• Sat, 22 September 2018
10 Jul
BISNIS GULA : RNI Jajaki Segmen Produk Baru

Yustinus Andri DP Senin, 09/07/2018 02:00 WIB

JAKARTA — Guna mengatrol pemenuhan angka kebutuhan gula konsumsi nasional, salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pergulaan berencana melakukan diversifikasi produk.

Langkah tersebut dilakukan oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia/RNI (Persero). Direktur Utama RNI Didiek Prasetyo mengaku, proses diversifikasi bisnis produk gula tersebut dilakukan dengan melakukan kajian secara mendalam untuk memproduksi gula jenis chopstick.

“Saat ini masih dalam kajian dan belum kami eksekusi. Produk ini nantinya diharapkan bisa memberikan pilihan bagi masyarakat yang selama ini terbiasa dengan gula pasir,” ungkapnya kepada Bisnis belum lama ini.

Dia menuturkan, produk gula yang serupa dengan varian gula batu tersebut nantinya akan dijual di pasar dalam negeri.

Adapun, dalam rancangan awalnya, 1 batang gula chopstick akan setara dengan 2 sendok teh gula kristal putih (GKP). Akan tetapi, dia belum dapat menyebutkan kapan kajian tersebut selesai.

Didik mengatakan gula jenis baru itu bakal diproduksi dari tebu hasil panen di areal perkebunan baru RNI di kawasan Indonesia Timur.

Dia mengungkapkan RNI berencana membuka perkebunan tebu baru di Indonesia Timur. Hanya saja, dia belum dapat mengumuman lokasi yang akan dijadikan perkebunan baru tersebut.

“Produk ini adalah upaya kami menciptakan produk bernilai tambah. Di sisi lain, dengan adanya produk baru dan hasil produksi tebu dari perkebunan baru, dapat menjadi salah satu solusi menekan defisit kebutuhan gula konsumsi nasional.”

Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan upaya penambahan lahan tebu yang diikuti oleh diversifikasi produk gula berpotensi menjadi solusi di tengah defisit konsumsi gula nasional.

Pasalnya, pada tahun lalu kebutuhan gula konsumsi nasional mencapai 3,5 ton dan didominasi oleh GKP. Adapun, produksi GKP hanya sekitar 2,2 juta ton.

“Utamanya lahan perkebunan tebu harus ditambah dulu. Dari situ, nanti akan muncul peluang baru dari sektor gula komersial.” (Yustinus Andri)

Editor : Wike Dita Herlinda

(Sumber : Bisnis.com)