• Wed, 12 December 2018
09 Nov
REVOLUSI INDUSTRI 4.0 : Mimpi Indonesia Masuk 10 Besar Ekonomi Terkuat

Annisa S. Rini, Oktaviano Donald Baptista & Fitri Sartina Dewi

Rabu, 07/11/2018 02:00 WIB


Kemajuan teknologi bagaikan dua sisi mata pisau bagi sektor industri. sisi teknologi memiliki manfaat yang besar untuk mendorong pertumbuhan industri, tetapi di sisi lain dapat menimbulkan kekhawatiran bahwa peran manusia akan digantikan robot dengan kecerdasan buatan.

Di Indonesia, penggunaan teknologi digital secara besar-besaran pada industri manufaktur ditandai dengan peta jalan yang disebut Making Indonesia 4.0 sebagai strategi untuk mengimplementasikan revolusi generasi keempat atau revolusi industri 4.0.

Sebagai konseptor peta jalan industri 4.0, Kementerian Perindustrian telah menetapkan 5 sektor manufaktur yang akan diutamakan pengembangannya dan dijadikan percontohan dalam implementasi program tersebut yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik, dan kimia.

Sejalan dengan ditetapkannya peta jalan industri 4.0, pelaku industri pun mulai mengimplementasikan program tersebut. Meskipun demikian, belum ada pelaku industri di Tanah Air yang benar-benar menerapkan industri 4.0 secara utuh, karena masih dihadapkan pada sejumlah tantangan.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan beberapa perusahaan telah menerapkan teknologi industri 4.0, tetapi masih secara parsial atau belum terintegrasi seluruh rantai proses bisnis.

“Salah satu tantangan untuk menerapkan industri 4.0 di sektor mamin adalah provider teknologi yang masih kurang,” ujarnya belum lama ini.

Dia menyebutkan tantangan lain yang dihadapi pelaku industri ialah ketersediaan infrastruktur IT dan koneksi internet yang memadai untuk menopang implementasi revolusi industri keempat. Tantangan lainnya ialah masih minimnya kompetensi tenaga kerja untuk mengoperasikan teknologi industri 4.0.

Adhi menyatakan pihaknya mengapresiasi langkah pemerintah dalam mengatasi persoalan kompetensi tenaga kerja. Adapun, strategi yang dijalankan pemerintah adalah pengembangan program pendidikan vokasi yang link and match dengan industri di beberapa wilayah Indonesia.

Staf Khusus Kementerian Perindustrian Zakir Machmud menyatakan dibutuhkan adanya sinergi antara pemerintah dan swasta untuk mendongkrak kompetensi tenaga kerja industri. Hingga akhir Oktober 2018, Zakir mengungkapkan telah melibatkan sebanyak 609 perusahaan dan 1.753 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk mengembangkan program pendidikan vokasi.

“Sinergi ini mutlak dilakukan, karena sektor industri merupakan tulang punggung bagi perekonomian kita, dan industri nasional harus berdaya saing global,” paparnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan peningkatan kualitas SDM merupakan satu dari 10 strategi prioritas nasional yang akan dijalankan untuk implementasi industri 4.0.

Menurutnya, pemerintah juga segera membentuk Komite Industri Nasional sebagai bagian dari upa­­­ya kesiapan dalam impelementasi industri 4.0. Airlangga memaparkan pembentukan Komite Industri Na­­sional ialah untuk memfasilitasi penyelarasan antara kementerian dan lembaga terkait dengan pelaku industri dalam negeri agar Indonesia mampu kompetitif pada era digital seperti saat ini.

“Making Indonesia 4.0 menjadi arah yang jelas guna mewujudkan aspirasi nasional, yaitu menjadikan Indonesia masuk 10 besar negara ekonomi terkuat di dunia pada 2030,” ujarnya.

Sumber: Bisnis