• Wed, 12 December 2018
15 Nov
KINERJA PERUSAHAAN TEKSTIL : Emiten Raup Berkah Penguatan Dolar

Tegar Arief Rabu, 14/11/2018 02:00 WIB

JAKARTA — Kinerja emiten tekstil dan produk tekstil pada kuartal III/2018 cukup memuaskan ditopang oleh penguatan dolar Amerika Serikat yang terjadi sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis melalui laporan keuangan per September 2018, terdapat 12 emiten tekstil yang berhasil mencatatkan laba pada 9 bulan tahun ini. Dari jumlah tersebut, 10 perusahaan tercatat berhasil meningkatkan laba, termasuk diantaranya berhasil mencatatkan keuntungan setelah pada periode yang sama tahun lalu masih rugi.

Perusahaan tersebut adalah PT Pan Brothers Tbk. (PBRX), PT Polychem Indonesia Tbk. (ADMG), PT Trisula Textile Industries Tbk. (BELL), PT Eratex Djaja Tbk. (ERTX), dan PT Asia Pacific Fibers Tbk. (POLY). Kemudian PT Ricky Putra Globalindo Tbk. (RICY), PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL), PT Sunson Texstile Manufacture Tbk. (SSTM), PT Trisula International Tbk. (TRIS), serta PT Nusantara Inti Corpora Tbk.(UNIT).

Pertumbuhan laba paling tinggi berhasil ditorehkan oleh SRIL yakni sebesar 64,83% dari Rp638,27 miliar pada kuartal III/2017 menjadi Rp1,05 triliun pada periode yang sama tahun ini. Pendapatan perseroan juga melejit 47,36% menjadi Rp11,4 triliun pada tahun ini.

Sementara itu, perusahaan dengan kerugian terbesar per akhir September lalu adalah PT Panasia Indo Resources Tbk. (HDTX) yakni mencapai Rp457,45 miliar. Angka tersebut naik sebesar 18,91% dibandingkan kuartal III/2017 yang senilai Rp384,68 miliar.

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama menilai, penyebab utama banyaknya emiten tekstil yang berhasil mencatatkan laba pada kuartal ketiga tahun ini adalah penguatan dolar AS. Pasalnya, mayoritas perusahaan tersebut berorientasi ekspor.

Di sisi lain, Indonesia menjadi salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki pasar cukup luas di mancanegara, mulai dari Amerika Serikat, Asia, hingga Timur Tengah.

“Emiten tekstil mayoritas ekspor, sehingga ketika rupiah tertekan oleh dolar, pendapatan dan laba mereka akan lebih tinggi karena ada selisih kurs tersebut,” katanya, saat dihubungi Bisnis, Selasa (13/11).

Namun demikian, Nafan tidak melihat adanya potensi ancaman dari sisi kinerja keuangan emiten tekstil. Dia menilai, sektor ini masih cukup prospektif karena memiliki fundamental yang kuat.

Menurutnya, satu-satunya yang bisa menghambat produktivitas kinerja sektor ini hanyalah diplomasi perdagangan pemerintah dengan negara tujuan ekspor. Namun, jika tarif impor negara tujuan masih realistis, kinerja emiten tekstil masih berpotensi meningkat.

“Selama negara tujuan tidak melakukan tarif barrier, maka ekspor tekstil akan tetap jalan. Di sini peran pemerintah yang utama, karena emiten hanya sebagai eksportir,” ujarnya.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menambahkan, penguatan dolar AS memang menguntungkan perusahaan tekstil yang berorientasi ekspor. Namun, bagi emiten yang mayoritas produknya dipasarkan di dalam negeri, kondisi ini belum menguntungkan.

Terlebih, tidak sedikit emiten yang masih mengandalkan bahan baku dari impor. Hal ini menjadi salah satu penyebab adanya emiten tekstil yang masih merugi. “Perusahaan besar memang tidak impor. Namun, banyak juga emiten tekstil yang pasarnya di dalam negeri, tetapi bahan bakunya impor.”

Faktor lain yang menurutnya bisa menghambat kinerja emiten tekstil adalah kondisi ekonomi global. Adanya perang dagang antara AS dan China akan berdampak pada kinerja ekspor produk.

Perang dagang, katanya, sangat berdampak pada Indonesia yang menjadi negara ke-15 yang mengalami surplus terhadap AS. “Artinya kita berpotensi kena serangan atau dampak dari perseteruan mereka,” sambungnya.

//FAKTOR GLOBAL//

Hans menambahkan, pemerintah harus turun tangan untuk menjaga aktivitas perdagangan sektor ini sehingga tekanan dari ekonomi global tidak berdampak pada kinerja perdagangan tekstil dan produk tekstil.

Direktur keuangan PT Sri Rejeki Isman Tbk. Allan Moran Severinno meyakini bahwa kendati tekanan masih cukup berat, perseroan optimistis target yang dipatok pada tahun ini terealisasi. ”Tahun ini meski banyak sikap wait and see di pasar kami tetap optimistis dapat tumbuh dobel digit di atas industrial average sehingga total penjualan kami menembus US$1 miliar,” katanya.

Selain melakukan penetrasi pasar, SRIL juga meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi guna menunjang kinerja keuangan. Saat ini, kapasitas produksi SRIL untuk benang (spinning) adalah 1,15 juta bales/tahun dan penenunan (weaving) 180 juta meter/tahun.

Adapun kapasitas produksi kain jadi (finishing) sebesar 240 juta yard/tahun dan apparel (garment) 30 juta potong/tahun. Saat ini tingkat utilisasi produksi untuk spinning 92%, weaving 86%, finishing 82% dan garmen 95%.

“Kami terus meningkatkan kapasitas produksi, peningkatan utilisasi produksi, penghematan biaya, meningkatkan efisiensi produksi, memperluas diversifikasi produk serta memperluas jaringan pelanggan,” imbuhnya.

Perseroan juga terus berkomitmen untuk meningkatkan kinerja ekspor. SRIL menargetkan penjualan ekspor bisa berkontribusi dalam kisaran 56%—58% dari total penjualan pada tahun ini.

Sementara itu, Assistant President Director, Corporate Communication Asia Pacific Fibers (POLY) Prama Yudha Amdan mengatakan, perseroan memproyeksikan pendapatan sejalan dengan pertumbuhan pendapatan umum yakni pada kisaran 12%-15%. Untuk menaikkan pendapatan, perseroan akan memproduksi produk yang memiliki nilai tambah.

“Tahun depan, kami menargetkan pendapatan 12%-15%,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (13/11). (Novita S. Simamora)

(Sumber : Bisnis.com)