• Wed, 12 December 2018
16 Nov
KOMODITAS PERTANIAN : Subsidi di India Guncang Bursa Gula

Mutiara Nabila Kamis, 15/11/2018 02:00 WIB

JAKARTA — Harga gula global turun akibat kebijakan subsidi di India terhadap komoditas tersebut yang akhirnya juga berdampak merugikan petani dari negara lain termasuk Australia.

Pada akhir 2017, Australia tercatat sebagai pengekspor gula terbesar ketiga dunia sebanyak 3,7 juta ton, sedangkan India peringkat keempat dengan kemampuan mengekspor 3 juta ton gula. Dua peringkat teratas dipegang Brasil yang disusul Thailand.

Pada Rabu (14/11), harga gula di Intercontinental Exchange (ICE) susut 0,33 poin atau 2,55% menjadi US$12,61 sen per pon. Harga komoditas tersebut telah terkoreksi 6,82% sepanjang 2018 berjalan.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison meminta rekanannya Perdana Menteri India Narendra Modi untuk mengendalikan subsudi besar terhadap komoditas gula atau akan dilaporkan ke Organisasi Dagang Dunia (WTO).

Dengan adanya subsidi dari India, harga gula global menjadi anjlok dan merugikan petani. Morrison mengatakan bahwa masalah subsidi itu perlu diselesaikan dengan baik antara dua negara daripada harus sampai dibawa ke WTO.

“Kami berhubungan baik dengan India dan akan mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini dengan kerangka kerja yang sudah dibangun dari hubungan antara Australia dan India. Meski ada cara lain, tapi kami memilih untuk menyelesaikan secara kooperatif,” ungkap Morrison, dikutip dari Bloomberg, Rabu (14/11).

Morrison membicarakan isu tersebut dengan Modi dalam Pertemuan Asia Timur di Singapura pada Rabu (13/11). Pembicaraan itu juga diikuti oleh rencana kunjungan Presden India Ram Nath Kovind ke Australia pada bulan ini sehingga kedua negara mengharapkan hubungan bilateral lebih besar ke depan.

Komoditas gula India telah membanjiri pasar sehingga membuat harga patokan global melorot tajam. Australia juga membicarakan agar Brasil ikut dalam aksi ke WTO dengan agenda agar India mendeklarasikan telah melakukan pelanggaran dalam aturan perdagangan global dari segi ukuran dan skala subsidi.

Ungkapan dari Morrison itu mengikuti apa yang disampaikan oleh perwakilan Australia yakni Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham yang sedang bersama dengan Morrison di Singapura.

“Saya sudah menyatakan kekhawatiran terhadap subsidi gula India yang bakal ‘menyiksa’ itu,” kata Birmingham. Dia menyatakan bahwa Australia berani mengambil langkah lebih lanjut dengan membawa isu tersebut ke WTO jika masalah tidak segera diselesaikan.

“Petani gula kami seharusnya bisa berkompetisi dengan adil di pasar global tanpa perlu memperhatikan pergerakan harga gula yang mengalami kemerosotan tajam sepanjang tahun ini karena ada subsidi di India.”

Sebelumnya, harga gula sempat naik karena terdorong oleh prospek permintaan tebu untuk bahan dasar etanol.

Laporan dari Asosiasi Industri Gula Tebu Brasil Unica mencatatkan penggilingan tebu di Brasil Tengah dan Selatan mencapai 24,9 juta ton hingga pertengahan Oktober. Sejumlah analis memperkirakan pengolahan hanya mencapai 24,2 juta ton.

SENTIMEN LAIN

Pelemahan harga gula di ICE terjadi terjadi seiring dengan penurunan komoditas kopi Arabika yang mendapat sentimen negatif pelemahan mata uang real Brasil terhadap dolar AS. Pelemahan real telah mengikis minat ekspor komoditas berdenominasi dolar AS itu.

Brasil merupakan produsen dan pengekspor terbesar komoditas gula dan kopi. Kontrak kopi menyusut 1,25 poin atau 1,10% menjadi US$112,75 sen per pon. Harga kopi berjangka telah turun 13,47% secara year-to-date (ytd).

Salah satu penyebab kemerosotan harga gula dan kopi yakni data Departemen Pertanian AS (USDA) menunjukkan bahwa jumlah penggilingan tebu di Brasil mencapai 24,9 juta ton dalam 2 pekan pertama Oktober.

Jumlah itu melebihi ekspektasi analis sebanyak 24,2 juta ton. Adapun, jumlah produksi gula mencapai 958,000 ton, masih di bawah perkiraan sebanyak 970.000 ton.

Untuk kopi, produksi selama 12 bulan yang berakhir pada 30 Juni diperkirakan naik 25% ke rekor 63,4 juta kantong dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan melampaui estimasi analis. Tiap kantong kopi berisi 60 kilogram atau 132 pon kopi.

Rodrigo Costa, Direktur Comexim, pengekspor asal Brasil, mengatakan bahwa konsumen gula dan kopi juga kemungkinan menurunkan minat belinya jika penguatan dolar AS terus berlanjut. “Padahal, cadangan pasokan masih sangat berlimpah.”

Analis pialang di Sucden Financial London Alex Boughton mengungkapkan bahwa pelemahan harga gula dan kopi saat ini karena dilanda sejumlah isu, terutama penguatan dolar AS terhadap sejumlah kurs di pasar negera berkembang.

Indeks dolar AS pada perdagangan Rabu (14/11) turun tipis 0,08% menjadi 97,21 poin. Kendati demikian, indeks itu masih berada pada titik tertinggi dalam 16 bulan dan melemahkan mata uang rivalnya seperti pound sterling.

Kepala perdagangan gula INTL FCStone di Sao Paulo Bruno Lima mengungkapkan bahwa selain terpicu oleh pelemahan real Brasil, penurunan harga gula juga terpengaruh harga minyak mentah dunia yang terus menurun sehingga menghapus prospek produksi etanol berbasis tebu.

Editor : Pamuji Tri Nastiti

 

(Sumber : Bisnis.com)