• Wed, 24 October 2018
10 Oct
BAHAN BAKU IMPOR : Rupiah Loyo, IKM Alas Kaki Tertekan

Selasa, 09/10/2018




JAKARTA — Pelaku industri kecil dan menengah di sektor alas kaki dalam negeri terkena dampak paling besar akibat pelemahan nilai tukar rupiah karena sekitar 40% bahan baku masih diimpor.


Firman Bakri, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), menjelaskan bahwa dari keseluruhan anggota asosiasi, sebanyak 20% merupakan industri skala kecil dan menengah (IKM).


Apalagi, apabila IKM alas kaki berorientasi ke pasar domestik, dampak pelemahan rupiah akan sangat terasa karena opsi untuk meningkatkan harga sulit diambil seiring dengan belum membaiknya daya beli masyarakat Indonesia.

“Masalahnya, untuk menaikkan harga tidak mungkin karena daya beli belum kuat dan harus bersaing dengan produk impor murah,” ujarnya baru-baru ini.


Kendati demikian, lanjutnya, tren pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini dapat dijadikan momentum untuk mendorong industri berorientasi ekspor mengingat sebagian besar hasil produksi industri ini dikirim ke luar negeri.


Firman mengatakan, saat ini nilai impor lebih besar dibandingkan dengan ekspor sehingga menyebabkan defisit necara perdagangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai defisit perdagangan pada Agustus 2018 sebesar US$1,02 miliar. “Sebenarnya impor tidak dilarang, tetapi ekspor harus didorong lebih tinggi. Industri berorientasi ekspor, termasuk alas kaki, harus didorong supaya neraca perdagangan positif,” imbuhnya.


Beberapa langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk menguatkan industri berbasis ekspor antara lain negoisasi perjanjian dagang dan perbaikan iklim investasi untuk menarik lebih banyak investor. Dengan investasi, lapangan pekerjaan dan kapasitas industri akan semakin besar.


Salah satu perjanjian dagang yang ditunggu industri alas kaki adalah Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) karena permintaan produk alas kaki Indonesia cukup tinggi. Apabila pemerintah bisa menurunkan bea masuk produk alas kaki ke Eropa, ekspor bakal naik 20%-30%.


Dia menilai, kondisi perang dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi peluang untuk menarik investasi dari Negara Panda tersebut. Apalagi, saat ini industri alas kaki di China tengah mengalami kejenuhan.


Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus berupaya memacu pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan investasi dan ekspor.


Pemerintah menyiapkan insentif dan kebijakan pendukung, khususnya untuk industri padat karya yang berorientasi ekspor seperti tekstil, garmen, dan sepatu. “Kami telah mengusulkan insentif untuk memudahkan relokasi pabrik ke daerah dengan tingkat upah minimum regional yang rendah.” (Annisa S. Rini)


 

(Sumber : Bisnis.com)