• Fri, 17 August 2018
10 Aug
Lanjutkan Negosiasi Dagang Dengan AS, Indonesia Perlebar Keran Impor 3 Komoditas

Rabu, 08/08/18



Pabrik tekstil Sritex - Antara/R. Rekotomo

Bisnis.com, BANDUNG — Kementerian Perdagangan akan memperlebar keran impor sejumlah komoditas sebagai bagian negosiasi dagang dengan AS. 

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan pihaknya tidak akan membayar retaliasi dalam bentuk denda sebesar US$350 juta seperti yang dituntut AS karena masih memiliki waktu dan proses yang panjang untuk bernegosiasi. Pemerintah AS sebelumnya menyatakan akan membawa hal ini ke WTO. 

“Secara prinsip, isu itu sudah selesai, sudah teratasi,” ujarnya di Bandung, Rabu (8/8/2018).

Enggar mengungkapkan saat berkunjung ke AS beberapa waktu lalu, pihaknya bertemu dengan para stakeholder dan para pengusaha, termasuk Boeing, untuk membicarakan hal tersebut. 

"Kami menyepakati peningkatan kerja sama dagang dengan AS dari US$28 juta ke US$50 juta dengan roadmap bagaimana mencapainya," tuturnya.

Mendag menerangkan sembari mempersiapkan sejumlah perbaikan dalam perselisihan dagang yang dilaporkan ke WTO, pihaknya akan membuka akses pasar bagi AS. Keran impor yang bakal diperlebar adalah kedelai, kapas, dan daging.

”Tidak ada pilihan, kita anggota WTO, kalau Anda tidak mau, maka kita tidak bisa ekspor. Kan kita tidak boleh menang sendiri,” lanjutnya.

Dalam waktu dekat, Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan mengeluarkan surat persetujuan impor komoditas yang dinilai sangat dibutuhkan. Impor kedelai misalnya, diperlebar karena kebutuhan pengusaha dalam negeri pada produk asal AS tersebut sangat tinggi.  

Sementara itu, jika keran impor diperlebar, Kemendag mengklaim sudah meminta agar AS memperluas pangsa pasar produk garmen dan tekstil Indonesia yang saat ini masih kalah jauh dari China.

"China 26%, kita 4,5%. Tolong naikkan. Kita dengan AS tidak bersaing tapi komplementer," tutur Enggar.

Namun, pihaknya juga meminta Negeri Paman Sam untuk memperluas pangsa pasar dan tidak mengenakan tarif bea masuk sebesar 25% untuk produk aluminium Indonesia.

Meski pasar aluminium Indonesia kecil, tapi ternyata digunakan Boeing untuk komponen pesawat mereka. Dengan demikian, permintaan itu dinilai tepat. 

Seperti diketahui, ketegangan hubungan dagang secara global dimulai ketika Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif impor baru untuk produk baja dan aluminium menjadi 25% dan 10% pada awal 2018.

Terkait permintaan ini, Kemendag mengaku belum mendapat respons dari Departemen Perdagangan AS. Enggar menjelaskan pengenaan tarif 25% dengan kondisi yang diterima Indonesia dari AS menyangkut aluminium tidak menempatkan hubungan dagang kedua negara dalam level yang sama.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat menilai rencana pemerintah membuka impor kapas dari AS terkait negoisasi sanksi dagang ini bisa diterima para pengusaha.

“Impor kapas kita dari AS hanya 40%. Kita besarnya 45% dari Brazil, sisanya dari berbagai negara. Ini bisa kita naik 10% dulu, jadi AS supplier utama impor kapas kita,” ucapnya.

Namun, kenaikan ini juga mesti diimbangi dengan langkah AS meningkatkan impor produk pakaian jadi Indonesia yang saat ini baru 3%. Ade menilai ekspor pakaian jadi ke AS bisa ikut naik menjadi 45%, sama dengan impor kapas yang dilakukan pengusaha Tanah Air.

API menuturkan sebelumnya Indonesia berada di posisi ketiga eksportir pakaian jadi global, tapi sekarang turun ke posisi enam setelah tergeser Bangladesh dan Vietnam. Mestinya, Indonesia bisa berada di posisi keempat atau kelima.

(Sumber: bisnis)