• Fri, 22 February 2019
07 Feb
PRODUK KERAMIK : SNI Tableware Diperbarui

Annisa Sulistyo Rini Senin, 04/02/2019 02:00 WIB


JAKARTA — Peraturan terkait dengan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk keramik tableware diperbarui seiring dengan perkembangan teknologi di sektor ini.


Pada akhir Desember 2018, Kementerian Perindustrian mengeluarkan beleid Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 48/2018 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Keramik Tableware Secara Wajib.


Penerapan SNI wajib untuk produk ini sebelumnya telah diatur dalam Permenperin Nomor 81/2015 dan diubah dnegan Permenperin 01/2016.


Aturan tersebut mencakup tidak hanya produk keramik tableware, tetapi juga kloset duduk dan ubin keramik. Sementara itu, dalam beleid baru, penerapan SNI wajib ketiga produk tersebut dipisah.


Adie Rochmanto Pandiangan, Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam Kemenperin, mengatakan acuan penerbitan Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda (SPPT) SNI keramik tableware sebelumnya, yaitu SNI ISO 9001:2008 direvisi menjadi SNI ISO 9001:2015. Dengan demikian, aturan penerapan SNI wajib juga perlu direvisi.


“Kami menerbitkan aturan baru karena perkembangan ilmu dan teknologi, serta perkembangan industri keramik tableware saat ini. Dalam SNI yang baru diperluas persyaratan mutunya, seperti ketahanan retak glasir, ketahana pukul, dan batas migrasi maksimum timbal dan cadmium,” ujarnya, akhir pekan lalu.


Pembaruan kriteria yang memenuhi SNI tersebut juga bertujuan meningkatkan daya saing industri keramik tableware dalam negeri. Adie menyebutkan, aturan SNI wajib ini menjadi salah satu instrument non-tariff barrier agar produk impor tidak membanjiri pasar dalam negeri.


Namun, dalam penyusunannya, pemerintah bersama pelaku industri berdiskusi supaya aturan SNI tersebut tidak memberatkan industri dalam negeri. Kemenperin mencatat saat ini terdapat 12 perusahaan yang memproduksi keramik tableware.


Adapun, produk keramik tableware meliputi alat makan dan minum dari keramik yang terdiri dari semi vitreous china/semi porselin, stoneware, bone china, dan porselin yang berglasir dapat berbentuk datar dan/atau berongga.


//MASIH POSITIF//

Saat ini, bisnis industri keramik tableware saat ini masih cukup baik dibandingkan dengan produk keramik lainnya.


Elisa Sinaga, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan industri keramik untuk peralatan makanan atau tableware permintaannya tidak dipengaruhi oleh sektor properti yang saat ini kurang bergairah.


Menurutnya, sektor yang banyak menggunakan produk keramik tableware, seperti perhotelan, restoran, dan kuliner, masih berkembang.


“Produksi keramik tableware juga 50% diekspor. Untuk pasar dalam negeri, produk tableware sederhana, seperti mangkok ayam itu enggak pengaruh sama perlambatan sektor lain karena pedagang kecil tumbuh,” ujarnya.


Untuk ekspor, beberapa produsen keramik tableware yang menggarap segmen atas, seperti Hankook dan Narumi Indonesia, mengirim produknya ke beberapa negara seperti Jepang dan Korea Selatan.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor produk keramik sepanjang tahun lalu tumbuh tipis sebesar 1,24% secara tahunan dari US$339,50 juta menjadi US$343,72 juta.


Industri keramik tableware, lanjut Elisa, sebenarnya juga mengalami permasalahan lain seperti produk keramik lainnya, yaitu persaingan dengan produk impor. (Annisa S. Rini)


Editor : Maftuh Ihsan

(Sumber : Bisnis.com)