• Thu, 17 January 2019
10 Jan
Biaya angkut kontainer makin mahal, ini analisis dan saran SCI

Rabu, 09 Januari 2019 / 13:30 WIB


ILUSTRASI. Truk peti kemas melintas di Pelabuhan Tanjung Priok


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peningkatan biaya pengangkutan kontainer ekspor dan impor selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut disebabkan karena masalah kecepatan pengangkutan. 


Berbagai upaya seperti perbaikan infrastruktur, pembangunan jalan tol dan pembatasan jam operasional truk masih belum bisa mengatasi kemacetan. Inefisiensi yang terjadi harus ditanggung oleh perusahaan jasa transportasi (trucking), shipper, dan shipping line. Inefisiensi ini berdampak terhadap peningkatan biaya logistik.


Supply Chain Indonesia (SCI) menganalisis bahwa salah satu faktor penyebab masalah ini adalah lokasi depot kontainer sebagai salah satu fasilitas logistik yang kurang tepat. Selain itu, kegiatan ekspor dan impor Indonesia, yang masih terkonsentrasi di Pelabuhan Tanjung Priok, sangat terfragmentasi antara kegiatan impor (inbound) dan ekspor (outbound).


Kontainer impor yang masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok harus diturunkan isinya di beberapa kawasan industri dengan wilayah yang tersebar. Kemudian, kontainer kosong harus dibawa ke depot kontainer yang berada di sekitar Tanjung Priok, Cakung Cilincing, atau Marunda untuk dibersihkan, diperbaiki jika rusak, dan dipastikan kelaiklautannya untuk penggunaan selanjutnya.


Di depot, kontainer-kontainer ditumpuk selama rata-rata dua minggu sampai empat minggu, sebelum akhirnya digunakan untuk ekspor. Setelah dipesan untuk ekspor, kontainer harus kembali menuju pabrik (wilayah industri) tempat shipper menaikkan barang yang akan diekspor. Setelah itu, kontainer dibawa kembali ke Tanjung Priok untuk dinaikkan ke kapal.


Chairman SCI, Setijadi, menyatakan bahwa dalam siklus proses inbound dan outbond tersebut terjadi empat arus truk dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok, yang seharusnya bisa disederhanakan menjadi dua arus saja jika lokasi depot kontainer ada di kawasan industri dan bukan di wilayah sekitar pelabuhan.


“Seharusnya depot kontainer berada dekat dengan kawasan industri. Dengan demikian, setelah kontainer menurunkan barang inbound di pabrik terkait, trailer bisa langsung menuju depot terdekat untuk pengecekan kelaiklautan kontainernya, sehingga bisa langsung menuju pabrik lain di wilayah yang sama untuk pengangkutan barang ekspor. Jadi, dua arus proses inbound dan outbound kontainer bisa tercapai," ujarnya dalam siaran pers, Rabu (9/1).


Peningkatan efisiensi sistem tersebut akan lebih efektif dan efisien, jika ada satu wadah yang bisa mempertemukan para pemangku kepentingan logistik. Johannes M. Situmorang, CEO bagibagi logistics, mengatakan angkutan khusus kontainer pelabuhan tidak hanya memerlukan sekedar digitalisasi proses, lebih lagi memerlukan perubahan bisnis model. 


"Platform cerdas bagibagi logistics ini akan mengintegrasikan proses melalui kolaborasi dan crowd-sourcing dengan mempromosikan transparansi supply demand di antara semua pemangku kepentingan, termasuk shipper, shipping lines, perusahaan truk, dan depot kontainer universal," katanya.


Reporter: Andy Dwijayanto


Editor: Tendi


Sumber: Kontan