• Fri, 17 August 2018
06 Jun
INDUSTRI BAJA : Krakatau Steel Andalkan Kontrak Panjang

Anggara Pernando Selasa, 05/06/2018 02:00 WIB

Proses produksi di pabrik milik Krakatau Steel.

JAKARTA—Krakatau Steel mengandalkan kontrak-kontrak jangka panjang sebagai langkah antisipasi untuk menangkal pasar baja impor.

Banjirnya baja impor merupakan efek berantai dari proteksi pasar Amerika Serikat. Pemerintah AS menetapkan bea masuk 25% untuk produk baja dari Kanada, Meksiko dan Uni Eropa per 1 Juni 2018. Sebelumnya, AS juga telah menetapkan tarif serupa untuk baja dari China.

Purwono Widodo, Direktur Pemasaran Krakatau Steel, mengatakan akibat kebijakan ini maka industri baja nasional harus dapat bertahan dari serbuan impor sekaligus mengambil kesempatan. Anak usaha Krakatau Steel yang bergerak pada baja hilir akan didorong untuk mengisi celah yang ditinggalkan oleh mitra dagang utama AS itu.

"Ini bisa jadi peluang bagi industri hilir perusahaan. Misal bagi pabrikan pipa dengan dukungan bahan baku HRC dari Krakatau Steel," kata Widodo, Senin (4/6/2018).

Untuk mengantisipasi membanjirnya produk hilir dari negara yang dikenai bea masuk, Krakatau Steel berupaya membuat ikatan yang lebih kuat bagi konsumen. Purwono menyebutkan beberapa upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak kontrak jangka panjang.

Selain itu, perusahaan memberikan dukungan dengan memperkuat dukungan teknis bagi mitra usaha. Pada saat yang bersamaan, perusahaan memberikan peningkatan servis.

"Kami juga membenahi sitem distribusi," katanya.

Sepanjang kuartal I/2018, Krakatau Steel mencatatkan penjualan sebanyak 607.130 ton. Jumlah ini meningkat 24,27% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pada periode tahun lalu, penjualan perseroan mencapai 488.558 ton.

Dari jumlah ini, permintaan baja hot rolled coil (HRC) meningkat signifikan. Tercatat baja HRC terjual sebanyak 328.879 ton atau naik 42,79%. Perusahaan juga mendulang kenaikan penjualan pipa sebesar 18,51% atau menjadi 31.488 ton dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Sementara itu dalam kesempatan terpisah, asosiasi pengusaha baja mendesak pemerintah mempercepat langkah menjaga kestabilan ekonomi sehingga tidak mengganggu bisnis.

Hidayat Triseputro, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA), menuturkan pihaknya masih berharap industri baja masih bisa tumbuh sesuai prediksi, yaitu lebih dari 7% tahun ini. Sepanjang tahun lalu, permintaan baja domestik berada di kisaran 13,5 juta ton dan diperkirakan menembus 14,5 juta ton pada 2018.

Asosiasi juga berharap pemerintah dapat membatasi masuknya produk impor. Apalagi saat ini terdapat pelonggaran seperti yang diatur Permendag Nomor 22 Tahun 2018 berupa dihapuskannya pertimbangan kementerian teknis sebelum impor.

Editor : Ratna Ariyanti

 

(Sumber : Bisnis.com)