• Wed, 12 December 2018
09 Oct
KOMITMEN INVESTASI : Asing Gencar Tambah Pabrik Alas Kaki

Annisa S. Rini Senin, 08/10/2018 02:00 WIB

JAKARTA — Industri alas kaki nasional semakin dilirik investor asing. Setelah komitmen penanaman modal dari dua perusahaan asal Korea Selatan beberapa waktu lalu, kini produsen asal China juga menambah investasinya di Tanah Air.

Firman Bakri, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), mengatakan salah satu perusahaan alas kaki asal China, yaitu Shoetown Group, akan menambah pabrik dengan bendera PT Shoetown Ligung Indonesia di Majalengka, Jawa Barat.

Adapun, secara keseluruhan, total investasi yang dikucurkan Shoetown Group mencapai US$200 juta. Adapun, pada tahap pertama, perusahaan tersebut mengalokasikan anggaran sebesar US$42 juta.

“Rencana pabriknya besar, bisa menyerap sampai 20.000 tenaga kerja. Tahap awal jumlah tenaga kerja 1.500 orang dan dalam tahap vokasi 2.000 orang. Jadi dalam waktu dekat bisa 3.500 orang,” ujarnya, Jumat (5/10).

Lokasi pabrik yang diresmikan awal bulan ini dekat dengan Bendara Kertajati, Jawa Barat. Menurut Firman, hal ini berarti pembangunan infrastruktur akan diikuti oleh investasi industri. Apalagi, di daerah Majalengka, upah minimum regional (UMR) lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain, seperti Banten.

Sektor alas kaki dalam negeri memang masih membutuhkan investasi baru untuk memenuhi kebutuhan global yang terus meningkat seiring dengan kebutuhan produk alas kaki dunia yang terus naik mengikuti pertumbuhan penduduk.

Selain itu, perubahan struktur industri di China, mendorong banyak produsen alas kaki di negara tersebut hengkang. Padahal, permintaan global banyak berasal dari China, sehingga wajar ekspor alas kaki dari Indonesia terus meningkat.

Firman menyebutkan, saat ini investor cenderung berinvestasi ke daerah dengan upah minimum kabupaten (UMK) yang rendah, seperti ke wilayah Jawa Tengah. Hal ini mengingat sektor alas kaki merupakan industri yang menyerap banyak tenaga kerja.

“Yang paling memengaruhi sebenarnya bahan baku, tetapi kan bisa disubstitusi. Kalau labor cost enggak bisa dialihkan, khususnya industri alas kaki yang membutuhkan banyak tenaga kerja,” jelasnya.

Sebelumnya, sebanyak enam perusahaan asal Korea Selatan menyatakan komitmennya untuk berinvestasi di Indonesia. Dua dari keenam perusahaan tersebut, yaitu Parkland dan Taekwang Industrial bergerak di industri alas kaki.

Parkland menggelontorkan dana senilai US$75 juta untuk membangun pabrik di Pati, Jawa Tengah, dan Taekwang Industrial akan membangun industri alas kaki senilai US$100 juta di Subang dan Bandung, Jawa Barat.

Menurut Firman, kedua investor tersebut telah ada di Indonesia dan kemungkinan komitmen investasi tersebut digunakan untuk memperluas bisnis mereka yang sudah ada.

//PACU EKSPOR//

Saat ini, Indonesia berada di urutan keenam sebagai negara eksportir alas kaki terbesar di dunia setelah China, Vietnam, Italia, Jerman, dan Belgia. Sepanjang tahun lalu, ekspor alas kaki mencapai 4,52 miliar euro atau naik 7,96% dibandingkan dengan tahun sebelumnya senilai 4,19 miliar euro.

Pelaku industri alas kaki dalam negeri terus mendorong pemerintah untuk segera menyelesaikan perjanjian dagang dengan Uni Eropa sehingga ekspor produk ini bisa tumbuh dua digit.

Budiarto Tjandra, Ketua Pengembangan Sport Shoes & Hubungan Luar Negeri Aprisindo, mengatakan kawasan tersebut selama ini menjadi tujuan utama ekspor alas kaki dalam negeri.

Kontribusi ekspor alas kaki ke Uni Eropa mencapai 31% dari total ekspor senilai 4,52 miliar euro sepanjang tahun lalu. “Kalau bisa segera diselesaikan, ekspor alas kaki bisa naik 10%—20%,” ujarnya.

Apalagi, saat ini pesaing terdekat di kawasan Asia Tenggara, yaitu Vietnam telah mencapai kesepakatan free trade agreement (FTA) dengan Uni Eropa sehingga semakin banyak permintaan ke negara tersebut.

Terkait dengan rencana ratifikasi kerja sama bilateral Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), dia menilai tidak akan berdampak signifikan terhadap industri alas kaki dalam negeri.

Hal ini disebabkan pasar di Negari Kangguru tersebut tidak terlalu besar. Selama ini, jumlah ekspor alas kaki ke Australia hanya 2% dari total ekspor senilai 4,52 miliar euro. “Pasar di sana tidak besar karena penduduk Australia juga tidak terlalu banyak,” jelasnya.

Kendati tidak berdampak besar terhadap pertumbuhan ekspor, Tjandra tetap menyambut baik rencana ratifikasi IA-CEPA pada November nanti. Dia meyakini tetap akan ada dampak baik terhadap industri alas kaki nasional walaupun tidak terlalu besar.

Editor : Maftuh Ihsan

 

(Sumber : Bisnis.com)