• Sun, 21 April 2019
16 Jan
Lonjakan Impor Diprediksi Bakal Picu Defisit Perdagangan di 2018

Editor: Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

Selasa, 15 Januari 2019 07:30 WIB

Ratusan mobil yang siap diekspor terparkir di IPC Car Terminal, PT Indonesia Kendaraan Terminal (PT IKT), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 8 Agustus 2017. Kemenperin mencatat ekspor mobil CBU pada Semester I tahun 2017 sebanyak 113.269 unit atau meningkat 20,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sebesar 94.000 unit. ANTARA FOTO


TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah ekonom memperkirakan defisit neraca perdagangan sepanjang 2018 tidak terelakkan seiring dengan lonjakan impor yang tinggi dan performa ekspor yang lesu. Neraca perdagangan Desember diprediksi masih akan mengalami defisit dengan nilai rata-rata mencapai US$1,2 miliar dan nilai tengahnya US$1 miliar. 

Ekonom PT Maybank Indonesia Tbk. Juniman memperkirakan defisit neraca perdagangan pada Desember 2018 mencapai US$ 1,228 miliar, lebih tinggi dibandingkan US$ 2,05 miliar pada November.

Adapun defisit pada Desember tahun lalu lebih disebabkan oleh performa ekspor yang menurun. "Penurunan ekspor disebabkan oleh turunnya beberapa harga komoditas, terutama minyak," kata Juniman, Senin, 14 Januari 2019. 

Selain itu, perlambatan ekonomi dari partner dagang utama Indonesia mulai berpengaruh. Posisi ekspor yang menurun juga disebabkan oleh terbatasnya hari kerja yang efektif akibat libur Natal dan Tahun Baru sehingga aktivitas bongkar muat di kapal berkurang.  

Juniman memperkirakan ekspor Indonesia akan menurun menjadi US$ 14,08 miliar pada Desember 2018, dibandingkan bulan sebelumnya. Di sisi lain, impor sepanjang Desember 2018 diperkirakan mengalami penurunan akibat harga minyak dunia yang turun dan libur panjang Natal dan Tahun Baru. Ia meramalkan impor akan menurun menjadi US$ 15,31 miliar pada Desember 2018 dibandingkan bulan sebelumnya US$ 16,88 miliar.  

Sementara itu, ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David E. Sumual memperkirakan pertumbuhan impor sepanjang Desember 2018 masih tetap tinggi dengan pertumbuhan hingga 7 persen (year on year/yoy). "Tingginya impor disebabkan oleh masih maraknya kegiatan investasi yang membutuhkan barang modal," ujarnya. 

Di sisi lain, impor barang konsumsi juga masih cukup besar untuk kebutuhkan Natal dan Tahun Baru. Dari hitungannya, rata-rata nilai impor per bulan sepanjang tahun lalu mencapai US$ 16 miliar - US$ 17 miliar.

Dengan begitu, David memprediksi defisit neraca perdagangan pada tahun ini dapat mencapai US$ 8,2 miliar.  Sementara tingginya impor sepanjang tahun lalu memang berkaitan dengan kegiatan ekonomi di dalam negeri karena industri di Tanah Air masih banyak yang bergantung kepada bahan baku impor. "Karena industri dalam negeri ketergantungan terhadap impor bahan baku mencapai 80 persen." 

Ke depannya, David melihat pergerakan impor akan tetap tinggi pada 2019 seiring dengan kegiatan ekonomi. Selain itu, dia melihat kegiatan infrastruktur sebenarnya tidak banyak berkurang karena anggaran infrastruktur pemerintah pada tahun ini tetap tinggi, sekitar Rp 400 triliun atau hampir sama dengan tahun 2018.  

David melihat kemungkinan defisit neraca perdagangan dapat terulang lagi pada 2019. Ia mengatakan solusi cepat dari permasalahan ini adalah mengurangi impor namun tetap harus dilakukan dengan hati-hati, melihat ketergantungan industri terhadap impor bahan baku dan barang modal yang cukup tinggi.

Sumber: Tempo