• Tue, 20 November 2018
07 Nov
Masuk musim hujan, harga pangan hortikultura naik

Senin, 05 November 2018 / 17:46 WIB

ILUSTRASI. Proyeksi inflasi Oktober 2018

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga pangan terutama pada produk hortikultura mengalami kenaikan. Seiring memasuki musim hujan, panen sejumlah sentra sayur dan buah-buahan tertunda dan menyebabkan kekurangan pasokan sesaat.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menyampaikan, rata-rata produk hortikultura mengalami kenaikan Rp 300 - Rp 1.000 per kilogram dibandingkan minggu lalu.

Misalnya, bawang putih dari minggu lalu di Rp 27.900 per kg menjadi Rp 28.300 per kg. Bawang merah dari Rp 27.500 per kg menjadi Rp 28.300 per kg. Cabe rawit dari Rp 33.700 per kg menjadi Rp 34.100 per kg, cabe rawit merah dari Rp 36.000 per kg menjadi Rp 37.500 per kg.

"Harga produk hortikultura rata-rata naik, karena musim hujan dan ada beberapa daerah yang kita cek, harusnya panen tapi karena diguyur hujan jadinya tertunda besok, jadinya ada kendala juga di distribusi," katanya saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (5/11).

Adapun dari produk-produk tersebut yang berbasis impor hanya bawang putih yang pengadaannya hampir 90% dari negara seperti China, Thailand dan Vietnam. Impor ini terjadi karena produksi dalam negeri bawang putih memang tidak banyak dan hanya bisa menyuplai hingga 10% kebutuhan konsumsi.

Tak hanya pada produk hortikultura, harga beras juga mengalami kenaikan. Beras Ramos naik menjadi Rp 10.800 per kg dari Rp 10.500 per kg dan beras seri IR 64 naik jadi Rp 9.700 per kg dari Rp 9.500 per kg.

Sedangkan beras perah yang biasa disebut sebagai premium juga naik jadi Rp 12.800 per kg dari Rp 12.500 per kg. Menurut Abdullah, kenaikan harga beras juga disebabkan oleh kondisi panen dan distribusi yang terhambat hujan.

Kemudian ada juga kenaikan di produk gula menjadi Rp 12.850 per kg dari minggu lalu di Rp 12.600 per kg.

Terkait impor komoditas pangan, Abdullah melihat langkah pemerintah yang sudah membuka keran impor untuk beras, gula dan bawang putih sebenarnya tidak langsung mempengaruhi harga produk di pasar.

Apalagi beras impor dipercaya masih berada dalam stok gudang Bulog, kemudian mayoritas impor gula diperuntukkan bagi industri makanan dan tidak turun langsung ke pasar. Sedangkan bawang putih memang sedari awal diimpor.

Oleh karenanya, bila pemerintah benar-benar melakukan impor untuk pengendalian harga komoditas, seharusnya ada langkah operasi pengendalian harga pasar berupa banjiri pasar dengan komoditas tersebut.

"Produk impor kalau digunakan untuk konsumsi lain, bukan ke pasar, maka harga lapangan tidak akan turun," katanya.

Sumber: Kontan