• Sun, 21 April 2019
28 Jan
SEKTOR TEKSTIL : Pengusaha China Investasi Rp10 Triliun

Jum'at, 25/01/2019




JAKARTA — Kementerian Perindustrian mengklaim bahwa terdapat beberapa investor China yang bakal menanamkan modal senilai Rp10 triliun di sektor industri tekstil pada tahun ini.


Airlangga Hartarto, Menteri Perindustrian, menuturkan bahwa beberapa perusahaan asal Negeri Tirai Bambu ingin memindahkan basis produksinya ke Indonesia demi menghindari tarif tinggi yang dikenakan Amerika Serikat, terutama yang bergerak di industri tekstil dan alas kaki.


Investasi ini mengarah kepada pengembangan sektor menengah atau midstream, seperti bidang pemintalan, penenunan, pencelupan, dan pencetakan. “Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia dinilai menjadi salah satu negara tujuan utama bagi investor China,” paparnya, Kamis (24/1).

Kendati demikian, Airlangga belum memberikan penjelasan nama-nama calon investor asal China tersebut.


Senada, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat menuturkan, saat ini terdapat perusahaan tekstil ketiga terbesar di China yang sedang mematangkan rencana investasi di sektor kain dan pencelupan di Indonesia.

Perusahaan tersebut merupakan produsen kain dengan kualitas tinggi, terutama untuk kemeja merek-merek premium, seperti Hugo Boss.


Investor asal Negeri Panda tersebut akan melakukan negosiasi terkait dengan lokasi, pekerja, pembeli, dan sebagainya. Menurutnya, salah satu faktor pendorong minat investasi tersebut adalah desakan lead time, bukan karena perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

“Kalau di sini, mereka lebih dekat dengan industri hilir, sedangan kalau pabrik di sana untuk komunikasi butuh waktu yang lebih lama. Bagi industri hilir, biaya logistik juga lebih murah sehingga lebih berdaya saing,” jelasnya.


Ade menyebutkan, dana yang ditanamkan oleh perusahaan China tersebut sekitar Rp500 miliar dan diperkirakan bisa meningkat mendekati Rp1 triliun, tergantung dari insentif yang didapatkan dari pemerintah.


Sementara itu, industri alas kaki nasional juga dilirik investor asing. Setelah komitmen penanaman modal dari dua perusahaan asal Korea Selatan beberapa waktu lalu, produsen asal China juga menambah investasinya di sektor ini.


Firman Bakri, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), mengatakan salah satu perusahaan alas kaki asal China, yaitu Shoetown Group, akan menambah pabrik dengan bendera PT Shoetown Ligung Indonesia di Majalengka, Jawa Barat.


Adapun, secara keseluruhan, total investasi yang dikucurkan Shoetown Group mencapai US$200 juta. Adapun, pada tahap pertama, perusahaan tersebut mengalokasikan anggaran sebesar US$42 juta.

“Rencana pabriknya besar, bisa menyerap sampai 20.000 tenaga kerja. Tahap awal jumlah tenaga kerja 1.500 orang dan dalam tahap vokasi 2.000 orang. Jadi dalam waktu dekat bisa 3.500 orang,” ujarnya belum lama ini.


Lokasi pabrik yang diresmikan awal bulan ini dekat dengan Bendara Kertajati, Jawa Barat. Menurut Firman, hal ini berarti pembangunan infrastruktur akan diikuti oleh investasi industri.

Apalagi, di daerah Majalengka, upah minimum regional (UMR) lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain, seperti Banten.


Sektor alas kaki dalam negeri memang masih membutuhkan investasi baru untuk memenuhi kebutuhan global yang terus meningkat seiring dengan kebutuhan produk alas kaki dunia yang terus naik mengikuti pertumbuhan penduduk.


Selain itu, perubahan struktur industri di China, mendorong banyak produsen alas kaki di negara tersebut hengkang. Padahal, permintaan global banyak berasal dari China, sehingga wajar ekspor alas kaki dari Indonesia terus meningkat.


Firman menyebutkan, saat ini investor cenderung berinvestasi ke daerah dengan upah minimum kabupaten (UMK) yang rendah, seperti ke wilayah Jawa Tengah. Hal ini mengingat sektor alas kaki merupakan industri yang menyerap banyak tenaga kerja.

“Yang paling memengaruhi sebenarnya bahan baku, tetapi kan bisa disubstitusi. Kalau labor cost enggak bisa dialihkan, khususnya industri alas kaki yang membutuhkan banyak tenaga kerja,” jelasnya.


Airlangga menambahkan, komitmen investasi ini sejalan dengan komitmen pemerintah yang terus menciptakan iklim investasi kondusif dan memberikan kemudahan dalam proses perizinan usaha.

“Salah satu contohnya, para investor dari China membangun kawasan industri baru di Sulawesi Tengah, yang selama lima tahun ini telah berinvestasi sebanyak US$5 miliar dan ekspor dari lokasi tersebut sudah mencapai US$4 miliar,” kata Airlangga.

 

UTILITAS NAIK

Tidak hanya berdampak pada penambahan investasi baru, perang dagang antara Amerika Serikat dan China juga bisa memacu utilitas industri dalam negeri. mengatakan kenaikan kapasitas produksi dalam negeri bisa terdongkrak dalam upaya mengisi potensi pasar yang tercipta dari kondisi tersebut.


“Misalnya, Indonesia telah ekspor baja ke Amerika Serikat, sehingga harapannya bisa memasukkan lebih banyak lagi produk itu,” ujarnya.

Sepanjang Januari—November 2018, ekspor besi dan baja nasional ke Negeri Paman Sam melonjak hingga 87,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.


Sementara itu, total ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tercatat tumbuh 3% secara tahunan sepanjang Januari—November 2018.


Airlangga menyatakan, kerja sama ekonomi Indonesia dengan AS selama ini bersifat komplementer untuk saling memenuhi kebutuhan pasar dan sektor manufaktur masing-masing negara.


Bahkan, era ekonomi digital baru dari AS juga ikut membuka peluang pengembangan bisnis di Indonesia. “Misalnya, kami sudah mendapat investasi berupa Apple Developer Academy. Pemerintah juga menjajaki peluang pembangunan data center di Indonesia,” ungkapnya.


Editor : Maftuh Ihsan

(Sumber : Bisnis.com)