• Fri, 17 August 2018
31 Jul
Pengusaha Tekstil Setuju Impor Kapas dari AS Ditambah



Juli 29 / 2018 20:46 WIB

Karyawan mengoperasikan mesin bordir di salah satu rumah produksi tekstil yang ada di Jakarta, Senin (23/2). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Pengusaha tekstil dan produk dari tekstil (TPT) Indonesia menandatangani nota kesepahaman impor kapas lebih banyak dengan pemasok Amerika Serikat (AS).

Ade Sudrajat, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia, menuturkan kesepahaman diperoleh dengan beberapa pemasok kapas besar seperti Louis Dreyfus, Cargill dan Toyo Cotton. Saat ini, Indonesia merupakan importir kapas AS keempat terbesar di dunia.

"Dengan kesepahaman ini maka kami bisa menggunakan kapas Amerika lebih banyak yang pada gilirannya industri TPT Indonesia berharap dapat digunakan menjadi lebih banyak produksi ekspor ke AS," kata Ade melalui aplikasi pesan dari AS, akhir pekan lalu.

Melalui kesepahaman ini, API akan membuka kesempatan yang seluas-luasnya kerjasama penyimpanan kapas di Indonesia. Asosiasi juga akan menyiapkan bantuan teknis jika memang dibutuhkan. Meski begitu tidak disebutkan target peningkatan impor kapas AS ini.

"Pemerintah Indonesia telah menyediakan fasilitas PLB yang akan memangkas persoalan keterlambatan kapas dari AS. Untuk impor biasanya memerlukan waktu satu bulan hinggga dua bulan untuk tiba di Indonesia," katanya.

Selain dengan produsen kapas, Ade menyatakan pihaknya juga mendapat dukungan dari Kementerian Perdagangan dan KBRI di Washington dengan membuka pertemuan dengan Asosiasi Apparel dan Footwear AS. Setelah pertemuan awal ini akan dilakukan pertemuan lanjutan untuk menjembatani perdagangan antara industri TPT Indonesia dengan para pembeli khususnya merek-merek terkenal dari AS.

"API siap untuk mengadakan pertemuan rutin yang lebih intensif dalam waktu dekat baik di AS maupun Indonesia sehingga kerjasama antara TPT antara Indonesia dan Amerika semakin erat dan menguntungkan kedua belah pihak," katanya.

Produk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang masuk ke dalam PLB semakin meningkat dari tahun ke tahun. Impor TPT pada 2016 mencapai US$8,16 miliar, jumlah ini kemudian naik 7,9% menjadi US$8,8 miliar pada tahun lalu.

Berdasarkan data BPS, impor oleh industri TPT didominasi untuk bahan baku. Produk yang banyak masuk yakni produk kain (fabrics). Jenis kain ini dibutuhkan industri pakaian jadi yang diolah memenuhi kebutuhan dalam negeri ataupun untuk dieskpor kembali.

Sebelumnya pertemuan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dengan dengan Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross seperti yang dilaporkan Bisnis (28/7) terdapat respon positif. Dalam pertemuan itu terdapat sinyal Kementerian Perdagangan AS bersedia memberi dukungan penuh agar Indonesia tetap menjadi negara penerima fasilitas Generalized System of Preferences (GSP).

Delegasi Merah Putih—yang melibatkan sejumlah besar pelaku industri berbasis ekspor produk utama itu—juga mengantongi ‘lampu hijau’ dari Wilbur, terkait dengan permintaan agar Pemerintah AS mau meninjau ulang bea masuk baja (25%) dan aluminium (10%).

Apalagi, lanjutnya, produk besi baja dan aluminium dari Indonesia bukanlah pesaing produk lokal Paman Sam. Besi baja dan aluminium buatan Tanah Air berbeda dengan yang diproduksi di AS, demikian pula pangsa pasarnya.

“Menanggapi permintaan Indonesia, Menteri Ross menyatakan bahwa pertimbangan positif akan diberikan jika produk Indonesia tersebut spesifik dan tidak diproduksi oleh industri dalam negeri AS,” tegas Enggar dalam keterangan resminya Kamis (26/7/2018).

Dalam kunjungan tersebut, RI dan AS sepakat merajut peta jalan untuk meningkatkan nilai perdagangan kedua negara menjadi US$50 miliar pada 2020, dua kali lipat dari pencapaian tahun lalu senilai US$25,9 miliar.

Sumber: Bisnis