• Fri, 17 August 2018
09 Aug
Antisipasi Penurunan Bahan Baku, Industri Kakao Tambah Impor

Agustus 07 / 2018 19:49 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku usaha di bidang industri kakao sampai dengan Mei menambah impor bahan baku sebagai antisipasi dari potensi penurunan produksi dan kenaikan permintaan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Sindra Wijaya menyatakan pelaku usaha di sektor tersebut tidak lagi dalam tahap mengajukan izin tapi sudah melalukan importasi kakao.

"Bukan ancang-ancang lagi, kita sudah merealisasikannya dan makin banyak impor [kakao] untuk tahun ini, sampai dengan Mei saja impor sudah naik 41% untuk biji kakao," katanya kepada Bisnis pada Selasa (7/8).

Sampai sejauh ini, AIKI mencatat pelaku usaha sudah mengimpor 126.255 ton kakao senilai US$265 juta. Adapun produk yang diimpor adalah biji kakao sebesar 112.712 ton, kakao liquor 241 ton, kakao cake 2.624 ton, bubuk kakao 10.089 ton, dan kakao butter 590 ton. Selain itu ada juga impor kakao olahan sebesar 13.543 ton senilai US$30 juta.

Sidra mengatakan jumlah tersebut pasti akan meningkat sampai dengan akhir tahun. Oleh karena berdasarkan perkiraaannya, kebutuhan industri sampai dengan akhir tahun adalah 500.000 ton meningkat 35.000 ton dibandingkan dengan tahun lalu.

Sementara produksi dalam negeri hanya berkisar antara 260.000 ton—290.000 ton. "Total kebutuhan biji kakao untuk industri taun lalu itu 465.000, sedangkan thn ini diprediksi 500.000 ton biji kakao. Dari total tersebut sekitar 55%-nya impor," katanya.

Menurutnya terdapat tiga faktor kunci yang menyebabkan kebutuhan pasokan di tingkat industri meningkat. Pertama,   kebutuhan pasar secara global terus bertumbuh 2—4% per tahunnya. Kedua, belakangan ini ada  beberapa negara tujuan ekspor produk olahan mengalami musim dingin yang ekstrim sehingga mereka membutuhkan konsumsi cokelat untuk menghangatkan tubuh.

Ketiga, harga kakao yang sedang terkoreksi turun juga menyebabkan konsumsi naik. Jadi, menurutnya ini sebenarnya peluang untuk menumbuhkan industri dalam negeri. Tapi sayangnya tidak disertai dengan produksi kakao dalam negeri yang belum dapat menopang kebutuhan industri.

"Tetap susah karena produksinya terus turun. Solusinya ya terpaksa harus impor. Saya yakin impor tahun ini akan naik lagi," katanya.

Dalam pandangan Sindra, tahun 2024 merupakan periode yang bagus untuk dikejar sebab permintaan semakin tinggi tapi suplai ssmakin rendah sehingga harga akan naik tinggi. Berdasarkan data perkiraan AIKI pada tahun tersebut kebutuhan dunia mencapai 5 juta ton tapi produksi kurang dari 4 juta ton.

Sidra mengusulkan supaya program gerakan nasional kakao yang pernah diterapkan tahun 2009-2013 dianggarkan kembali secara berkelanjutan supaya Indonesia dapat memperbaiki kuantitas produksi. "Minimal untuk 5 tahun kedepan. Ini untuk membantu para petani mengingat perkebunan kakao di indonesia 99% berupa kebun rakyat," tegasnya.

Selain itu kekeringan tahun ini, pikirnya, cukup mengkhawatirkan jika terjadi dalam periode yang cukup panjang. Kalau kemaraunya cukup panjang, kata Sidra, akan berpengaruh pada produksi kakao karena pohon kakao pada dasarnya perlu  panas dan hujan yang cukup atau seimbang.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan tidak ada tanda-tanda El Nino sampai dengan saat ini. Musim kemarau tahun ini pun tidak sekering musim kemarau tahun 2015 yanh dipengaruhi El Nino. Tapi, dibandingkan dengan musim kemarau tahun 2017 musim kemarau tahun ini sedikit lebih kering.

Sumber: Bisnis