• Wed, 24 October 2018
10 Oct
ANDALAN EKSPOR JATIM : 3 Komoditas Hortikultura Tembus Pasar Asean

Selasa, 09/10/2018


SURABAYA —Tiga komoditas hasil pertanian hortikultura asal Jawa Timur kembali menembus pasar ekspor di Asia Tenggara seiring dengan peningkatan produksi pertanian di sejumlah daerah di provinsi tersebut.n


Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan bahwa ketiga komoditas tersebut di antaranya adalah mangga, bawang merah dan benih sayuran kangkung yang kali ini akan dikirim ke Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina bahkan sampai ke China.

“Kami mengapresiasi du­kungan Kementan dalam men­dorong ekspor komoditas pangan di Jatim, apalagi saat ini harga bawang merah sedang turun tetapi kita semua mampu mengangkat harga sehingga petani tidak rugi,” ujarnya di sela-sela pelepasan ekspor produk hortikultura Jatim, Senin (8/10).


Adapun rincian ekspor tiga komoditas hortikultura tersebut yakni pertama, bawang merah yang ditargetkan 800 ton pada 2018 dengan volume ekspor awal 26 ton. Bawang merah asal Probolinggo dengan varietas super Philip ini diekspor ke Filipina oleh eksportir CV Bawang Mas 99.


Kedua, mangga varietas arumanis yang ekspornya ditarget 100 ton tahun ini dengan volume ekspor awal sebanyak 5 ton. Mangga asal Jombang, Kediri, Gresik, dan Lamongan ini akan diekspor ke Malaysia dan Singapura oleh eksportir PT Mahkota Multi Mandiri.


Ketiga, benih sayuran kangkung yang ditarget men­capai 800 ton dengan volume ekspor awal sebanyak 20 ton. Benih kangkung varietas KK Asa 04 asal Lamongan ini akan diekspor ke Vietnam, China dan Malaysia oleh eksportir PT Java Karlos Indonesia.


Herry Phio, eksportir bawang merah Jatim, mengatakan perusahaanya mulai melakukan ekspor sejak 2016 dengan tujuan Thailand, Singapura, Malaysia, dan Filipina.

“Kontrak ekspor bawang merah kita sebanyak 6.000 ton per tahun secara nasional. Selama 2018, perusahaan kami sudah mengekspor 800 ton ke Singapura dan Malaysia,” ungkapnya.


Sementara itu, Berry Gaswara, eksportir buah mangga me­ngatakan, pihaknya baru pertama kali melakukan ekspor mangga yang tahun ini jumlahnya sekitar 5 ton/minggu dari total target 100 ton/tahun dengan tujuan Malaysia dan Singapura.

“Ini pertama kalinya, dan ini berkat dukungan Kementan sehingga pengurusan ekspor tidak ada hambatan, proses ekspor cepat,” ujarnya.


Sementara itu eksportir benih sayuran, Yulius Dwi Putra menambahkan bahwa dalam melakukan ekspor sejak 2015, pihaknya bekerja sama dengan petani penangkar benih binaan sebanyak 1.000 petani di wilayah Lamongan lalu masuk ke packing house di Jombang.

“Potensi lahan untuk produksi benih di Jatim bisa sampai 800--1.000 ha dengan produksi benih sekitar 1.000 ton/tahun. Selain benih kangkung, kami kembangkan benih bayam, okra, mentimun dan cabai,” imbuhnya.


BPS mencatat nilai ekspor komoditas hortikultura segar secara nasional selama Januari—Juli 2018 mencapai Rp1,22 triliun atau naik sebesar 60,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni hanya Rp0,76 triliun.


Produk pertanian yang sudah tembus pasar ekspor sejauh ini adalah mangga, manggis, salak, nanas, benih, sayuran, bawang merah, tanaman hias, telur, ayam, kambing, dan jagung.


Potensi ekspor mangga 2018 secara nasional, sebesar 835 ton atau naik 6% dari 2017 yang hanya 790 ton. Sementara itu, ekspor bawang merah tahun ini ditargetkan 15.000 ton yakni naik 128% dibandingkan 2017 yang hanya 6.588 ton.


Dalam acara pelepasan ekspor tiga produk hortikultuta Jatim itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bah­wa ekspor tersebut merupakam bagian dari rencana ekspor 2018 sebanyak 900 ton benih sayuran yang mengalami kenaikan 50% dibandingkan dengan 2017.

“Khusus ekspor benih sayuran kali ini, menunjukkan bahwa industri perbenihan dalam negeri sudah maju dan mampu bersaing dengan produk benih negara lain,” katanya.


Selain kangkung, beberapa benih hortikultura yang telah diekspor yaitu benih pare, cabai, paprika, timun, gambas, melon, waluh, jagung manis, pare welut, semangka, terong, tomat, jagung pulut, kacang panjang, bayam, okra dan buncis.


IZIN EKSPOR


Lebih jauh, Kementerian Pertanian meminta pemerintah daerah untuk memberikan kemudahan izin bagi eksportir yang akan melakukan ekspor produk pertanian hortikultura di tengah ketidakpastian perekonomian global saat ini.


Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah telah mendorong ekspor sebanyak-banyaknya dengan mempermudah eksportir masuk ke negara lain. Hanya saja, diperlukan juga dorongan dari pemerintah daerah dalam meningkatkan produksi maupun memudahkan izin.

“Presiden sudah minta agar kita mendorong ekspor, jadi jajaran pertanian perlu mempermudah kebutuhan izin eksportir. Bila perlu, ini diantar ke rumahnya. Itulah fungsi online single submission yang sudah diterapkan di pertanian,” jelasnya di sela-sela pelepasan ekspor produk hortikultura Jatim, Senin (8/10).


Dia mengungkapkan bahwa selama ini mengurus izin bisa mencapai 6 bulan, bahkan 1—2 tahun. Namun, sejak ada OSS sudah bisa dilakukan dalam waktu 1 jam. Dia meyakini perekonomian negara akan tumbuh lebih bagus oleh dua faktor yakni ekspor dan investasi.


 

(Sumber : Bisnis.com)