• Wed, 12 December 2018
14 Nov
SUBSTITUSI IMPOR BAHAN BAKU : Daur Ulang Plastik Jadi Solusi

Wibi Pangestu Pratama Senin, 12/11/2018 02:00 WIB


JAKARTA — Pengembangan industri daur ulang plastik dinilai menjadi salah satu jalan untuk mendukung pasokan bahan baku industri sebagai substitusi produk impor yang selama ini menjadi beban pengusaha karena sensitif terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.

Beberapa sektor industri, seperti tekstil, menuntut pemerintah untuk mengembangkan industri hulu di dalam negeri agar tidak terus bergantung pada bahan baku impor.

Ade Sudrajat, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), menjelaskan industri tekstil sedang berada di persimpangan jalan karena harga bahan baku impor yang terus meningkat.

Dia menuturkan, industri daur ulang plastk bisa menjadi solusi jangka pendek karena dapat memasok bahan baku tekstil secara bertahap untuk bergerak mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku.

Sebagai contoh, daur ulang plastik berbasis polietilena dapat menghasilkan poliester yang merupakan bahan baku tekstil sekaligus menyelesaikan permasalahan lingkungan.

“Namun kan pemerintah memiliki policy yang tidak mau , sehingga botol-botol itu di Indonesia bertebaran di sungai dan di mana-mana,” ujar Ade belum lama ini.

Ariana Susanti, Business Development Director Indonesian Packaging Federation (IPF), menjelaskan jumlah sampah plastik yang besar di Indonesia dapat dimanfaatkan apabila ada sistem pengolahan sampah yang baik.

Menurutnya, saat ini regulasi pengolahan sampah sudah ada, tetapi pelaksanaannya masih jauh dari sempurna. Dengan adanya industri daur ulang plastik dan regulasi yang mendukung, persoalan sampah plastik dapat diselesaikan dengan baik.

Mengacu pada data Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), konsumsi plastik di Indonesia mencapai 5,6 juta ton. Dari keseluruhan jumlah tersebut, konsumsi plastik daur ulang mencapai 1 juta ton dan sisanya merupakan plastik dari bahan baku nafta. Sebanyak 190.000 ton plastik yang dikonsumsi tidak tertangani dan berakhir menjadi polusi.

Jumlah sampah yang besar ini merupakan modal utama bagi pengembangan industri daur ulang.

Ekonom Maybank Myrdal Gunarto menilai permintaan bahan baku industri cenderung stabil sehingga potensial bagi industri daur ulang untuk memasok bahan baku tersebut. Permintaan tersebut akan berubah jika muncul kebijakan baru terkait dengan penggunaan plastik, seperti cukai plastik.

Dia menjelaskan pengembangan industri berbasis substitusi impor memang harus dilakukan untuk mengurangi ketergantungan impor di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang masih berpotensi melemah seiring dengan prospek kenaikan bunga the Fed.

“Kalau menurut saya industri ini atraktif, kebutuhan besar,” ujar Myrad, Minggu (11/11). (Wibi P. Pratama)

Sumber: Bisnis