• Fri, 20 July 2018
11 Jul
Kendalikan Impor

Senin, 9 Juli 2018


Ekonom Indef Bhima Yudhistira menyayangkan sikap pemerintah yang belum juga merespons pelemahan rupiah melalui kebijakan-kebijakan konkret.

“Pemerintah masih berputar-putar di wacana. BI sudah menempuh berbagai langkah yang lebih konkret, seperti menaikkan BI 7-DRRR, gencar menggelar twin operation di pasar valas dan SBN, serta melonggarkan GWM dan aturan LTV/FTV,” ujar dia.

Dalam situasi ini, menurut Bima, pemerintah mesti segera menjalankan kebijakan konkret untuk memperkuat sektor penghasil devisa, seperti pariwisata dan remitansi, dengan memberikan insentif perpajakan yang menarik.

Impor, kata Bima, juga perlu dikendalikan. Namun, pengendalian impor mesti dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan blunder ke industri, mengingat 74% total impor adalah bahan baku atau bahan penolong yang dibutuhkan manufaktur. Blunder tersebut dapat menggerus produktivitas ekonomi akibat naiknya biaya produksi industri, terutama jika tidak ada substitusi impor dari bahan baku lokal.

Spill over effect-nya ke inflasi karena harga jual produk naik. Muaranya bisa ke PHK karyawan. Ujung-ujungnya, pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa anjlok di bawah 5,1%. Itu akan memukul kepercayaan investor dan memicu berlanjutnya arus modal keluar (capital outflow),” tegas dia.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia