• Tue, 20 November 2018
07 Nov
Darurat Sawah Bikin RI Terpaksa Impor Beras
Raydion Subiantoro, CNBC Indonesia

06 November 2018 09:50

 


Foto: Jokowi saat mengunjungi lokasi padat karya di Sumba (Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Lahan sawah baku di Indonesia diketahui menyusut terus dalam lima tahun terakhir, hingga saat ini tersisa 7,1 juta hektare.


Dirjen Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Pengusaan Tanah Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR), Budi Situmorang, megnatakan menyusutnya sawah karena begitu cepatnya alih fungsi lahan yang dilakukan, antara lain menjadi perumahan, apartemen, SPBU dan lahan industri.


Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, saat berkunjung ke kantor Transmedia pada 13 September 2018 juga sempat menyinggung berkurangnya sawah.


Dia menuturkan menyusutnya lahan sawah sebagai salah satu faktor penyebab impor pangan, khususnya beras

Berikut yang diungkapkan oleh Mendag:


Saya ingin menyampaikan alasan di balik impor beras serta mekanisme dan prosesnya.

Sejak zaman Orba [di mana saat itu] hanya satu periode tertentu kita benar-benar swasembada beras, lepas dari itu kita tidak pernah tidak impor beras.


Konversi lahan pertanian menjadi lahan perkotaan itu jauh lebih cepat dibandingkan dengan penciptaan sawah baru, dari dulu.


Dampak dari pembangunan infrastruktur yang luar biasa, termasuk kawasan-kawasan industri dan pertumbuhan industri, fasilitas pelabuhan, airport dan sebagainya itu berdampak pada alih fungsi lahan yang semula lahan pertanian.


Ambil contoh: BSD awal, 6 ribu hektar itu adalah sawah teknis. Saya ikut berdosa, 350 hektar punya saya di Kemang Pratama adalah sawah, itu pada zaman dulu.


Membuat tambahan konversi 6 ribu hektar, 350 hektar.


Kemudian, Grand Wisata 2 ribu hektare, itu tidaklah mudah [menyediakan lahan pengganti].

Kendal, yang dibuat bersama dengan Pemerintah Singapore, itu sawah. Kemudian Kertajati, Majalengka, itu sawah. Ini fakta yang ada.

Adapun terkait dengan berkurangnya lahan sawah ini, pemerintah diketahui tengah menyiapkan peraturan presiden yang mengatur soal lahan sawah abadi.


Melalui perpres itu, lahan sawah yang ada saat ini yaitu 7,1 juta hektare akan tetap diupayakan abadi.

Pemerintah juga menyiapkan insentif bagi petani atau pemilik lahan jika tidak bersedia sawahnya dialihfungsikan.

Kepala Staf Presiden, Moeldoko, mengatakan pemerintah juga akan menggenjot produksi sawah melalui pendekatan teknologi.


Sudah sepantasnya Indonesia memang sudah harus fokus pada peningkatan produksi sawah untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. (ray/dru)

 

Sumber: CNBC