• Thu, 17 January 2019
10 Jan
Menko Darmin Sebut Impor Gula RI Jadi yang Terbesar Karena Penuhi Kebutuhan Industri

Rabu, 9 Januari 2019 12:54 Reporter : Anggun P. Situmorang


Darmin soal impor gula. ©Liputan6.com/Angga Yuniar


Merdeka.com - Ekonom Faisal Basri mengatakan, Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar sepanjang 2017-2018. Ironisnya, impor gula besar-besaran ini terjadi jelang pemilu yang dianggap menguntungkan pihak tertentu.


"Menjelang pemilu, tiba-tiba Indonesia menjadi pengimpor gula terbesar di Dunia. Praktek rente gila-gilaan seperti ini berkontribusi memperburuk defisit perdagangan," ujar Faisal dalam cuitan di twitternya, Jakarta, Rabu (9/1).


Mendapat informasi ini, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, impor gula yang dilakukan sepanjang 2018 untuk memenuhi kebutuhan industri. Dia juga menambahkan, pemerintah tidak melakukan impor gula konsumsi.


"Itu gula industri loh, kita tidak mengimpor gula konsumsi. Tahun ini kita belum ada sama sekali, belum impor. Tahun lalu, gula industri iya," jelasnya.


Menko Darmin melanjutkan, produksi gula industri Indonesia belum mampu memenuhi permintaan pasar. Selain itu, gula produksi Indonesia tidak memiliki kualitas yang diperlukan untuk Industri.


"Itu banyak (alasan impor) selain jumlah, tapi ada kualitas. (Soal produksi) Ya Menteri Pertanian lah tanya," jelas Menko Darmin.


Mantan Direktur Jenderal Pajak tersebut menambahkan, pengajuan impor diputuskan melalui rapat koordinasi. Khusus gula industri, diajukan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dengan melihat kebutuhan pasar.


"Itu impor gula melalui perindustrian. Rekomendasinya dia," tandasnya.


Sebelumnya, Menko Darmin mengatakan pemerintah berencana melakukan impor gula dan garam untuk industri tahun ini. Kebutuhan impor masing-masing komoditas ini sebanyak 2,7 juta ton dan 2,8 juta ton.


"Kalau gula industrinya, itu juga masih tetap harus ada data stoknya ada di mana saja. Artinya angkanya mengarah ke situ, tapi dipastikan nanti sebelum impor gula," tandasnya.


Sumber: Merdeka