansi tidak terlihat pada bulan pertama tahun ini.


“Yang dikhawatirkan adalah perlambatan permintaan, terutama untuk pasar domestik. Permintaan baru turun pada laju yang paling curam dalam 1,5 tahun terakhir. Permintaan global juga masih lemah,” katanya.


Dalam kondisi permintaan yang cenderung melambat, kapasitas produksi perusahaan tidak mengalami perubahan yang signifikan. Kondisi kelebihan produksi bisa mengakibatkan penumpukan stok.


Hal ini pada akhirnya bisa berdampak pada penyerapan tenaga kerja baru karena Januari 2019 merupakan periode ketika laju penerimaan tenaga kerja baru paling lemah.


Kendati demikian, kondisi yang terjadi pada awal tahun ini diperkirakan hanya sementara karena hasil survei menunjukkan bahwa keyakinan para pelaku usaha masih tinggi.


Sekitar separuh dari perusahaan yang disurvei menyatakan masih optimistis bahwa produksi mereka bakal meningkat sepanjang tahun ini.


Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menilai penurunan PMI pada Januari 2019 sebagai hal lumrah. Pelaku industri masih optimistis kinerja industri akan kembali meningkat sepanjang tahun ini.


Hal tersebut disampaikan Ketua Umum API Ade Sudrajat kepada Bisnis, Minggu (3/2). Dia menjelaskan terdapat dua periode ketika penurunan kinerja industri lumrah terjadi, yakni pada awal tahun dan Lebaran.


Adapun, survei Nikkei Indonesia Manufacturing PMI didasarkan pada data survei yang diadakan setiap bulan.


Lebih dari 300 perusahaan manufaktur menjadi responden. Sektor manufaktur yang disurvei terbagi dalam 8 kategori, yaitu logam dasar, kimia dan plastik, elektronik dan optik, makanan dan minuman, permesinan, tekstil dan pakaian jadi, pengolahan kayu dan kertas, serta alat angkutan.


Editor : Maftuh Ihsan

 

(Sumber : Bisnis.com)